Anak Petinggi Google Aja Nggak Megang Gadget, Kok Bisa?


Sejak kapan kalian mengenal yang namanya teknologi? Apakah di bangku SD? SMP? SMA? Kuliah? Atau bahkan ketika kalian mulai masuk kerja? Sebenarnya jaminan apa yang bisa diberikan jika kita tahu lebih dulu mengenai teknologi? Akankah kita menjadi seperti mas Ricky Elson yang mampu membuat mobil listrik? Atau bahkan hanya sebagai operator warnet di dekat rumah? Well, let’s discuss it.

Perkembangan teknologi yang maju semakin pesat menyebabkan sekolah-sekolah di negara kita mengajarkan ilmu Informasi Teknologi (IT) sejak bangku Sekolah Dasar (SD). Memang tujuannya baik, yaitu agar anak didik mengenal dan melek teknologi lebih cepat, tapi apakah itu menjamin bahwa nantinya mereka akan menjadi anak bangsa yang dapat diandalkan?

Melek teknologi via te.net.id

Untuk menjawab pertanyaan tersebut mungkin kita harus melanglang buana sejenak ke negeri adikuasa, Amerika Serikat (AS). Kenapa harus kesana? Buat kalian yang berkecimpung di dunia informasi teknologi pasti tahu yang namanya Silicon Valley. Yup, Silicon Valley adalah tempatnya perusahaan-perusahaan IT terkemuka di dunia. Misalnya, Adobe Systems, Apple Computer, Cisco Systems, eBay, Google, Hewlett-Packard, Intel, dan Yahoo!. Bahkan orang awam pun tahu perusahaan-perusahaan itu, yekan?

Silicon Valley via cimsec.org

Terus, apa hubungannya Silicon Valley sama pendidikan teknologi? Perlu kamu ketahui bahwa petinggi-petinggi perusahaan multinasional sekelas Google, Apple, Yahoo!, HP, dan lain-lain menyekolahkan anaknya ke sekolah yang bahkan tidak mengajarkan pendidikan teknologi. Mereka setuju dengan visi sekolah ini, yaitu komputer hanya akan menghambat kemampuan bergerak, berpikir kreatif, berinteraksi dengan manusia, hingga kepekaan dan kemampuan anak memperhatikan pelajaran.

Pelajaran gadget usia dini via hubpages.com

Sebenarnya nama sekolah ini apa sih? Penasaran ya… Nama sekolah ini adalah Waldorf School of the Peninsula. Di Waldorf ini para guru lebih mengedepankan aktivitas fisik, kreativitas, dan kemampuan ketrampilan tangan anak didik mereka. Meski banyak yang menentang metode pembelajaran di Waldorf, tetap saja masih banyak orang tua yang menyekolahkan anak mereka disini. Salah satu alasannya diungkapkan oleh Alan Eagle, yang bekerja untuk Google.

Alan Eagle (kedua dari kiri) saat perkenalan buku How Google Works via zimbio.com

“[Anak saya baik-baik saja, meskipun] tak tahu bagaimana caranya menggunakan Google. Anak saya yang lain, yang sekarang di kelas dua SMP, juga baru saja dikenalkan pada komputer,”

Eagle tidak mempermasalahkan pandangan orang lain tentang dirinya yang bekerja di perusahaan teknologi sedangkan anaknya sendiri baru mengenal teknologi lebih lambat dibanding teman-teman sebayanya.

“Misalkan saja saya seorang sutradara yang baru menelurkan sebuah film dewasa. Meski film itu didaulat sebagai film terbaik yang pernah ada di dunia sekalipun, saya toh tak akan membiarkan anak-anak saya menonton film itu kalau umur mereka belum 17 tahun.” lanjut Eagle.

Selain karena alasan yang diungkapkan diatas, guru di Waldorf juga mengatakan bahwa mengajarkan siswa bagaimana cara memakai komputer tidak akan membuat mereka menjadi pandai. Bahkan sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa menggunakan komputer dapat membuat anak menjadi lebih pandai.

