Psst, Mau Tahu Sejarah Munculnya THR Menjelang Hari Raya?


Menjelang lebaran, ada 2 hal yang ditunggu-tunggu oleh para pekerja yang berdomisili di Indonesia. Yaitu mudik dan THR. Hayo, pasti kamu bakal setuju sama 2 hal tersebut, ya kan? Rasanya ada yang kurang gitu kalau 2 hal itu tidak kita dapatkan/lakukan. Nah, mumpung pas momen-momen sebelum lebaran nih, seenggaknya kamu harus tahu asal muasal adanya THR, dan kenapa THR hanya ada di Indonesia aja.

via bintang.com

Ada postingan di sosial media yang menyatakan kalau sebenarnya THR itu duit gaji kita yang ditahan oleh perusahaan. Kayak gini nih postingannya, pernah tahu?

via kaskus.co.id

Tapi kalau cuma gitu aja sih, harusnya nggak hanya ada di Indonesia, kan? Kenapa negara lain nggak ngelakuin hal itu juga? Kenapa sampai diatur di undang-undang? Kenapa hanya ketika menjelang hari raya keagamaan masing-masing agama? Dan kenapa-kenapa yang lain.

Sebenarnya ada sejarah panjang mengenai asal muasal THR, dan kenapa bisa sampai dijadikan undang-undang.

Jadi, awalnya THR ini digagas oleh Perdana Menteri sekaligus Menteri Dalam Negeri Indonesia ke-6, yaitu Soekiman Wirjosandjojo. Beliau merasa bahwa pemberian THR di akhir Ramadhan akan membantu mensejahterahkan PNS-PNS di kabinet beliau. Bahkan, nggak hanya diberi uang sebesar Rp 125 РRp 200 (atau sekitar Rp 1,1 juta РRp 1,75 juta) aja, mereka juga diberi beras tiap bulannya.

Soekiman Wirjosandjojo via republika.co.id

Nah, sayangnya, karena pemberian THR ini hanya dilakukan oleh Pak Soekiman kepada pegawai di kabinetnya aja, otomatis pemberian THR ini diprotes oleh masyarakat, termasuk para buruh. Mereka menganggap pemerintah tidak adil karena hanya orang tertentu saja yang diberi THR, bahkan sampai ada yang memberikan stigma kalau dia ingin menjilat para PNS yang saat itu didominasi oleh kalangan ningrat dan TNI. Bahkan, para buruh juga sempat mogok kerja pada saat itu.

Ilustrasi demo buruh via liputan6.com

Nah, berterimakasihlah kepada mereka-mereka yang melakukan demo. Karena berkat usaha mereka, sekarang semua pekerja di Indonesia berhak mendapatkan THR, jadi bukan karena THR itu adalah gaji kamu yang ditahan, meski terdengar masuk akal. Bahkan THR sampai diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.PER.04/MEN/1994 tentang Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan Bagi Pekerja di Perusahaan mengenai siapa yang berhak menerima, besaran nominal THR yang diterima, kapan THR diberikan, dan detail-detail lain dibahas di UU tersebut.

via maulanamustopa.blogspot.co.id

Ringkasnya sih, semua orang yang telah bekerja di perusahaan tersebut minimal 3 bulan berhak mendapat THR, kalau 3 bulan sampai sebelum 1 tahun besarnya disesuaikan, kalau setahun atau lebih, minimal sebesar satu kali gaji pada saat hari raya keagamaan masing-masing karyawan. Jadi, untuk THR pekerja beragama Islam diberikan pada saat Idul Fitri, Kristen pada saat Natal, Hindu pada saat Nyepi, Buddha pada saat Waisak, dan Kong Hu Cu pada saat Imlek.

Nah, sekarang kamu udah tahu kan sejarah munculnya THR di Indonesia, dan ternyata sejarahnya lebih panjang daripada struk belanjaan yang kamu habiskan menggunakan duit THR, ya. Haha. Bro, jangan biarkan orang lain termakan oleh teori-teori cocoklogi, ya. Kamu bisa melakukannya dengan cara membagikan postingan ini.

Referensi dari sini dan ini

Komentar:

Komentar