Sepak Terjang Vasily Blokhin, Algojo Paling Produktif yang Merenggut Puluhan Ribu Nyawa

via twitter.com

Dunia yang kita huni ini punya sisi gelap di mana banyak manusia menjalani profesi ilegal. Demi mendapat uang, manusia rela mendalami pekerjaan sebagai pencuri, penyelundup, pengedar narkoba, atau pembunuh bayaran. Jika diperlukan, seseorang bahkan sanggup menjalani tugas sebagai algojo.

Eh, tapi tunggu dulu, bukankah algojo termasuk profesi yang nggak melanggar hukum? Yaah, mungkin beda lagi urusannya jika algojo yang dimaksud berada di bawah komando Joseph Stalin, salah satu diktator terkejam dalam sejarah.

Adalah Vasily Mikhailovich Blokhin, algojo Uni Soviet yang bertanggung jawab atas lenyapnya puluhan ribu nyawa pada masa Perang Dunia II. Sejarawan memperkirakan Blokhin membunuh puluhan ribu tahanan dan warga sipil, yang mana sekitar 7.000 di antaranya tewas saat pembunuhan massal di hutan Katyn tahun 1940. Berkat “prestasi gemilangnya”, Guinness World of Records nggak segan mencantumkan nama Blokhin sebagai algojo paling produktif sepanjang sejarah.

Vasily Blokhin/via rarehistoricalphotos.com

Vasily Blokhin lahir pada tahun 1895 dari keluarga petani yang tinggal di desa kecil Suzdal. Nggak ada yang mengetahui dengan jelas bagaimana masa lalu sang algojo. Singkat cerita, pada masa Perang Dunia I, Blokhin mengabdi sebagai prajurit Tsar Nicholas II. Sejak saat itu, Blokhin terus berkontribusi dalam sejumlah peristiwa militer penting hingga menjabat di badan keamanan Soviet, Cheka. Nah, mungkin di lembaga itulah Blokhin mulai kebagian peran menyiksa dan melenyapkan nyawa tahanan.

Kelihaian Blokhin sebagai algojo kemudian mendapat perhatian Joseph Stalin. Blokhin dipilih langsung oleh sang diktator untuk menjabat kepala eksekutor hukuman mati di NKVD (Komisariat Rakyat untuk Urusan Dalam Negeri). Karier Blokhin sebagai eksekutor hukuman mati kepercayaan Stalin pun akhirnya dimulai.

Selama operasi Great Purge (pengeksekusian besar-besaran saingan politik Stalin) yang digagas Stalin dan NKVD di tahun 1930-an, Blokhin mengeksekusi setidaknya puluhan ribu pria dan wanita dengan tangannya sendiri. Ia hilir mudik ke kamp-kamp penjara Soviet untuk satu tugas penting: membunuh tahanan.

via outono.net

Konon katanya, Blokhin selalu mengenakan seragam khusus yang terdiri dari topi kulit, celemek kulit, dan sarung tangan sepanjang siku saat bertugas. Ia pun tak lupa membawa tas kerja yang isinya pistol pribadi jenis Walther PPK. Bagi Blokhin, mencabut nyawa tahanan dengan pistol orang lain seperti mencoreng reputasinya sebagai algojo. Ia lebih suka bekerja menggunakan peralatannya sendiri di balik gelapnya malam. Blokhin menganggap malam hari adalah waktu yang paling tepat untuk membuang jasad manusia.

Suatu hari, Blokhin pergi bersama dengan tim — yang terdiri dari sekitar tiga puluh orang NKVD — dari Moskow menuju penjara NKVD di Kalinin. Penjara tersebut memiliki ruang bawah tanah kedap suara dengan lantai yang agak miring untuk drainase. Di ruangan itulah Blokhin bersiap menyambut para tahanan.

Sebelum memasuki ruang eksekusi, para tahanan mesti melalui pemeriksaan identitas. Mereka yang data dirinya sudah diverifikasi kemudian diborgol dan digiring ke ruang bawah tanah, tempat Blokhin menunggu dengan celemek panjangnya. Ibaratnya Blokhin itu bagaikan jagal yang menunggu hewan ternak untuk disembelih.

via southcarolina160.com

Proses eksekusi mati ala Blokhin sangat hening dan mencekam. Tahanan nggak diberi kesempatan mengucapkan kalimat terakhir, dan tak ada seruan tuduhan yang diucapkan algojo terhadap korban. Begitu tahanan memasuki ruang eksekusi, adegan selanjutnya hanya diisi oleh acungan pistol dan suara tembakan. Jasad yang sudah tak lagi bergerak kemudian diseret ke luar, lantai dibersihkan, dan tahanan berikutnya dipersilakan memasuki ruangan.

Dalam urusan peralgojoan, Blokhin tahu betul cara paling efektif dan efisien untuk membunuh korbannya. Salah satu sipir NKVD bahkan bersaksi bahwa sang algojo membunuh setidaknya satu tahanan setiap tiga menit. Para korban biasanya ditembak di bagian pangkal tengkorak.

Tangan dingin Blokhin pun turut andil dalam Pembantaian Katyn yang terjadi di bulan April sampai Mei 1940. Pembantaian selama satu bulan tersebut merenggut sekitar 22.000 nyawa polisi dan warga sipil Polandia, 7.000 di antaranya tewas di tangan Vasily Blokhin. Bayangkan, dalam waktu satu bulan saja, Blokhin menghabisi tahanan yang jumlahnya setara dengan satu kecamatan.

via twitter.com

Metode yang digunakan Blokhin di Pembantaian Massal Katyn nggak jauh beda dengan apa yang biasa ia lakukan. Hanya saja, temponya mungkin agak dipercepat. Sejarawan memperkirakan Blokhin setidaknya mengeksekusi 300 orang setiap malam dengan rata-rata satu tahanan ditembak setiap tiga detik. Dalam misi tersebut, Blokhin dan timnya bekerja semalam suntuk selama 28 hari, membunuh dan membuang mayat para tahanan. Dan mungkin selama 28 hari itu, Blokhin jadi lebih intens mengelap pistol Walther PPK kesayangannya.

“Berkat kerja kerasnya”, Vasily Mikhailovich Blokhin dianugerahi lencana Order of the Red Banner oleh pemerintah Uni Soviet.

Meninggalnya Stalin di tahun 1953, sekaligus juga menjadi penanda akhir dari kediktatoran sekaligus karier sang algojo kepercayaannya. Dua tahun kemudian, Vasily Blokhin dikabarkan tewas bunuh diri. Banyak orang menganggap kematian Blokhin disebabkan oleh rasa bersalahnya sendiri atas kematian puluhan ribu tahanan perang. Atau mungkin, Blokhin baru menyadari kalau dirinya adalah seorang monster.

Yaah, sampai sekarang nggak ada yang tahu alasan pasti mengapa Vasily Blokhin bunuh diri.

Tokoh besar sejarah seperti Julius Caesar, Gengis Khan, dan Alexander yang Agung dikenal sebagai sosok yang mampu melenyapkan satu negeri beserta penduduknya. Tapi berapa banyak orang yang mereka bunuh dengan tangan mereka sendiri tanpa mengandalkan bala tentara? Apakah jumlahnya lebih banyak dari  jumlah korban Vasily Bolkhin?

bayubaharul :