Laptop yang Lemot dan Bermasalah Itu Enaknya Kita Ubah Jadi Android!

Sampai kapan betah pakai laptop lemot?

:

Di suatu hari yang cerah, saat saya lagi enak-enaknya ngaso di kostan, teman saya tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamar. Mukanya pucat pasi seakan-akan kolor yang dipakainya di balik celana mendadak hilang.

Tapi bukan itu masalahnya. Ternyata kepanikan teman saya itu ada hubungannya dengan laptop. Ya, laptop, bukan celana dalam!

“Bro, mau tanya dong,” kata teman saya yang sebut saja namanya Otong Surotong. “Laptop gue kok lemot banget ya? Padahal cuma dipakai buat browsing, dengerin musik, ngetik, sama main game ringan. Masuk OS aja lama banget, terus sering not responding sama force close gitu. Enaknya diapain ya ini laptop? Gue pernah instal ulang, tapi besoknya udah kumat lagi.”

Apa ada di antara kamu yang bernasib sama dengan Otong Surotong?

Kenapa laptop si Otong bisa lemot?

Sebenarnya saya pengin suruh Otong Surotong supaya beli laptop baru, biar saya bisa lanjut ngaso. Tapi saya ingat utangnya saja masih belum dibayar. Apa boleh buat, pikir saya setelah berdeham pelan secara cool abis, saya bakal jelaskan tetek bengeknya kenapa laptop dia lemot.

Biasanya masalah ini sering terjadi pada laptop atau PC yang usianya lumayan uzur, sekitar di atas 4 atau 5 tahun. Soalnya fitur yang ada di OS terus mengalami pembaruan melalui Windows Update, sedangkan hardware yang kita punya belum bisa menanganinya secara optimal. Jadi bisa dibilang kalau spesifikasi standar terus meningkat dari waktu ke waktu.

Dulu pakai RAM 2 GB sudah terkesan “Wow!”, sekarang usahakan harus 4 GB. Kalau dulu menggunakan media penyimpanan berupa HDD masih lancar, sekarang mau nggak mau kita harus berpaling ke SSD kalau ingin performa laptop whus-whus.


Kalau usia laptop kamu di bawah 4 tahun tapi sering bermasalah, itu karena faktor pemakaian atau ada masalah dari aplikasi yang sebelumnya kamu instal. Atau… bisa juga laptop kamu terinfeksi virus atau malware.

Solusinya…

Normalnya sih, untuk mengatasinya, kamu harus memperbarui hardware (tambah RAM atau pindah ke SSD); scan pakai antivirus dan antimalware; atau kalau kamu sudah frustrasi, instal ulang.

Cuma masalahnya, terkadang cara terakhir pun masih belum bisa menyembuhkan. Makanya saya kasih tahu si Otong Surotong, “Lu nggak usah hapus semua data, dan nggak perlu install ulang. Tapi laptop lu bisa terbebas dari masalah.”

“Wuiih, caranya gimana?” tanya si Otong sambil pura-pura terpukau.

“Caranya, sulap aja laptop lu jadi Android!”

Pakai emulator? Nggak dong. Caranya, instal sistem operasi baru yang bernama Phoenix OS. Sistem operasi ini berbasis Android. Jadi kamu tetap bisa mengerjakan aktivitas dasar seperti berselancar, mendengarkan musik, mengetik, dan main game dengan lancar tanpa harus repot adaptasi lagi.

Kayak gini nih tampilannya

Kamu mau coba?

Pertama-tama, unduh installer-nya terlebih dahulu di sini, lalu pilih versi Android yang ingin kamu instal. Saat ini versi terbarunya masih Nougat (7.1), belum ada Oreo apalagi Pie. Buat pengguna Windows, kamu unduh yang “Exe Installer”. Untuk pengguna selain Windows, kamu pilih yang “ISO Image”.

Bedanya apa? Yang membedakan cuma sistem operasinya.

Khusus untuk pengguna Linux atau Mac OS, karena file atau berkas bertipe “exe” nggak bisa dijalankan di dua sistem operasi tersebut, kamu harus memasukkan dulu “Image” tersebut ke media yang bootable (bisa berupa CD, DVD, atau USB Flash Drive).

Bagaimana cara instalnya?

1. Pilih media penyimpanan

Tampilan pertama ketika kamu membuka file (atau setelah reboot bagi yang menggunakan ISO image) adalah seperti ini.

via phoenixos.com

Kamu bisa memilih untuk instal di USB Flash Drive atau di langsung harddisk.

Kalau kamu ingin sistem operasi portabel yang bisa dibawa-bawa, pilih opsi Write to U Disk. Jadi kamu bisa menjalankan Phoenix OS di mana saja dengan menancapkan USB ke laptop. Kalau pengin performa yang lebih optimal, kamu mending pilih opsi yang kedua: Install to Hard Disk.

Ketika kamu memilih opsi yang kedua, semua data di laptop nggak akan hilang kok.

2. Pilih ukuran penyimpanan

via phoenixos.com

Langkah selanjutnya adalah memilih ukuran penyimpanan untuk Android. Saya sarankan pilih yang paling besar biar bisa menyimpan banyak data dan nggak perlu repot-repot upgrade saat nantinya kehabisan ruang penyimpanan.

3. Pilih partisi harddisk tempat instal Phoenix OS

via phoenixos.com

Langkah terakhir dalam proses instalasi adalah memilih partisi yang akan digunakan untuk menyimpan data-data di Phoenix OS. Pada tahap ini sesuaikan saja partisi mana yang punya lebih banyak ruang, bisa di C:. D:, atau partisi lainnya.

 4. Kelar, deh!

Tunggu proses instalasi. Saat selesai, laptop kamu bakal reboot. Kayak gini tampilannya.

via phoenixos.com
via phoenixos.com
via phoenixos.com

Beres, deh! Kamu tinggal masuk dengan akun google, lalu instal aplikasi yang dibutuhkan seperti Chrome, Microsoft Office, Spotify, sampai game android favorit. Sejauh ini saya belum menemukan kendala yang cukup berarti saat menggunakan Phoenix OS. Bahkan artikel ini saya tulis di Chrome dari Play Store.

Jadi jangan langsung putus asa ya kalau laptop kamu mulai lemot.

Komentar:

Komentar