5 Cara Kelola Duit supaya Kamu Nggak Jadi Sobat Misqueen di Akhir Bulan

Sudah nggak jaman foya-foya di awal bulan dan menderita di akhir bulan

Akhir bulan itu adalah momok yang paling menakutkan buat sebagian manusia di Indonesia. Saya juga pernah mengalami masa-masa ketika saldo rekening amat sangat memprihatinkan di akhir bulan. Dan entah kenapa dulu itu seriiiing banget terjadi. Walhasil mie instan rasa rendang dan gehu pun jadi sahabat setia yang sering menemani saya saat tanggal tua.

Tapi itu dulu, sebelum saya mendengar motivasi dari motivator jalan emas merasa muak dan lelah dengan penderitaan yang selalu menghampiri saat akhir bulan tiba. Sekarang saya telah berubah menjadi orang yang bisa beli makanan enak di akhir bulan, tapi masih punya tabungan yang… lumayan laaah. Mau tahu aja berapa jumlah saldo saya.

Nah, biar kamu nggak terjebak dengan nasib yang sama seperti saya dulu, saya mau berbagi kiat-kiat mengatur perduitan (baca: keuangan). Lagian kamu buka artikel ini karena pengin tahu caranya ‘kan? Jadi kita sudahi basa-basinya, dan langsung aja mulai pembahasan tipsnya.

1. Hitung pengeluaran selama sebulan

Di sini saya nggak bermaksud mengiklankan produk kalkulator Casio lho ya. Gambar cuma contoh atau ilustrasi doang/via pixabay.com/Bru-nO

Segera ambil satu lembar kertas atau buka aplikasi notepad di gawai. Setelah itu tuliskan semua kebutuhan dan perkiraan biaya yang akan kamu keluarkan untuk bulan depan.

Ngomong-ngomong, kalimat di atas bentuknya kok kayak resep masak ya? Aah, biarlah, masa bodoh!

Anyway, mungkin kamu berpikir kenapa harus hitung perkiraan biaya untuk bulan depan? Soalnya saya nggak yakin kamu bakal ingat pengeluaran bulan lalu. Kecuali kalau kamu memang udah mencatat sebelumnya.

Beres catat-mencatat, selanjutnya kamu bagi kebutuhan sebulan jadi kebutuhan tetap dan tidak tetap. Kebutuhan tetap itu yang jumlahnya pasti, seperti biaya makan, kost, bepejees, angsuran motor, atau paket internet. Sedangkan kebutuhan tidak tetap itu yang jumlahnya dinamis dan fluktuatif, seperti biaya belanja chiki/camilan, nongkrong, atau produk perawatan wajah.

Kenapa kok mesti dibagi seperti itu? Kita bahas di poin ketiga ya.

2. Catat pemasukan selama sebulan

Sekali lagi, gambar hanya contoh. Bukan berarti saya digaji pakai uang receh/via pixabay.com/stevepb

Setelah menghitung perkiraan APBN selama satu bulan, langkah selanjutnya adalah mencatat pemasukan yang kamu dapatkan selama sebulan. Masukkan semua jenis pemasukan: gaji, tunjangan, perkiraan bonus/komisi, sampai hasil investasi.

“Mas, mau nanya, apa kita bisa memasukkan pendapatan dari hasil judi togel?” tanya seseorang yang saya nggak tahu namanya. Dia tiba-tiba aja bertanya pada saya di tengah jalan.

“Nggak usahlah,” saya jawab sambil mendesah penuh arti, “Kata Bang Haji Rhoma Irama sang ksatria bergitar, judi itu haram.”

Langkah selanjutnya, kamu kategorikan lagi pemasukan seperti pada poin pertama, yaitu pemasukan tetap dan tidak tetap. Bedanya, khusus untuk pemasukan tidak tetap, masukkan jumlah minimal dari perkiraan. Misalnya kamu memprediksi bakal dapat bonus antara Rp500 ribu sampai Rp1 juta, ya berarti kamu tulis aja Rp500 ribu.

3. Alokasikan berdasarkan kebutuhan

via pixabay.com/stevepb

Nah, setelah kamu tahu pemasukan dan pengeluaran untuk bulan depan, langkah selanjutnya adalah menentukan bujet untuk pengeluaran tidak tetap. Kamu bisa menghitungnya dengan cara:

Total pemasukan (tetap dan tidak tetap) – pengeluaran tetap =???

Dari situ kamu bisa tahu batas jumlah pengeluaran tidak tetap yang bisa dikeluarkan selama sebulan. Nantinya kamu bisa membaginya lagi menjadi per hari atau per minggu.

