Ramadhan yang Kurindukan


Artikel ini ditulis oleh Mulkan Kautsar Sofyan untuk kompetisi #MyFastingStory

 

Sebagai seorang muslim, bulan ramadhan adalah waktu yang paling aku tunggu. Tidak hanya sebagai bulan yang penuh keberkahan, ramadhan juga menjadi moment untuk pulang kampung. Ramadhan setiap tahun selalu berbeda bagiku. Pengalaman ramadhan di 3 tahun lalu itu salah satu yang paling kuingat. Saat itu aku masih mahasiswa baru yang merantau dan belum memiliki kendaraan untuk kemana mana. Pernah saat hampir berbuka puasa tidak ada penjual makanan di sekitar tempat tinggalku saat itu. Akhirnya aku jalan kaki dengan jarak yang jauh dan akhirnya bisa menemukan penjual sate padang. Mungkin waktu itu penjual makanan banyak yang pulang kampung. Karena takut tidak ada makanan buat sahur jadi aku menyimpannya dalam rice cooker. Rasanya memang tidak lagi enak tetapi itulah pengorbanan.

via seputaraceh.com
via seputaraceh.com

Ramadhan tahun lalu juga menjadi pengalaman yang tidak pernah terlupakan. Sehari sebelum aku akan pulang kampung, nenekku sakit dan harus dirujuk ke Rumah sakit di kota Banda aceh. Aku mengurungkan niatku untuk mudik dan memutuskan menjaga nenek. Dua puluh hari aku harus tidur dirumah sakit dan semua aktivitas harus kulakukan disana. Sahur dan berbuka puasa disamping nenek yang belum sadarkan diri dan mandi di toilet rumah sakit. Pindah dari satu kamar ke kamar yang lain sudah beberapa kali aku rasakan, apalagi tidur di lantai dimana orang orang lalu lalang disitu. Aku juga harus merasakan rasa kantuk yang luar biasa lalu digusur setiap pagi karena kamar pasien harus dibersihkan. Tepat setelah 20 hari disana nenek meninggal dunia, aku sangat sedih saat itu karena kehilangan nenek yang telah mengajariku banyak hal. Ketika jenazah nenek dibawa pulang ke kampung, aku harus duduk disampingnya dalam perjalanan selama 5 jam. Rasanya saat itu semuanya jadi campur aduk, apalagi aku sedang berpuasa dan aku harus mual karena mabuk perjalanan.

via aceh.tribunnews.com
via aceh.tribunnews.com

Untuk Ramadhan kali ini aku bisa merasakan pengalaman yang baru. Akhirnya ayah mengizinkanku pulang naik motor dari Banda aceh ke Matangglumpangdua. Perjalanan sejauh 232 Km harus kutempuh dan paling seru di pegunungan Seulawah. Apa yang aku lakukan di kampung? Mengupas pinang. Iya, di daerahku pinang menjadi salah satu komoditi yang bernilai jual. Dalam mengupas pinang membutuhkan keahlian khusus karena kalau salah bisa melukai jari tangan. Selain itu, akhirnya aku bisa merasakan kembali memanjat pohon setelah lama tidak melakukannya. Aku bisa memetik mangga dan itu memiliki keasikan tersendiri.

Sedikit bercerita tentang tradisi dalam menyambut bulan ramadhan di daerahku. Sebelum masuk bulan ramadhan, dua hari sebelumnya ada tradisi ‘Meughang ubeut” disini yaitu setiap keluarga akan makan enak dan bahkan liburan bersama di tempat wisata. Esoknya akan dimulai “Meughang rayeuk”, hari itu di semua rumah akan ada tradisi memasak daging sapi. Jadi makan enak dulu sebelum mulai berpuasa. Kemudian dalam sebulan ramadhan setiap keluarga punya jatah untuk menyediakan makanan berbuka puasa di mesjid dan di pesantren. Ada juga kebiasaan lainnya yaitu setiap habis sahur dan shalat shubuh, anak anak serta remaja akan lari pagi bersama teman temannya. Kami biasa menyebutnya dengan istilah ‘asmara shubuh”.

via nasional.news.viva.co.id
via nasional.news.viva.co.id

Suasana Ramadhan sekarang sangat berbeda dengan waktuku kecil dulu. Saat dulu aku kecil, kami anak anak masih sangat kuat untuk main diluar rumah walaupun berpuasa dalam keadaan cuaca yang panas. Jadi menjalani ramadhan menjadi sangat menyenangkan dan tidak terasa sedang berpuasa. Tapi sekarang aku hampir tidak menemukan anak anak yang bermain bersama lagi. Sepertinya gadget benar benar merubah manusia. Aku selalu rindu akan bulan ramadhan. Rindu untuk berkumpul bersama keluaraga dan makan masakan ibu. Perbedaan lain yang kurasakan yaitu anggota keluarga kami menjadi tidak lengkap kali ini. Dulu setiap ramadhan ada yang ditunggu oleh ayah dan ibu untuk pulang kerumah. Kami 7 bersaudara dan saat itu 4 diantaranya merantau ke Banda aceh untuk melanjutkan pendidikan. Kini ibu dan ayah hanya tinggal bersama adik bungsuku. Hal ini karena kami semua sudah berpencar di Jakarta, Sabang dan Banda aceh. Aku rindu mereka semua dan aku harap mereka segera pulang ke rumah. Nah itulah pengalamanku. Bagaimana dengan pengalaman Ramadhan kalian?

Komentar:

Komentar