Ingin Meniti Karier di Dunia Start-up? Inilah 5 Hal yang Harus Kamu Pikirkan Sebelum Memulainya

Nggak cuma suka, dukanya juga banyak!

:

Saat ini perusahaan start-up terus menjamur di berbagai penjuru. Dan nggak sedikit dari fresh graduate yang lebih memilih berkarier di tempat mereka ketimbang di perusahaan ternama. Memang sih, ada keuntungan yang bisa kamu dapat jika memilih perusahaan start-up untuk meniti karier. Sebut saja tim kerja yang nyaman, hubungan antar pekerja yang informal, dan juga waktu kerja yang fleksibel sebagai beberapa keuntungannya. Ditambah lagi dunia teknologi yang terus berkembang bikin lini ini makin menggiurkan untuk diselami.

Tapi, tentunya bekerja di perusahaan start up nggak melulu mulus seperti dalam bayangan. Ada beberapa kelemahan di dalamnya yang membuat kamu layak untuk berpikir lebih serius sebelum menjajaki dunia start-up yang menantang.

1. Tak ada tunjangan ini itu

via techinasia.com

Jangan harap ada tunjangan kerja bagi karyawan di perusahaan start-up. Kebanyakan perusahaan start-up memang nggak memberikan fasilitas yang satu ini untuk pekerjanya. Suasana kerja yang santai ditambah gaya kerja yang modern dianggap mampu menggantikan mewahnya tunjangan yang biasanya diberikan oleh perusahaan konvensional.

2. Gaji yang fluktuatif

via liputan6.com

Saat melamar ke perusahaan start-up, kamu tetap diperbolehkan untuk nego gaji sesuai dengan kemampuan yang kamu miliki. Sayangnya, besaran gaji yang kamu dapat bisa sangat fluktuatif, tergantung prestasi dan keuntungan yang didapat perusahaan. Jadi jangan heran kalau kamu merasakan ketidakpastian finansial saat memilih berkarier di start-up.

3. Gap yang lemah antara atasan dan bawahan

via vistaeducation.com

Merasa butuh bimbingan yang intens dari atasan saat kamu mulai bekerja? Mungkin kamu belum cocok bekerja di start-up.

Mereka biasanya akan memberi kebebasan bagi pekerja untuk berkembang sendiri, dengan campur tangan atasan yang cenderung minim. Yang terpenting karyawan paham akan visi dan misi perusahaan, serta tugas yang diembannya. Sukses memenuhi itu, maka perusahaan akan memberi kepercayaan yang lebih pada karyawannya.

Dan hal ini yang terkadang menyulitkan bagi fresh graduate yang minim pengalaman.


4. Tak ada aturan baku dalam bekerja

via merdeka.com

Seringkali metode kerja di perusahaan start-up itu dipenuhi dengan trial and error, mengingat belum kokohnya aturan di sana. Ini tentu sedikit berbeda dari kondisi perusahaan tradisional dan BUMN, misalnya. Kondisi inilah yang akhirnya menjurus pada tak adanya aturan baku di start-up.

Keuntungannya, waktu kerja kamu bisa sangat fleksibel. Namun, kadang aturan yang belum baku ini cukup menyulitkan di kemudian hari lantaran selalu berubah-ubah sesuai kondisi.

5. Tuntutan untuk multitasking

via ruangpegawai.com

Dengan alasan yang sama dengan poin sebelumnya, perusahaan start-up menuntut fresh graduate untuk bisa melakukan dua, tiga, bahkan empat pekerjaan sekaligus di luar bidang kemampuan dan jobdesk. Situasi seperti ini bisa saja terjadi karena belum adanya tim ahli khusus untuk menangani bidang-bidang tertentu.

Intinya, di setiap kekurangan, pasti ada sisi positif yang bisa kamu ambil kok. Kalau ketenangan dan fleksibelitas yang kamu dapat bisa menjadi booster untuk bekerja lebih giat, kenapa nggak? Toh bekerja di start up bisa jadi batu loncatan untuk kamu membuka start-up sendiri bukan?

Komentar:

Komentar