Mengintip Perbedaan Anak SD Dulu dan Sekarang, Bisa Bikin Nostalgia, Nih


Perkembangan zaman tentu bisa membuat perilaku dan kebiasaan orang turut berubah juga. Yang namanya perubahan pun pastinya terjadi pada semua orang, nggak terkecuali anak-anak Sekolah Dasar.

Nah, kali ini kita akan menengok perbedaan antara anak SD era 90-an/awal 2000-an dan anak SD zaman sekarang. Nggak usah berlama-lama. Yuk, kita langsung intip.

1. Senangnya bermain gimbot sambil jongkok

56bc4a8a85cb71455180426enjoy_play_gameboy_by_dhikx
via indogamers.com

Anak SD dulu kalau bisa main gimbot atau gasing aja girangnya bukan main. Belum lagi kalau ada teman yang mengajak bermain Nintendo, Sega, atau PS 1 di rumahnya. Ibarat mendapat durian runtuh.

Tapi sebenarnya, anak-anak SD dulu tertarik juga bermain permainan yang melibatkan aktivitas fisik (kalau nggak bisa disebut lebih senang bermain permainan semacam itu). Kucing-kucingan, layangan, atau sekadar bersepeda bersama teman-teman merupakan sedikit dari permainan yang digemari mereka.

Sedikit banyak berbeda dengan anak-anak kecil zaman sekarang yang kebanyakan sudah difasilitasi berbagai perangkat gawai/gadget atau konsol yang jauh lebih canggih oleh orangtuanya. Yup, mereka cenderung lebih suka menghabiskan waktu di depan layar dibandingkan bermain di luar bersama teman-teman sebayanya. Kalaupun mereka bermain di luar, mungkin mereka nggak akan lupa membawa gawai mereka. Walhasil? Di luar rumah pun mereka sibuk memainkan gawai masing-masing, hehehe.

Terkecuali mereka yang berasal dari keluarga sangat mampu, mungkin anak SD dulu akan menerima omelan dari orangtua kalau mereka meminta “peralatan canggih”.

“Ini anak minta yang bukan-bukan aja”, kata para orangtua sambil geleng-geleng kepala. “Sekolah dulu yang bener,  Dek. Nanti kalau sudah besar dan sukses, kamu bisa beli apa saja yang kamu mau.”

2. Tatang S adalah penulis karya-karya masterpiece

petruk
via segudangbuku.blogspot.com

Siapa anak-anak zaman dulu yang tidak mengenal majalah Bobo atau komik Petruk-Gareng karya Tatang S? Dua hal itu seolah menjadi bacaan wajib bagi kebanyakan anak SD dulu. Well, ngggak cuma itu sih, karena dulu mereka pun sudah mengenal komik-komik impor Jepang, seperti Detective Conan, Doraemon, dll.

Sekarang? Nampaknya sinetron sudah mengambil alih dominasi bacaan-bacaan di atas. Tapi, itu juga hanya berlaku bagi mereka yang suka sinetron, sih. Toh, bahkan nggak semua orang dewasa senang menonton drama penuh prahara yang disuguhkan sinetron.

3. Minggu pagi, saatnya menonton kartun

Doraemon
via thangtd.com

Nah, poin yang satu ini masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Sinetron memang sudah berseliweran di layar kaca bahkan sejak  dekade 90-an dan banyak anak kecil yang suka menontonnya bersama orangtua mereka. Namun, rasanya nggak ada yang menyangkal arti penting tontonan seperti Panji Manusia Millenium atau Saras 008, yang meskipun tampak konyol jika kita melihatnya saat dewasa, tapi sangat kita tunggu-tunggu saat kita masih bocah ingusan.

Dan itu semua masih kalah dibandingkan kartun-kartun yang tayang setiap hari minggu pagi. Kartun seperti Ninja Hattori, Crayon Sinchan, Lets & Go, dan masih banyak lainnya bisa membuat anak SD kala itu rela bangun pagi-pagi sekaligus membuat mereka menjadi pemirsa setia televisi di hari libur. Bahkan, terkadang omelan orangtua untuk membantu mereka nggak bisa membuat anak-anak ini berpaling dari layar televisi.

4. Malu-malu kucing

anak-sd
via socialtextjournal.com

Ritual “perjodohan” dengan lawan jenis bisa dibilang salah satu momok menakutkan bagi anak-anak SD zaman dulu. Lebih menyebalkannya lagi, jika seorang anak semakin kuat menolak “perjodohan” itu, semakin bernafsulah teman-teman untuk terus menggodanya.

Waktu pun bergulir, dan kelihatannya anak-anak SD zaman sekarang inisiatifnya sudah meningkat. Ritual “perjodohan” pun lama-lama hanya tinggal kenangan. Aaah… efek sinetron sudah menjalar ke mana-mana sepertinya.

5. Sepeda merupakan andalan dalam menyusuri jalanan (kompleks/desa)

berangkat-sekolah
via harnas.co

“Ini sepeda baruku, lho. Baru dibelikan ayah kemarin,” kata seorang bocah SD tahun 90-an. Setelah memamerkan sepedanya pada kawan-kawannya, meluncurlah anak itu menyusuri jalanan dengan sepeda barunya. Dia berkendara dengan hati gembira, namun tidak serta-merta menurunkan kewaspadaannya. Angin bertiup bersilir-silir, menerpa wajah anak itu yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Anak itu terus berkendara hingga tiba-tiba ia berhenti mengayuh pedal sepedanya tidak jauh dari rumahnya.

Ia lantas berpikir, “Apa 20 tahun kemudian anak-anak seusiaku masih senang mengendarai sepeda?”

20150531151012027
via beritasatu.com

Umm… sepertinya sepeda saja tidak cukup untuk memuaskan hati anak-anak zaman sekarang.

Itulah sekelumit perbedaan antara anak SD 90-an/awal 2000-an dengan anak SD sekarang. Sebenarnya, masih banyak perbedaan-perbedaan yang ada dan sayangnya tidak ditulis di sini. Kira-kira apa lagi, ya?

Komentar:

Komentar