Sejarah Asli Perjalanan ke Barat, Tetap Seru meski Tanpa Kera Sakti!

"Kosong adalah isi, dan isi adalah kosong"

:

Anak-anak generasi Z mungkin nggak terlalu familiar dengan kisah Sun Go Kong, Cu Pat Kay, Wu Ching, dan Biksu Tong. Tapi buat kamu yang lahir di akhir tahun 80 dan awal 90-an, keterlaluan deh kalau sampai nggak kenal sama serial Kera Sakti. Popularitas empat karakter yang mencari Kitab Suci itu mungkin bisa disetarakan dengan F4. Itu tuh, grup yang digawangi oleh Tao Ming Tse.

Tapi tahukah kamu kalau sejarah asli dari Kera Sakti berbeda banget dari serial tevenya? Bahkan menurut kisah nyatanya, Sun Go Kong, Cu Pat Kay, dan Wu Ching nggak pernah ada. Mereka bukanlah manusia yang sengaja dijadikan karakter siluman dalam serial tevenya; mereka benar-benar cuma karakter fiksi.

Serial Kera Sakti sendiri diadaptasi dari Perjalanan ke Barat, sebuah novel yang juga diilhami dari Catatan Tang Agung mengenai Xiyu. Karya yang disebut terakhir merupakan catatan perjalanan Pendeta Xuanzang dari Chang An, Tiongkok, ke daerah barat.

Sedikit tentang novel Perjalanan ke Barat atau Journey to the West

novel journey to the west
 Cover novel Journey to the West

Ini adalah novel legendaris Tiongkok yang ditulis di zaman Dinasti Ming. Dalam dialek Hokkian, novel ini disebut See Yu Ki. Ditulis oleh Wu Chengen sekitar pertengahan abad ke-16, Perjalanan ke Barat termasuk dalam empat karya sastra klasik/terbaik yang pernah dihasilkan Tiongkok. Tiga karya lainnya adalah Roman Tiga Kerajaan, Tepi Air, dan Impian Paviliun Merah.

Kisah Perjalanan ke Barat versi novel hampir mirip seperti yang ada pada serial Kera Sakti yang kita tonton di televisi. Tapi plotnya lebih mendetail, lengkap dengan gaya penceritaan yang mengalun indah.

Dan satu kelebihan lain dari novelnya ialah adanya puisi. Momen pertarungan atau pemandangan sering banget digambarkan lewat puisi singkat yang kata-katanya dirangkai dengan elok.

Siapa itu Tang Xuanzang?

biksu xuanzang
Lukisan Xuanzang/via nomadwowrks.com

Tang Xuanzang atau Tong Sam Chong adalah seorang biksu ternama yang lahir di Luoyang, Henan, Tiongkok, di tahun 602 M. Ia berasal dari keluarga cendekiawan terpandang. Kakeknya menjabat sebagai profesor di universitas nasional yang bertempat di ibukota.


Sedari kecil, Xuanzang sudah menunjukkan kepintarannya dalam ilmu keagamaan, yang membuat ayahnya berfokus mendidiknya dalam bidang tersebut. Keinginan ayahnya itu tak bertepuk sebelah tangan. Di usia muda, Xuanzang menyatakan minat menjadi seorang biksu Buddha.

Ia bersama kakak lelakinya lalu menempati biara di daerah Luoyang. Mereka berdua menetap di sana selama lima tahun.  Selama waktu tersebut, Xuanzang menggunakannya untuk mempelajari ajaran Buddha Therevada dan Mahayana. Beruntung bagi dua kakak beradik itu, karena mereka didukung penuh oleh Dinasti Sui.

Tapi pada tahun 618, Dinasti Sui runtuh. Dan situasi kala itu memaksa Xuanzang dan kakaknya melarikan diri ke Chang An dan kemudian menuju Sichuan. Di sana mereka menghabiskan tiga tahun di biara Kong Hui untuk mempelajari kitab-kitab Buddha, sebelum Xuanzang ditasbihkan sepenuhnya sebagai seorang biksu pada tahun 622 di umurnya yang kedua puluh.

