12 Perilaku Beracun yang Menjauhkan Orang Lain Dari Dirimu


:

Melalui pengalaman hidup pasti kita pernah menjumpai beberapa perilaku beracun yang menjauhkan orang-orang dari satu sama lain. Dan kita pasti pernah menyaksikan akibat dari perilaku ini yaitu hancurnya sebuah hubungan, pribadi sendiri, perkembangan dunia professional, dan kesejahteraan umum dari kedua pihak yang berperilaku negatif. Jujur saja, kita pasti memiliki perilaku buruk  dan pernah menyakiti satu sama lain. Tidak ada orang yang tidak pernah mengalami perubahan mood mendadak tetapi seiring berjalannya waktu orang-orang berubah, semakin seimbang dan menyadari tindakan ini. Sehingga hal-hal negatif yang timbul dari perubahan mood mendadak sudah jarang terjadi. Walaupun perilaku beracun ini hanya timbul sesaat tetapi ini sangat penting ketika kamu sedang berperilaku negatif dan sadar lalu tiba-tiba merubahnya pola pikirmu maka ini akan mempengaruhi kebahagiaan dan kesuksesan dalam jangka panjang.

lifebuzz-b795ceaa8814b8540324ecc593c9a150-limit_2000

Berikut 12 perilaku racun yang sering terjadi

1. Iri

Iri atau cemburu terhadap orang lain itu sebenarnya wajar hanya saja jangan sampai rasa iri tersebut merusak yang terbaik dari dirimu. Rasa iri hanya akan membuatmu terpaku terhadap milik orang lain. Berhentilah membandingkan perjalanan hidupmu dengan orang lain. Hidupmu adalah milikmu sendiri dan bukan sebuah kompetisi. Kamu hanya berkompetisi dengan satu orang saja yaitu dirimu sendiri. Jika ingin membandingkan, bandingkanlah dirimu yang sekarang dengan yang dulu.

2. Terlalu mengambil hati 

Seseorang akan merasa buruk di sekitar ketika mereka mempercayai bahwa segala sesuatunya adalah serangan langsung kepada mereka atau dalam beberapa hal semua tentang mereka. Faktanya adalah apa yang orang katakan dan lakukan terhadapmu lebih adalah lebih banyak tentang mereka, daripada tentangmu. Reaksi orang-orang terhadapmu lebih ke arah persepsi mereka, sakit, dan pengalamanmu. Ketika orang berpikir kamu menakjubkan atau kamu terburuk, kembali lagi itu adalah lebih ke diri mereka sendiri. Bukan berarti kita narsis atau mengabaikan itu semua, itu hanya berarti bahwa sakit hati, kekecewaan, dan kesedihan di hidup kita adalah karena kita terlalu mengambil hati. Akan lebih baik tidak terlalu mendengarkan opini baik atau burukmu tentangmu tetapi percaiyalah intuisi dan kebijakan yang akan menuntunmu.


3. Bertindak seolah-olah selalu kamu korbannya

Selalu beranggapan bahwa kamu adalah korban adalah awal dari perilaku beracun. Percaya kamua adalah korban, tidak memiliki kekuatan untuk mengarahkan hidup maka akan membuatmu terjebak. Ketika kamu berhenti memprotes dan menolak bahwa kamu adalah korbannya, maka kamu akan menemukan kamu akan lebih kuat dari yang kamu sadari jika hanya kamu mau menyadari realita. Percayalah bahwa kita memiliki kekuatan, kekuasaan dan otoritas yang lebih terhadap diri kita dibanding yang kita percaya.

4. Menyimpan rasa sakit dan kehilangan

Hal yang paling sulit dilakukan adalah membiarkan sesuatu pergi – apakah itu rasa bersalah, marah, cinta atau kehilangan. Berubah juga sama sulitnya – kamu sulit untuk melepaskan dan kamu juga sulit untuk mempertahankan. Tapi seringkali membiarkan pergi adalah jalan terbaik. Itu membersihkan racun-racun masa lalu. Kamu akan terbebas dari hal-hal yang dulu sangat berarti bagi dirimu sehingga kamu mampu melewati masa lalu dan sakit yang menyertainya. Kerahkan usahamu untuk memfokuskan kembali pikiran.

5. Terobsesi pikiran negatif

Sulit untuk berada di sekitar orang-orang yang berpikiran negatif. Apalagi ketika mereka membicarakan hal-hal mengerikan yang akan terjadi atau telah terjadi; protes terhadap penderitaan mereka; dan ketidakadilan hidup. Orang-orang ini menolak hal-hal positf dalam hidup. Pesimis itu satu hal tapi tetap terkunci terhadap pikiran negatif adalah hal lain. Berpikir bahwa semuanya adalah negatif merupakan cara hidup yang membingunkan dan kamu harus mengubahnya.