Contohnya begini, dari hasil pengurangan ternyata batas pengeluaran tidak tetap kamu adalah Rp2 juta. Jadi tiap minggu, kamu nggak boleh mengeluarkan uang lebih dari Rp500 ribu.

“Terus, artinya aku nggak bisa setiap hari nyeruput kopi di kafe yang mahal dong?”

Iya lah. Kecuali kalau kamu bagian dari keluarga Bill Gates, mendingan nggak usah nongkrong di kafe setiap hari. Bila gaya hidup kamu selama ini menuntut pengeluaran yang besar, segera ubah gaya hidup kamu. Nggak semua tren terkini itu cocok buat semua orang. Lagian Bill Gates juga kayaknya nggak gitu-gitu amat gaya hidupnya.

4. Sisihkan untuk dana darurat

Tanam uang di tanah, lalu siram. Niscaya uang kamu berubah jadi dolar!/via pixabay.com/TheDigitalWay

Lebih baik lagi kalau sisa uang dalam sebulan kamu alokasikan untuk dana darurat, untuk jaga-jaga kalau ada kejadian yang nggak terduga. Misalnya, adik kamu yang selama ini hilang (kayak di sinetron putra-putri yang tertukar itu) tiba-tiba datang mengunjungi kamu. Sebagai tuan rumah yang baik, kamu tentu harus menjamu adik kamu itu dengan makanan. Minimalnya jamu pakai biskuit Kong Ghuan deh.

Di sinilah dana darurat bakal berguna buat kamu, yakni buat beli biskuit Kong Ghuan!

Ingat, dana darurat ini berbeda dengan asuransi atau investasi ya. Meski tiap bulan kamu menganggarkan uang untuk asuransi dan investasi, usahakan sebisa mungkin kamu sisihkan sebagian uang untuk dana darurat. Besaran dana darurat ini sendiri bisa kamu atur sesuka hati dan jiwa raga; bisa berupa persenan dari gaji atau jumlah tetap tiap bulannya.

5. Mulai investasi

Mulailah menabung pakai uang receh yang ditumbuhi tunas hijau/via pixabay.com/nattanan23

Investasi nggak hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang pendapatannya puluhan juta per bulan. Kamu yang statusnya masih first jobber atau mahasiswa juga bisa mulai berinvestasi. Soalnya saat ini setoran minimum untuk membuka Rekening Dana Investor (RDI) buat transaksi di pasar saham bisa dengan hanya Rp100 ribu saja. Rp100 ribu, Kawanku! Rp100 ribu!

Selain saham, kalau kamu mau investasi emas juga nggak masalah. Sesuaikan dengan selera saja. Selera kamu emas atau saham nih?

Tapi sebisa mungkin, pilih investasi yang liquid atau mudah dicairkan menjadi uang setiap saat. Dan hal penting yang perlu kamu ingat, pilih investasi yang benar-benar pasti. Jangan tergoda dengan investasi bodong. Niatnya mau nyimpen duit, eh malah kena tipu.

Kalau bingung membedakan antara investasi yang valid dengan yang bodong, coba lihat ciri-ciri investasi bodong berdasarkan penjelasan dari OJK:

  1. Imbal hasil yang di luar batas kewajaran dalam waktu singkat
  2. Penekanan utama pada perekrutan
  3. Tidak dijelaskan bagaimana cara mengelola investasinya
  4. Tidak dijelaskan underlying usaha yang memenuhi asas kewajaran dan kepatutan di sektor investasi keuangan
  5. Tidak jelasnya struktur kepengurusan, struktur kepemilikan, struktur kegiatan usaha dan alamat domisili usaha
  6. Kegiatan yang dilakukan menyerupai money game dan skema ponzi, menyebabkan terjadinya kegagalan untuk mengembalikan dana masyarakat yang diinvestasikan
  7. Bila ada barang, kualitas barang tidak sebanding dengan harganya.
  8. Bonus dibayar hanya bila ada perekrutan (hns/hns)

Jadi hubungannya investasi dengan sobat misqueen di akhir bulan apa? Jadi gini, misal nih ya, kamu tiba-tiba saja mengalami musibah yang mengharuskan kamu untuk menguras tabungan dan dana darurat sampai habis. Bila kamu masih punya aset yang bisa dicairkan, kamu bisa membalikkan kondisi keuangan sampai 180 derajat. Nggak perlu utang atau pinjam ke orang lain, apalagi sampai gadai atau jual barang yang masih kamu butuhkan.

Apa ada saran lain atau pertanyaan yang ingin kamu utarakan? Jangan acungkan tangan, langsung sampaikan aja di kolom komentar.

9 Shares

Komentar:

Komentar