5 Strategi buat Menghadapi Pelecehan Seksual, Jangan Cuma Diam!

"Diam itu emas" kadang nggak berlaku buat beberapa kasus

:

Hidup sehari-hari itu memang nggak mudah buat dijalani. Tapi buat perempuan, menjalani hidup bisa terasa jauh lebih berat karena masalah semacam pelecehan seksuil.

Pelecehan seksual sendiri bisa muncul dalam berbagai bentuk dan cara. Tapi di artikel ini, kita kategorikan saja jadi dua macam: pelecehan di dunia nyata lewat catcalling atau memegang bagian tubuh tertentu, dan pelecehan di dunia maya lewat komentar atau pesan yang tidak senonoh.

Pernah lihat pemandangan seperti ini? Pernah lihat? Biasanya disertai juga dengan siulan sok-sok menggoda/via thetempest.com

Pasti nggak akan ada orang yang bakal merasa senang kalau jadi korban pelecehan seksual. Tapi parahnya, kesadaran dan pengetahuan sebagian orang tentang masalah ini juga masih rendah. Toh, arti atau definisi dari pelecehan seksual sendiri juga masih terlalu luas, seperti dibuktikan dari hasil penelitian yang menyatakan sekitar 16% respondennya nggak sadar bahwa mereka pernah mengalami pelecehan seksual. Dan bagi mereka yang tahu dan sadar, sekitar 72 persennya nggak pernah melaporkannya ke siapa pun.

Jadi sebenarnya pelecehan seksual itu apa?

Pelecehan seksual adalah tindakan seksual yang tidak dikehendaki, permintaan untuk kesenangan seksual, atau perilaku verbal atau fisik yang bersifat seksual.

via Cates Mahoney, LLC

Semoga kamu sendiri nggak akan pernah jadi salah satu korban. Meskipun begitu, nggak ada salahnya kita mengantisipasi dengan mengetahui apa yang harus dilakukan jika mengalaminya.

Haley Nahman (penulis di situs Man Repeller) dengan bantuan Dr. Astrid Heger (Direktur Eksekutif di Violence Intervention Program dan profesor di USC’s Keck School of Medicine dengan fokus kekerasan terhadap wanita) dan Lindsey Pratt, LMHC (fisioterapis asal New York yang spesialisasinya menangani trauma seksual) mengumpulkan guide atau panduan tentang apa yang harus dilakukan jika kamu menghadapi pelecehan seksual.


1. Prioritaskan perasaan kamu, bukan orang lain

Satu hal yang perlu diingat, kamu nggak perlu bersimpati dengan pelaku pelecehan seksual. Kamu adalah korban, bukan pelakunya. Hal ini ditegaskan oleh Pratt yang menyatakan kalau perempuan cenderung mengampuni si pelaku dengan senyuman, karena mereka enggan dicap sebagai perempuan menyebalkan. Hal ini diakibatkan masih adanya anggapan kalau laki-laki tegas itu berarti percaya diri, tapi beda halnya dengan perempuan.

Oleh karena itu jika kamu merasa nggak nyaman dengan perlakuan yang cenderung melecehkan, tunjukkan saja kalau kamu nggak senang, supaya si tahu dan sadar kalau kelakuannya itu nggak sopan.

2. Utarakan dengan kata-kata

Lalu bagaimana cara mengutarakannya? Ingat poin pertama tadi, kamu nggak perlu mempedulikan perasaan si pelaku. Utarakan dengan gamblang ketidaknyamanan kamu. Misal, Pratt memberi saran, kamu bisa langsung tembak dengan bilang, “Hey you! You bikin I nggak nyaman,” atau “Kamu membuat saya merasa tidak nyaman!”

Dengan berlaku tegas tanpa tedeng aling-aling, si pelaku bakal sadar apa yang dia lakukan itu salah. Cara ini jauh lebih efektif ketimbang kalau kamu berbasa-basi.

Beda lagi dengan Dr. Heger yang kasih saran lebih frontal. Dia menyarankan langsung bilang, “Aku merasa malu dan direndahkan kalau diperlakukan seperti ini.”

3. Jangan pedulikan niat pelaku

Pratt menyarankan bahwa kamu nggak perlu ambil pusing dengan niat si pelaku, apa pun niat yang mereka emban. Meskipun mereka niatnya cuma bercanda, kalau kamu nggak nyaman, ya utarakan saja terus terang.

Nggak mau terdengar kasar? Bilang saja kalau kamu nggak suka dengan kelakuan mereka. Sekalian juga kasih tahu kalau yang mereka lakukan itu pelecehan. Yaaa supaya kelakuan mereka itu nggak jadi kebiasaan.

4. Terima kenyataan bahwa hal tersebut mungkin akan terjadi

Dr. Heger mengatakan bahwa meskipun selama ini kamu belum pernah mengalami pelecehan seksual, terima kenyataan bahwa suatu saat nanti mungkin kamu bakal mengalaminya. Logikanya gini deh, kalau ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan itu sudah musnah dari muka bumi, gerakan feminisme juga mungkin bakal hilang. Kalau orang berengsek nggak ada lagi di muka bumi, pelecehan seksual pun bakal ikut menyusul alias lenyap.

Dan itu juga manfaat dari menyiapkan langkah antisipasi. Dengan menyadari kemungkinan kamu menghadapi perlakuan yang kurang senonoh, kamu bakal bisa lebih siap ketika saat itu tiba.

5. Jangan berasumsi kalau pelecehan seksual itu cuma bisa terjadi satu kali seumur hidup

Menurut Pratt dan Dr. Heger, kamu adalah salah satu di antara banyak korban bagi para pelaku. Bila kamu membiarkan pelaku pelecehan bertindak sesuka hati, bisa jadi orang lain juga akan menjadi korban. Oleh karena itu kamu mending langsung mengkonfrontasi si pelaku daripada membiarkannya begitu saja.

Menghadapi pelecehan memang tidak menyenangkan. Melakukan apa yang ditulis di artikel ini juga nggak akan segampang membalikkan telapak kaki. Tapi ayo kita berpikir realistis: pelecehan seksual itu masih ada sampai sekarang.

Lebih baik mencoba hal yang sulit ketimbang mengalami pengalaman yang nggak menyenangkan, bukan?

Komentar:

Komentar