6. Kekurangan kontrol emosi

Tidak mampu mengatur emosi diri adalah racun untuk orang disekitarmu. Kita tahu orang-orang ini adalah mereka yang meledak marah atau menangis-nangis hanya karena hal kecil atau sepele. Ketika kamu sadar kamu sulit mengontrol emosi mungkin kamu memerlukan bantuan pihak lain untuk mencari asal apa yang menyebabkan kemarahanmu. Banyak hal lebih dibanding apa yang tampak di permukaan. Perspektif independen dan dukungan dari pihak lain akan membuat keajaiban.

Toxic Behaviors

7. Meremehkan orang lain

Jangan menghakimi orang berdasarkan apa yang ia perlihatkan padamu. Ingatlah apa yang kamu lihat adalah apa yang orang itu pilih untuk diperlihatkan padamu atau apa yang secara tidak sadar diperlihatkan berdasarkan rasa sakit dan stress. Sebaliknya ketika seseorang mencoba membuatmu menderita maka sesungguhnya orang itu lebih menderita dari dirimu. Mudahnya, penderitaan mereka tidak tertampung lagi – mereka tidak mebutuhkan hukuman atau ejekan tapi mereka hanya membutuhkan bantuan. Jika kamu bisa, bantulah mereka.

8. Kekejaman (kurangnya rasa empati dan kasih sayang)

Penyakit ini berawal dari kurangnya rasa empati dan kasih sayang. Kita melihat di komentar-komentar media online bahwa orang bisa dengan mudahnya berbuat kejam hanya karena mereka bisa. Mereka menjatuhkan orang dengan cara pengecut dan mengunakan nama samaran sebagai pelindung. Kekejaman, menusuk dari belakang, dan menyakiti orang lain adalah racun. Galilah lebih dalam dan temukan rasa kasih sayang di hati dan sadari bahwa kita ini bersama.

9. Curang dan memotong nilai moral hanya karena kamu bisa

Curang adalah sebuah pilihan, bukan kesalahan, dan bukan sebuah alasan. Dan jika kamu berhasil berbuat curang pada suatu hal jangan berpikir bahwa orang yang kamu curangi adalah orang bodoh. Percayalah bahwa orang itu telah mempercayai kamu lebih daripada yang pantas kamu dapatkan. Jangan lakukan tindakan tidak bermoral hanya karena kamu punya kesempatan. Jangan curang, lakukan hal yang benar. Integritas adalah kunci untuk kesuksesan.

10. Menyembunyikan fakta diri

Orang akan sulit berhubungan denganmu jika kamu terus bersembunyi dari dirimu sendiri. Dan ini akan menjadi semakin sulit jika situasi buruk ini melekat pada persona palsumu. Jadi ingatlah bahwa di usia, ras, gender, atau seksualitas apapun – percayalah di atas itu semua kamu adalah manusia yang paling murni dan palin cantik dan itu semua berlaku untukmu dan semua orang. Kita semua memiliki cahaya untuk bersinar dan misi yang harus diselesaikan. Jadi jangan rubah dirimu dan jadilah dirimu apa adanya.

11. Membutuhkan validasi konstan

Orang-orang yang secara konstan selalu berbicara mengenai validasi sangat melelahkan untuk berada di sekitarnya. Baik laki-laki dan perempuan yang terperangkap untuk membuktikan arti dirnya lagi, lagi dan lagi dan selalu ingin menang dari yang lainnya secara tidak langsung adalah racun dan melelahkan. Ketahuilah, bertingkah terlalu over dalam melihat orang lain dapat melelahkanmu. Masih ada gambaran besar dalam hidupmu bukan dari apa yang akan kamu capai di mata orang lain. Ini adalalah sebuah petualangan, proses, dan jalan. Apa yang kamu pelajari, bagaimana kamu belajar membantu orang, dan proses perkembangan yang membiarkan dirimu ikut berpartisipasi.

12. Menjadi perfeksionis keras kepala

Sebagai manusia kita sering mencari hipotesis, sebuah kondisi statis dari kesempurnaan. Kita melakukannya ketika mencari rumah, pekerjaan, teman, hingga kekasih. Masalahnya, kesempurnaan tidaklah bersifat statis. Karena hidup adalah perjalanan tanpa henti, terus berubah dan berevolusi. Apa yang kita lihat sekarang tidaklah sama dengan besok – rumah, pekerjaan, teman atau kekasih suatu saat akan berada pada tahap tidak sempurna. Tapi percayalah pada akhirnya semua itu pasti akan berubah menjadi baik, karirmu akan sempurna, percintaan akan lancar dan rumah akan nyaman. Ini hanya masalah bagaimana membiarkan perfeksionis keras kepala pergi.

 

Intinya adalah semua ada pada dirimu. Ingatlah kamu tidak sendirian. Kita semua punya sifat racun jauh dalam diri kita sendiri. Kuncinya adalah kesadaran sendiri – ketika kamu merasa perilaku ini akan merusak diri maka hentikanlah dan kembali ke jalan yang benar.

Komentar:

Komentar