Kegiatan outdoor Waldorf via private-schools.startclass.com

Karena menggunakan metode pembelajaran yang konvensional inilah ruang kelas di Waldorf begitu berwarna. Papan tulis penuh coretan kapur warna-warni, hasil rajutan anak didik, tumpukan kertas dan buku memenuhi ruang kelas ini. Bahkan tidak jarang mereka bermain-main tanah ketika jam istirahat. Waldorf memegang filosofi yang sangat sederhana, mereka mengajarkan bagaimana cara menjadi manusia yang sesungguhnya. Bukan manusia zombie yang tidak pernah lepas dari gadgetnya atau menghabiskan waktu produktifnya dengan tenggelam di dunia pergadgetan mereka.

Siswa Waldorf bermain di kebun via waldorfschoolgardens.com

Mungkin dari kalian ada yang bertanya, seberapa efektif kah pembelajaran tanpa komputer di Waldorf ini?

“94% siswa lulusan SMA Waldorf di Amerika Serikat di antara tahun 1994 sampai 2004 berhasil masuk di berbagai jurusan di kampus-kampus bergengsi seperti Oberlin, Berkeley, dan Vassar.”

Wow! Bener-bener wow! Keberhasilan mereka memang bukan hanya karena metode tersebut, tapi adanya guru yang berkualitas juga membantu anak didik memahami lebih cepat. Para siswa di Waldorf sendiri bukannya benar-benar buta teknologi, ada dari mereka yang suka menonton TV, atau membantu uji coba game baru bikinan ayahnya yang bekerja di perusahaan game. Mereka akan tetap mempelajari teknologi, tapi tidak terlalu dini. Biarkan mereka menikmati masa kecil mereka tanpa gadget dan ketika sudah memasuki masa remaja pun, teknologi masih bisa dipelajari dengan mudah. Hal ini diungkapkan sendiri oleh Eagle.

“Komputer itu sangat mudah. Kami di Google sengaja membuat perangkat yang ibaratnya bisa digunakan tanpa harus berpikir. Anak-anak toh tetap bisa mempelajari komputer sendiri jika usia mereka sudah dewasa.”

– Alan Eagle.

Berkat metode pembelajaran di Waldorf ini anak-anak Silicon Valley mengaku terganggu dan tidak nyaman ketika melihat orang-orang di sekitar mereka sibuk dengan gadgetnya dan tidak memperhatikan dunia nyata yang jelas-jelas ada di balik gadget mereka.

Sibuk dengan gadget via inhabitat.com

Coba bandingkan dengan anak di negeri kita saat ini, dari kecil mereka sudah punya gadget, bahkan orangtua pun menghibur bayi yang menangis menggunakan gadget agar mereka diam. Benarkah cara seperti itu? Silahkan kalian jawab sendiri. Hal itu menyebabkan mereka menjadi ketergantungan dan tidak bisa lepas dari gadget, atau yang bisa disebut sindrom nomophobia.

Penjelasan tentang nomophobia via trendhunter.com

Nomophobia (NO MObile PHOne foBIA) adalah penyimpangan psikis yang disebabkan oleh ketergantungan gadget yang menyebabkan penderitanya memiliki kecemasan yang berlebih ketika berpisah sebentar saja dari gadget mereka. Mereka akan kembali merasa nyaman ketika gadget sudah berada di tangan mereka kembali.

Dua faktor utama terjadinya nomophobia adalah sindrom FoMO (Fear of Missing Out) dan game addicted (kecanduan game). Yang dimaksud dengan FoMO adalah mereka khawatir dan takut apabila ketinggalan berita di lini masa sosial media, sehingga mereka akan selalu mengecek lini masa Facebook, Twitter, Instagram, Path, atau akun-akun sosial media lainnya. Sedangkan game addicted berarti mereka khawatir atau takut apabila tidak memainkan game, terlebih game online, entah itu takut ketinggalan war, hunting, ataupun farming.

Sindrom FoMO (Fear of Missing Out) via www.lifehacker.com.au

 

Jadi, tanyakan lagi kepada diri kalian sendiri. Maukah anak anda nantinya seperti itu?

 

Sumber : Hipwee

Komentar:

Komentar