Mendeteksi Informasi dan Berita Hoaks Lebih Gampang dengan 5 Cara ini

Tinggal orangnya aja mau menerapkan atau nggak

Berkat perkembangan infrastruktur teknologi informasi yang cukup pesat, hampir semua orang Indonesia sudah mampu menikmati internet. Perkembangan infrastruktur tersebut berbanding lurus dengan melimpahnya informasi yang bisa diakses oleh para netizen. Jadi, selaku netizen yang budiman, kita harus pintar-pintar memilih dan memilah informasi. Jangan sampai kita malah mendapat dan mempercayai informasi palsu alias hoaks.

via tempo.co

Kalau percaya terus disimpan sendiri sih mungkin dampaknya nggak begitu besar. Tapi, ketika ada satu orang yang percaya terus disebarkan, maka jumlah orang yang percaya bisa bertambah berkali-kali lipat. Dan ketika jumlah orang yang percaya itu sudah banyak, maka bisa dipastikan bakal timbul kericuhan. Habisnya yang namanya informasi dan berita hoaks itu pasti cenderung negatif, sih. Coba deh sebutkan informasi dan berita hoaks yang nggak negatif. Kalau ada, tulis di kolom komentar, ya.

Balik lagi ke pembahasan soal hoaks, sebenarnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memeriksa apakah informasi yang kita dapatkan itu asli atau palsu. Gimana caranya?

1. Periksa sumber

via slamsr.com

Cara pertama ini adalah cara yang paling mudah untuk dilakukan. Ciri-ciri informasi hoaks itu biasanya didapat dari sumber tidak resmi (misalnya grup Whatsapp), judul yang cenderung hiperbola, informasi yang dibagikan lengkap dari judul sampai penutup tanpa menyertakan alamat web informasi tersebut didapatkan, dan isinya berupa opini atau dugaan semata.

2. Periksa alamat website

via tribunnews.com

Katakanlah mendapat informasi yang mirip dengan poin pertama, tapi yang ini ada alamat webnya. Informasi yang seperti ini biasanya berupa berita atau lowongan pekerjaan. Kalau dapat informasi seperti ini, coba periksa alamat websitenya. Apakah informasi tersebut berasal dari institusi resmi atau website pribadi? Apakah beritanya berasal dari kolom opini? Informasi hoaks cenderung menggunakan blog dan tidak menggunakan domain TLD seperti .com, .net, .org, .gov, .edu, atau semacamnya.

3. Periksa keaslian foto

via antero.co

Biasanya informasi hoaks juga menyertakan gambar supaya terlihat asli. Namun gambar yang tercantum pada informasi tersebut biasanya diambil dari situs lain atau berita lain yang tidak ada hubungannya sama sekali. Untuk mengatasi hal ini, kamu bisa memanfaatkan bantuan Google. Caranya tinggal drag and drop aja gambar yang ingin dicari ke kolom pencarian Google. Nantinya Google akan menampilkan gambar yang mirip dengan apa yang kamu cari.

4. Gabung grup medsos anti hoaks

via neilpatel.com

Saatnya menggunakan media sosial untuk tujuan yang mulia. Bergabunglah dengan grup-grup seperti Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci. Di grup tersebut kamu bisa menanyakan apakah informasi yang kamu dapatkan asli atau tidak. Selain itu, kamu juga bisa melihat klarifikasi yang dilakukan oleh orang lain terhadap suatu informasi.

5. Periksa di website turnbackhoax.id

via inet.detik com

Selain bergabung di grup medsos, kamu juga bisa memeriksa informasi yang kamu dapatkan di website tersebut. Situs yang dikelola oleh Masyarakat Anti Hoax Indonesia ini mengambil datanya dari Forum Anti Fitnah Hasut dan Hoax dan laporan pengunjung yang ada di link ini. Website ini didirikan pada tanggal 19 November 2016 sebagai bentuk kepedulian untuk menanggulangi informasi hoaks.

Informasi hoaks itu sebenarnya ada polanya, kok. Kalau kamu sudah terbiasa melakukan cara-cara di atas, pasti nanti bisa langsung membedakan informasi asli atau palsu hanya dengan sekali lihat. Kalau misal ragu, coba kamu cari di Google tentang informasi tersebut dan tambahkan “hoax” di belakangnya. Contohnya seperti “beras plastik hoax” atau “mata merah virus jerman hoax”. Biasanya sih sudah ada penjelasannya apakah informasi tersebut hoax atau tidak.

BTW, ada selentingan yang menarik terkait informasi hoaks ini. Kata salah satu netizen, yang harus lebih diwaspadai sebagai pelaku penyebaran hoaks sebenarnya bukan generasi milenial, tapi generasi tua yang baru mengenal gadget. Habisnya informasi hoaks ini bisa dengan mudahnya bertebaran di grup-grup keluarga, mulai dari orang tua sendiri, tante, atau pak dhe. Gimana pendapatmu? 

Komentar:

Komentar