Perjalanan Xuanzang dari Chang An ke India

perjalanan xuanzang ke india
Rute perjalanan Xuanzang ke India/via drben.net

Setelah menjadi biksu, Xuanzang merasa kurang puas dengan penjelasan dari guru-gurunya. Rasa dahaganya akan ilmu membuat ia memutuskan untuk pergi ke India, tempat lahirnya agama Buddha. Beberapa tahun setelahnya, ia mengaku mendapatkan mimpi yang membuatnya semakin yakin untuk melakukan perjalanan ke India.

Sayangnya kala itu, keinginan Xuanzang ditentang oleh Kaisar kedua Dinasti Tang. Tapi Xuanzang tak putus asa, ia pun berhasil membujuk para penjaga di gerbang Yumen untuk membiarkannya pergi. Dan saat itulah Xuanzang memulai perjalanan bersejarahnya di tahun 629.

Karena ia melarikan diri dari kaisar Dinasti Tang, ia harus memulai perjalanan dengan cara menyelinap. Perjalanannya berulang kali tersendat karena ia tak dibekali paspor. Di beberapa kesempatan, pemimpin negara-negara di sekitar Jalur Sutera — rute yang ditempuh Xuanzang untuk pergi ke barat — bahkan menginginkan Xuanzang untuk tinggal di negeri mereka. Hanya tekad kuat dari Xuanzang yang mampu meyakinkan para penguasa itu untuk membiarkannya pergi.

Gunung Ling
Gunung Ling via explore-share.com

Setelah melewati drama “kucing-kucingan” yang melelahkan, Xuanzang pun bergegas melanjutkan perjalanannya menuju Asia Tengah dan tiba di Turfan. Di sinilah ia bertemu dengan Raja yang juga menganut agama Buddha. Ia menghadiahi Xuanzang dengan perbekalan dan surat pengantar, lalu memerintahkan empat biksu dan 25 orang lainnya untuk menemani perjalanan Xuanzang.

Namun tragedi kembali terjadi kala mereka melewati Gunung Ling yang penuh dengan es. Sepertiga dari rombongan gugur dalam perjalanan setelah jatuh tergelincir ke jurang, tertimpa bongkahan es besar yang jatuh dari pegunungan, atau membeku karena suhu yang teramat dingin.

Tapi tekad kuat Xuanzang tak pernah padam. Ia tetap meneruskan perjalanan sampai akhirnya mencapai mencapai tanah India di tahun 630 (beberapa sumber mengatakan tahun 632).

Sesampainya di India…

Xuanzang sampai ke India
via madrascourier.com

Setelah mencapai India, lagi dan lagi Xuanzang menemui hambatan yang membahayakan nyawanya, meski kali ini kisahnya terdengar cukup unik.

Saat itu, ia dan kelompoknya tengah melewati hutan saat mereka ditangkap oleh gerombolan bandit. Barang-barang bawaan dan pakaian mereka dilucuti, lalu mereka dilempar ke dalam kubangan lumpur untuk dibunuh.

Tapi saat Xuanzang dan teman-teman rombongannya tengah berjuang menyelamatkan nyawa, para bandit itu justru melewatkan kesempatan untuk membunuh mereka. Lucunya lagi, bandit-bandit itu justru malah saling bertengkar berebut barang hasil rampasan.

Di saat para bandit itu lengah, Xuanzang dan seorang biksu muda yang jadi teman rombongannya dengan lihai memanfaatkan situasi. Mereka melarikan diri ke arah lubang yang ada dekat kolam lumpur, lalu merangkak ke dalamnya.

Dewi fortuna sepertinya berpihak pada Xuanzang dan sang biksu muda. Ternyata lubang yang mereka lewati mengarah ke sebuah desa. Mereka pun meminta bantuan penduduk desa untuk mengusir para bandit. Sesampainya di tempat para bandit berkumpul, ternyata kumpulan kriminal itu masih meributkan masalah harta hasil rampokan.

Xuanzang dihadang para bandit
Xuanzang dihadang para bandit/via anotherglobaleater.wordpress.com

Setelah memberaskan bandit, Xuanzang masih meneruskan perjalanannya. Ia sempat singgah di beberapa daerah dan kota di mana kegiatannya dihabiskan dengan belajar; mendatangi situs-situs Buddha; dan bertemu serta berdialog dengan biksu-biksu lokal.

Setelah beberapa tahun perjalanan yang amat berat, sekitar tahun 635 atau 637 akhirnya Xuanzang sampai juga di tempat tujuan utamanya: Universitas Nalanda atau Biara Nalanda.

