Resolusi Tahun Baru Sering Gagal? Coba Kamu Gunakan 3 Cara Ini deh!

Mau sampai kapan resolusi tahun barumu nggak pernah berhasil?

Resolusi tahun baru 2019 adalah melanjutkan resolusi 2018 tentang resolusi-resolusi tahun 2017 yang belum tercapai sejak tahun 2016 untuk meneruskan resolusi 2015 yang dimulai pada tahun 2014.

Apakah kamu termasuk golongan manusia yang terus-terusan melanjutkan resolusi dari tahun-tahun yang lalu?

Coba jujur ya, sudah berapa persen resolusi tahun 2018 yang berhasil kamu taklukkan? Apakah banyak yang berhasil atau hanya tinggal angan-angan? Atau mungkin yang lebih parah, resolusi tahun baru sebelumnya nggak pernah ada yang beres, tapi kamu selalu semangat untuk membuat resolusi-resolusi baru seperti kutipan di atas?

via pixabay.com/JogiKenobi

Buat kamu yang suka gagal menyelesaikan resolusi tahun baru tapi tetap nggak punya malu untuk terus membuat resolusi lagi, ada kabar gembira nih. Tahu nggak kalau kamu bisa “memaksa” otak untuk melakukan sesuatu? Untuk melakukannya, ada 3 cara yang bisa kamu lakukan. Apa saja itu?

1. Reset kebiasaan lama yang buruk

via pixabay.com / TeroVesalainen

Menurut jurnalis Charless Duhigg dalam bukunya yang berjudul The Power of Habit: Why We Do What We Do in Life and Business, tubuh kita punya tiga rangkaian tahapan yang digunakan otak kita untuk membentuk sebuah kebiasaan (habit loop). Langkah-langkah tersebut adalah cue/sinyal (bangun tidur dan sadar kalau sekarang weekend), routine/rutinitas (menghabiskan waktu di media sosial), dan reward/hadiah (tidur lagi).

Kalau resolusi tahun barumu adalah menurunkan berat badan, maka sudah sewajarnya kalau kamu harusnya mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik. Memang tidak mudah. Oleh karena itu Duhigg menyarankan untuk memprogram ulang kebiasaan burukmu dengan memberi hadiah secara instan setelah kamu melakukan sebuah rutinitas.

Misalnya saya kasih contoh ya, kamu menentukan sinyal dengan cara meletakkan perlengkapan olahraga (mulai dari baju sampai sepatu di pinggir tempat tidur) sebagai pemicu kebiasaan. Setelah itu kamu bangun tidur, ganti baju, dan mulai olahraga. Ketika selesai berolahraga dan pulang ke rumah, saatnya menikmati sepotong coklat. Ketika kamu memakan coklat, otakmu akan merespons dan mulai melakukan adaptasi. Memakan coklat sebagai hadiah akan membuat endorfin dan endocannabinoid dalam tubuh terpicu dan membuatmu menjadi menikmati proses berolahraga.

Kalau kamu nggak suka coklat, silahkan kamu sesuaikan hadiahnya. Yang penting, jangan pernah menyentuh hadiah tersebut di luar kebiasaan yang kamu buat. Hadiah itu harus langsung kamu dapatkan setelah melakukan suatu kebiasaan, sehingga akan lebih berkesan karena hanya bisa kamu nikmati setelah beraktivitas.

2. Gunakan metode SMART

via vignette.wikia.nocookie.net

Beberapa penyebab gagalnya resolusi adalah target yang kamu canangkan kurang spesifik. Ditambah lagi langkah-langkah untuk mencapai target tersebut kurang mendetail. Resolusi mainstream seperti berhenti merokok atau menurunkan berat badan rawan sekali untuk mengalami kegagalan karena dua alasan di atas.

Nah, untuk mengatasi hal tersebut, kamu bisa menggunakan metode SMART:

Specific (kamu tahu bagaimana melakukannya)
Measurable (kamu dapat mengukurnya)
Action-oriented (berdasarkan tindakan nyata, bukan perasaan)
Realistic (kamu tahu itu bisa kamu lakukan)
Time-defined (punya rentang waktu yang jelas)

Psikolog Randy J. Paterson menuliskan pada bukunya How to be Miserable: 40 Strategies You Already Use, bahwa metode SMART dapat membuat tujuan kita menjadi lebih efektif dan membuat tujuan akhir lebih mudah untuk dikelola.

“Terus cara menerapkan SMART ke resolusi tahun baru kita seperti apa? Kasih contoh dong, please….”

Jadi gini, ambil contoh resolusi tahun baru berhenti merokok ya. Jangan membuat resolusi seperti berhenti merokok atau mengurangi rokok, tapi pisah menjadi beberapa bagian kecil-kecil secara berjangka. Contohnya, kalau selama ini kamu bisa menghabiskan satu slop dalam sehari, pasang target untuk satu bulan pertama bahwa kamu akan menghabiskan satu slop selama satu minggu. Kalau berhasil, turunkan lagi bulan berikutnya menjadi satu slop selama dua minggu.

Dengan merencanakan target seperti ini, kamu bisa melakukan hal secara spesifik, dapat diukur, realistis, dan punya jangka waktu yang jelas. Target seperti inilah yang sesuai dengan penerapan metode SMART.

3. Cari sesuatu yang baru

via pixabay.com/pixel2013

Seiring berjalannya waktu, pasti ada kalanya kita merasa jenuh dengan apa yang selama ini menjadi rutinitas. Waktu awal Januari menjalani resolusi tahun baru dengan penuh semangat, pas masuk Maret udah mulai melambat. Untuk mencegah penurunan motivasi ini menjadi permanen, salah satu cara yang bisa kamu lakukan adalah terus menggali dan mencoba hal-hal baru.

Hal-hal yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya dalam menjalani rutinitas, ternyata mampu merangsang area pada otak yang bernama substantia nigra/area tegmental ventral (atau singkatnya biasa disebut SN/VTA). Karena SN/VTA ini merespons suatu kebaruan jauh lebih baik dibandingkan area lain, maka di saat kita melakukan hal baru di luar rutinitas, kita akan merasakan kebahagiaan sama halnya seperti kita mendapatkan reward. 

Kebahagiaan inilah yang bisa dijadikan sebagai pemicu bagi kita untuk terus menjalankan resolusi yang sudah direncanakan sebelumnya. Bentuk kebaruannya bisa bermacam-macam, contohnya kalau resolusimu ingin hidup sehat, kamu bisa mencoba olahraga yang belum pernah kamu coba atau mencoba jalur lari yang berbeda dengan jalur yang biasa kamu tempuh.

Tiga cara di atas memang bisa membantu kita untuk menyelesaikan resolusi yang telah tertunda bertahun-tahun lamanya, namun nggak ada artinya kalau kamu nggak punya keinginan untuk memenuhinya. Bikin resolusi tapi hanya untuk formalitas, buat apa?

4 Shares

Komentar:

Komentar