Bagai Berlian yang Tersimpan Rapat, 6 Kampung Adat Flores Ini Punya Keindahan yang Sangat Memesonakan


Flores kaya akan tradisi. Selain tenun dan tari-tarian, salah satu yang eksotis adalah kampung adatnya. Kampung adat yang paling terkenal adalah Waerebo. Tapi, Flores masih punya banyak kampung adat yang bagus-bagus dan masih jarang diketahui orang. Apa saja daftarnya? Yuk, mari kita telusuri.

1. Kampung Waerebo

waerebo1.jpg (600×350)
kampung waerebo via kalimantana.wordpress.com

Lokasinya berada di gunung, di Kabupaten Manggarai. Orang-orang sering menyebutnya kampung di atas awan. Lantaran berada di ketinggian, kampung ini sering tertutup kabut dan punya udara yang sangat dingin. Hanya ada tujuh rumah utama di sana, yang disebut sebagai Mbaru Niang. Secara historis, nenek moyang mereka berasal dari Minangkabau, Sumatera.

Untuk menuju kampung ini perlu trekking kurang lebih 3-4 jam. Kontur jalannya cukup sulit bagi pemula. Namun ketika sampai di atas, semua jerih payah akan terbayar full. Panoramanya apik. Dijamin mata kamu akan terpuaskan melihat barisan gunung dan lanskap karpet alam yang membentang.

2. Kampung Wologai

Kampung-adat-Wologai.jpg (640×400)
kampung wologai via phinemo.com

Kampung adat ini berada di Kecamatan Detusoko, Ende, Flores, NTT. Memang tak banyak wisatawan yang tahu keberadaannya. Padahal, sama dengan Kampung Bena dan Waerebo, Kampung Wologai menyimpan tradisi yang tak kalah menarik. Kampung yang berada di tengah lembah dan dikelilingi bukit-bukit hijau ini usianya sudah lebih dari 800 tahun.

Hampir serupa dengan rumah adat di Flores lainnya, Wologai juga memiliki keunikan bangunan. Bentuk rumahnya membentuk kerucut. Tata letak bangunannya melingkar dan bertingkat-tingkat. Makin ke atas, pelatarannya makin sempit, membentuk kerucut.

Dengan jarak kurang lebih 37 km dari Kota Ende, butuh perjuangan melewati jalan berliku jika kamu ingin menyambangi Kampung Wologai.

3. Kampung Ruteng Pu’u

objek-wisata-ntt_80261_290_kampung_adat_ruteng_puu.jpg (800×533)
kampung ruteng puu via nttprov.go.id

Kampung tradisional ini berlokasi di Ruteng, Flores bagian barat. Persisnya di Kelurahan Golo Dukal, Langke Rembong, Manggarai, kira-kira 4km dari Ruteng. Waktu tempuhnya hanya 10 menit menggunakan kendaraan.

Di sana, pengunjung bisa menyaksikan keaslian rumah adat Mbaru Niang. Dapat juga menyaksikan upacara tradisional yang digelar sebagai wujud syukur terhadap pemberi hidup. Biasanya masyarakat menyembelih kerbau atau sapi. Soal tata bangunan, desa ini memiliki halaman bulat. Di tengahnya terdapat sebuah altar yang dikelilingi bebatuan rapi.

4. Kampung Gurusina

1555381gurusinaa1780x390.jpg (780×390)
kampung gurusina via kompas.com

Kembali ke Ngada. Kampung ini berlokasi di Kecamatan Jerebuu, 16 km dari Aimer dan 21 km dari Bajawa. Mirip dengan Kampung Bena, Kampung Adat Gurusina terletak di balik Gunung Inerie. Jadi, bila bertandang ke sana, pengunjung akan dihadapkan oleh rupa alam yang indah dengan komposisi yang tepat.

Tipikal bangunannya unik. Di rumah utama, terdapat hiasan di atas atap sebagai penandanya. Sedangkan di rumah-rumah lain, terdapat pajangan tanduk kerbau. Kampung adat ini disebut sebagai kampung tertua di Flores karena sudah ada sejak 5.000 tahun lalu.

Ada 33 rumah yang berdiri di sana. Masyarakatnya memiliki alat musik khas bernama begho yang menyerupai gitar dan memiliki enam senar.

5. Kampung Bena

Detik_IMG_2780.JPG (640×480)
kampung bena via wikimedia.org

Dengan lokasinya yang berada di tengah Flores, tepatnya di Kabupaten Ngada, Kampung Bena salah satu kampung adat yang terkenal di Flores. Ini adalah perkampungan megalitikum yang terletak di puncak bukit berlatar pemandangan Gunung Inerie.

Kampung ini memiliki 40 rumah, dan semuanya berhadapan. Pintunya berada di sisi utara, sedangkan ujungnya berada di selatan.

Penduduk asli Kampung Bena termasuk suku Bajawa. Mereka umumnya bekerja di ladang, bagi yang laki-laki. Sementara itu, para perempuan bekerja di rumah, menenun kain. Produk masyarakatnya, selain kain adat, adalah kopi yang terkenal dengan kopi Bajawa.

Di kampung ini, warganya ramah-ramah dan terbuka terhadap pendatang. Tak perlu sungkan untuk berinteraksi dengan mereka. Tempat ini sudah kerap dikunjungi oleh pelancong, baik dari dalam maupun luar negeri.

6. Kampung Wolojita

img_20120312140808_4f5da0d8d9e6b.jpg (600×400)
kampung wolojita via detik.net.id

Ende memang kaya akan kampung adat. Di kampung ini, masyarakatnya memiliki tradisi unik, yaitu menjadikan tetua adatnya mumi. Selain itu, jenazah masyarakat setempat disimpan di atas pohon yang biasanya terletak di belakang perkampungan. Maksudnya ialah sebagai penghormatan. Mirip dengan yang terjadi di Trunyan atau Toraja. Adapun sebuah ritual yang dilakukan untuk melakukan penghormatan terhadap tetua yang sudah meninggal. Umumnya ritual itu dilakukan setiap tahun.

Siap datang ke Flores dan jelajahi kampung adat? Siapkan bujet yang cukup ya.

Komentar:

Komentar