Universitas Nalanda adalah kuil terbesar dari semua kuil yang ada di India. Ia juga merupakan tempat berkumpulnya murid-murid terbaik yang ingin mempelajari agama Buddha. Dan di tempat ini pula Xuanzang menghabiskan beberapa tahun untuk belajar dari pemikir dan guru besar pada masa itu, salah satunya adalah Silabhadra.

Monumen Xuanzang di Nalanda
Monumen Xuanzang di Nalanda via hindustantimes.com

Selama di Nalanda, Xuanzang mempelajari berbagai hal seperti logika, tata bahasa, dan bahasa Sanskerta. Tapi pencapaiannya yang paling besar ialah ia mampu menghafal 50 naskah suci Buddha — sesuatu yang waktu itu hanya bisa dicapai oleh sembilan orang. Berkat pencapaiannya itu, Xuanzang mendapat gelar San Zang kesepuluh. Berbeda dari cerita di novel, San Zang bukanlah nama atau gelar yang diberikan Kaisar Tang. Xuanzang harus menempuh berbagai rintangan dan cobaan untuk mendapat gelar itu.

Setelah tinggal selama lima tahun di Nalanda, Xuanzang pun memutuskan pulang ke Chang An. Tapi sebelum berangkat pulang, ia masih sempat meninggalkan torehan bersejarah di India dengan mengalahkan ratusan cendekiawan agama dalam debat spritual.

Kembali ke kampung halaman

Perjalanan pulang Xuanzang ke Tiongkok nggak serta-merta menjadi lebih mudah. Raja India memang memberi tambahan orang untuk menenami Xuanzang. Tapi kondisi alam yang tak bersahabat dan serangan bandit membuat rombongan Xuanzang hanya tersisa tujuh orang. Lagi-lagi keberuntungan menaungi Xuanzang, yang di perjalanan hampir terkubur hidup-hidup saat melewati daerah pegunungan.

16 tahun setelah memulai perjalanannya ke India, Xuanzang pun tiba kembali di Tiongkok di tahun 644, tepatnya di daerah Xin Jiang. Ia tak langsung melanjutkan perjalanannya ke ibu kota Chang An, karena statusnya masih seorang buronan semenjak ia pergi ke India tanpa mendapat izin Kaisar.

Maka dari itu, Xuanzang mengirim surat pada Kaisar. Lewat surat itu ia menceritakan perjalanan dan pencapaiannya selama berada di India. Dan itu sudah cukup memuaskan Kaisar Tang.

Sorak-sorai penduduk dan pejabat menyambut kepulangan Xuanzang di Chang An di tahun 645. Itu masih disusul dengan perjamuan yang diadakan Kaisar, yang juga menawarkan Xuanzang posisi penasihat kekaisaran. Tapi tawaran sang Kaisar ditolak oleh Xuanzang.

Meskipun begitu, Xuanzang berjanji pada Kaisar bahwa ia akan menuliskan kondisi budaya, ekonomi, politik dari negeri-negeri yang disinggahinya selama perjalanan ke barat. Dan janjinya itulah yang jadi asal mula lahirnya buku legendaris Catatan Perjalanan ke Barat atau Catatan Tang Agung mengenai Xiyu.

Monumen Xuanzang
Monumen Xuanzang via terrafirmatourist.com

Selain menulis dan mendirikan sekolah, Xuanzang menghabiskan sisa hidupnya dengan mengajarkan dan menerjemahkan naskah suci Buddha yang dibawanya dari India. Total ada 73 naskah yang terkumpul dalam 1335 volume yang diterjemahkan Xuanzang dan penerjemah yang disediakan Kaisar Tang.

Setelah melalui petualangan yang begitu panjang dalam hidupnya, di mana 17 tahun dihabiskannya dalam perjalanan dari Chang An ke India dan balik lagi ke Chang An, Xuanzang menghembuskan napas terakhirnya pada 664.

Begitulah secuil dari sejarah asli perjalanan pendeta Tang ke barat. Meskipun di dalamnya tak ada Kera Sakti, siluman babi, atau siluman rawa lumpur, tapi kegigihan Tang Xuanzang yang tak pernah padam, sekalipun di situasi berat, patut kita jadikan inspirasi bukan?

Komentar:

Komentar