Gimana Cara buat Mendeteksi Orang yang Lagi Bicara Omong Kosong?

Kosong adalah isi dan isi adalah kosong nggak berlaku di sini

:

Saya yakin seyakin-yakinnya, jika ada orang yang bilang kalau ia nggak pernah bohong seumur hidupnya, itu tandanya orang itu lagi berbohong. Iya lah, kita ini manusia biasa, bukan nabi. Sebaik-baiknya seseorang, ia pasti pernah berbohong.

Motivasi orang dalam berbohong bisa macam-macam: bisa untuk menghindari masalah, bahkan buat menyenangkan atau menenangkan seseorang (populer disebut white lies). Sesekali berbohong memang sah-sah aja dilakukan, asal tujuannya nggak merugikan orang lain dan juga diri sendiri.

Nah, masalahnya gimana kalau kebohongan itu disusupi sama niat jahat? Yang kayak gitu tuh yang harus kita waspadai. Zaman sekarang banyak penipuan yang kalau kamu nggak bisa mendeteksinya, kamu bisa terjebak oleh permainan si penipu. Jadi, ayo kita bahas gimana caranya buat mendeteksi omong kosong.

1. Selalu pertanyakan kebenaran informasi yang kamu dapat

via pixabay.com/geralt

Ketika kamu mendapat informasi yang penting, jangan langsung percaya gitu aja. Pastikan dulu kebenarannya dari orang lain yang kamu anggap lebih tahu. Kalau nggak suka memverifikasi info, kemungkinan besar kamu bakal gampang kena tipu.

Saya punya teman yang pernah ditipu lewat sambungan telepon. Si penelepon mengaku sebagai teman atau keluarga dari teman saya itu. Kamu juga pasti tahu lah, biasanya si penipu membuka percakapan dengan kata-kata seperti ini:

“Halooow, helooow, ini gue. Gue! Masa lo lupa sih. Ini gue.”

“Apa… apakah i… ini, Jaka Sembung?”


“Iya, ini gue Jaka Sembung. Sama temen sendiri lupa lo!? Gini Bro, gue lagi dapat masalah. Sekarang gue ada di kantor polisi…”

Padahal kenyataannya, di belahan bumi lain si Jaka Sembung yang asli lagi bersantai di kostan. Tapi teman saya yang baik hati itu keburu terperangkap dengan jerat kebohongan si penipu. Teman saya itu bisa aja lolos dari jerat kebohongan, andai saja ia nggak panik dan mau meluangkan waktu untuk menelepon si Jaka Sembung yang asli.

2. Beri pertanyaan bertubi-tubi

“Pak, mashroom6 itu apa ya? Nggak mudeng aku”/via pixabay.com/rawpixel

Orang yang berkata omong kosong biasanya enggan memberi penjelasan yang lebih detail saat kamu tanya. Kalaupun mereka berusaha melakukannya, kamu bisa bersiasat dengan terus-menerus menanyakan pertanyaan, seperti:

“Apa kamu punya alasan atau argumen yang bisa memperkuat pernyataan kamu barusan?”

“Apa kamu punya bukti?”

“Apa yang terjadi sampai kamu bisa mengalami hal itu?”

Pertanyaannya bisa disesuaikan dengan konteks. Dan di situlah kamu harus berpikir dengan cerdas saat memilih pertanyaan. Jika orang itu memang bicara omong kosong, pasti ada bagian dari penjelasannya yang nggak masuk akal. Di sini, sekali lagi, kamu harus jeli dalam menganalisa.

3. Omong kosong cenderung disisipi jargon yang sulit dipahami

Jargon, menurut KBBI daring adalah kosakata khusus yang digunakan dalam bidang kehidupan (lingkungan) tertentu.

Penipu biasanya tahu bila targetnya kurang punya pengetahuan tentang topik yang lagi dibicarakan. Maka dari itu, mereka seringkali memakai istilah-istilah teknis nan canggih yang nggak dimengerti orang biasa. Diksi yang mereka pakai bukan yang biasa kita temukan di Majalah Bobo. Dengan cara ini juga, si target penipuan mungkin bakal merasa kalau si penipu adalah orang yang cerdas luar biasa.

Padahal aslinya, si penipu pengin menyembunyikan kebenaran dengan cara menutupinya pakai kata-kata sulit.

Logikanya gini deh. Ketika para dokter lagi mengobrol, wajar banget kalau mereka menyelipkan istilah-istilah ilmiah dalam obrolannya. Tapi apa mereka pernah memakai istilah-istilah dunia kedokteran saat lagi memeriksa kamu yang lagi sakit meriang? Nggak mungkin lah, karena mereka sadar mereka nggak perlu melakukan itu. Toh belum tentu juga semua pasien bakal mengerti.

via pediaa.com

Intinya, jangan malu bertanya bila kamu nggak ngerti apa yang dibicarakan orang. Saat kamu nggak mengerti tentang sesuatu hal, tanyakan saja artinya. Kalau mereka bisa menjelaskan dengan sederhana, kamu bisa bernapas sedikit lebih lega.

Tapi lebih bagus lagi kalau kamu mengecek lagi penjelasan mereka dengan penjelasan dari orang yang kamu percaya.

Nggak semua yang kita dengar di keseharian adalah kebohongan. Dan nggak semua yang kita dengar dalam keseharian adalah kebenaran. Saya nggak bermaksud buat mengimbau agar kita selalu curiga. Saya lebih bermaksud mengimbau agar kita lebih kritis saat menerima informasi.

Karena menjadi orang yang kritis itu nggak ada ruginya ‘kan?

Sumber: Lifehack

Komentar:

Komentar