Dulu dan Sekarang: Perjalanan Sejarah Seorang Bule di Tanah Abang


Lewat Foto Ia Jatuh Cinta Pada Tanah Abang

Pernah merasakan jatuh cinta ketika pertama kali melihat satu foto tempat yang padahal belum pernah didatangi? Itulah yang terjadi pada Sven Verbeek, seorang pria berkebangsaan Belanda. Semua berawal ketika ia sering mendengarkan cerita dari sang nenek, Welly van Garderen yang dulu pada zaman kolonial Belanda pernah tinggal di Tanah Abang, Jakarta. Selama 25 tahun Verbeek melakukan riset terhadap perkembangan Tanah Abang mulai dari masa kolonial Belanda hingga saat ini.

Sejak tahun 1863 hingga 1948, empat generasi leluhur Verbeek tinggal di kawasan Tanah Abang dan menempati rumah bernama Tanah Abang Heuvel atau Bukit Tanah Abang. Sang nenek menceritakan bagaimana ia menghabiskan masa kecilnya dengan berjalan-jalan tanpa alas kaki di sekitar sebelah rumah neneknya dan bagaimana ia bersama kakak lelakinya menyelinap ke luar di malam hari untuk membeli sirup susu dan kolang-kaling di Pasar Tanah Abang.

Kemudian setelah sang nenek meninggal, Verbeek mulai mencari foto-foto, arsip, dan peta di Belanda. Kemudian ia berkenalan dengan penulis Batavia In 19th Century Photographs, Scott Merrilles di tahun 2000. Semenjak itulah mereka saling berbagi ketertarikan terhadap foto-foto bernilai historis.

Mengulang Sejarah

 

 

Akhirnya setelah lama mengenal Tanah Abang melalui foto, Sven Verbeek menginjakkan kakinya pertama kali di Tanah Abang pada tahun 1995. Kemudian ia kembali pada Mei 2015 lalu bertepatan dengan hari ulang tahun ke 88 pernikahan kakek dan neneknya. Bersama Scott dan Sahabat Museum, Verbeek mengadakan tur sejarah di Tanah Abang. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, kali ini ia berfoto kembali di tempat yang sama dimana sang kakek dan neneknya pernah berfoto di tahun 1927.

Setelah melihat dan membandingkan sendiri kondisi Tanah Abang pada zaman kolonial di tahun 1927 dan sekarang ini di tahun 2015, Tanah Abang sangatlah berbeda jauh. Sudah tidak terlihat lagi jejak Tanah Abang doeloe seperti yang ada di foto kakek dan nenek Verbeek. Ketika ditanya mengenai kesan Tanah Abang yang sekarang, Verbeek hanya mengatakan kota ini sangat padat, bising dan penuh keramaian. Ia sadar bahwa sesuai perkembangan penduduk Jakarta yang semakin bertambah, Tanah Abang pun harus mengikuti perubahan ini.

Verbeek menyayangkan banyak banguna peninggalan zaman Belanda yang kini sudah hancur dan dibangun bangunan baru. Ketika ia datang pertama kali di tahun 1995, ia mencatat dari total 25-30 bangunan Belanda, kini tidak sampai 5 bangunan yang tersisa. Bahkan rumah neneknya yaitu Bukit Tanah Abang ikut dihancurkan. Lebih lanjut Verbeek mengatakan bahwa ia tetap masih ingin berjalan-jalan menyusuri daerah Tanah Abang karena ia tahu bahwa dulu Tanah Abang merupakan kawasan yang indah. Melalui akun Facebooknya, ia membuat sebuah halaman perjudul Tanah Abang, disitulah ia membagi hasil risetnya dan ternyata respon pembaca terhadap posting tersebut sangat positif.

Komentar:

Komentar