Sawney Bean, Legenda Keluarga Kanibal yang Menginspirasi Film Horor Hollywood

Kamu tau 'Hills Have Eyes' 'kan?

Sawney Bean, mungkin nama itu terdengar asing di telinga kamu. Tapi bagi masyarakat Skotlandia abad pertengahan, mendengar nama Sawney Bean sama seperti membayangkan teror yang mengganggu kehidupan mereka. Dalam legenda Britania, Sawney Bean dan keluarganya merupakan komplotan pembunuh yang berhasil merenggut 1000 nyawa selama 25 tahun di abad 16. Korban-korban Sawney Bean tak hanya dibunuh; mereka juga dijadikan ‘santapan’ untuk menghidupi keluarganya.

Banyak sejarawan percaya kalau kisah Sawney Bean tak lebih dari sekadar legenda masyarakat Skotlandia. Meskipun demikian teror kanibalisme Sawney Bean sempat diabadikan dalam beberapa catatan sejarah Britania abad pertengahan. Di industri perfilman, kisah kanibal Skotlandia itu jadi inspirasi film horor klasik besutan Mike Craven yang berjudul Hills Have Eyes.

Sawney Bean/via historicmysteries.com

Sawney Bean lahir di Lothian Timur, Skotlandia akhir abad 15 sebelum Raja James I berkuasa di tanah Britania. Konon saat masih muda, Bean tinggal dan bekerja bersama ayahnya sebagai penggali parit (sumber lain mengatakan pedagang). Bean kerap dipukuli sang ayah hingga babak belur karena kenakalannya. Sampai suatu hari, Sawney Bean memutuskan untuk kabur dan menjalani hidupnya sebagai seorang kriminal.

Tak banyak catatan sejarah yang mencatat kehidupan awal Sawney Bean. Tapi untungnya banyak sumber yang mengisahkan bagian selanjutnya dari kehidupan sang kanibal.

Di tengah kehidupannya sebagai penjahat, Sawney Bean bertemu Anne Douglas yang juga berkecimpung di dunia kriminal. Pasangan penjahat itu kemudian tinggal bersama di rumah yang terpencil dan jauh dari peradaban; gua Bennane.

Gua Bennane yang disebut-sebut pernah jadi tempat tinggal Sawney Bean/via geograph.org.uk

Bean menghidupi istrinya dengan cara merampok pedagang dan pelancong yang melintas di jalan setapak (yang menghubungkan desa-desa), tak jauh dari gua Bennane. Untuk memastikan dirinya tak dilaporkan ke pihak berwenang, Bean selalu membunuh korban-korbannya. Tapi itu pun belum cukup.

Bean kemudian memikirkan bagaimana cara menghilangkan barang bukti (mayat) supaya dirinya tak dicurigai. Alih-alih mengubur mayat korbannya, Bean lebih memilih memotong mayat kecil-kecil untuk dia jadikan santapan bersama istrinya. Ya, itu memang cara yang gila untuk menghilangkan jejak pembunuhan. Tapi di sisi lain, cara itu juga efektif buat mengurangi risiko dicurigai saat mengunjungi desa.

Semenjak menjadi kanibal, Sawney Bean tak perlu lagi datang ke desa Ayrshire untuk membeli persediaan makanan. Dan sejak saat itu pula, Bean mulai memenuhi stok makanannya dengan potongan tubuh manusia yang bergeletakan di gelapnya gua Bennane.

Tapi siapa sangka, protein dari daging manusia ternyata malah membuat Nyonya Douglas subur. Seiring waktu dia pun melahirkan buah hati hingga anaknya berjumlah 14; 8 laki-laki dan 6 perempuan. Dan keempatbelas anak pasangan kanibal itu semuanya dijejali daging manusia hingga tumbuh dewasa.

via southayrshirehistory.wordpress.com

Menurut legenda, anak-anak Sawney Bean melakukan perkawinan sedarah untuk memperpanjang garis keturunan keluarga mereka. Dari perkawinan sedarah lahirlah 32 cucu Sawney Bean yang melengkapi komunitas kanibal di gua Bennane.

Setelah dewasa, satu per satu keturunan Bean mulai ikut merampok serta membunuh pelancong yang melintasi teritori mereka. Bersama-sama, komplotan kanibal yang terdiri dari satu keluarga itu pun semakin mudah menghabisi nyawa beberapa orang sekaligus. Dalam kurun waktu 25 tahun, Sawney Bean dan keluarganya berhasil membunuh kurang lebih 1000 orang.

Potongan mayat biasanya dijadikan acar supaya tak cepat membusuk. Dan terkadang organ tubuh yang tak terpakai dibuang, lalu terbawa ombak di tepi pantai dekat gua Bennane.

Seiring waktu, kabar orang hilang semakin sering bermunculan. Masyarakat di desa-desa setempat mulai mencurigai ada pembunuh yang tinggal di daerah mereka. Penemuan potongan tubuh manusia (yang tercampur bumbu acar) yang bertebaran hampir di seluruh pesisir pantai pun semakin memperkuat dugaan mereka. Alhasil, penduduk setempat mengadakan pemburuan untuk menjerat si pembunuh dan menggiringnya ke pengadilan.

Tapi keberadaan Sawney Bean dan keluarganya tak terlacak karena mereka bersembunyi di dalam gua laut Bennane. Belum lagi saat itu tak ada masyarakat yang menaruh curiga tentang apa yang tersembunyi di dalam gua Bennane. Sarang komplotan kanibal itu akhirnya luput dari perhatian masyarakat.

via stillunfold.com

Namun keberuntungan ternyata tak selamanya berpihak pada keluarga Bean. Suatu malam, beberapa anak dan cucu Bean menyergap pasangan suami-istri yang pulang dari acara festival ke Desa Ayrshire. Para kanibal menyangka kalau pasutri tersebut merupakan sasaran renyah yang gampang ditaklukan. Tapi sayang, dugaan itu salah besar.

Walaupun istrinya berhasil dibunuh, komplotan kanibal dibuat terkejut dengan perlawanan yang dilakukan sang suami. Kemampuan bela dirinya di atas rata-rata. Apalagi laki-laki itu melawan sembari memegang pistol dan pedang di kedua tangannya. Itu pertama kalinya keluarga Sawney Bean dibuat kerepotan dan kebingungan menghadapi satu orang.

Korban akhirnya berhasil menyita waktu untuk membalikkan situasi. Dia diselamatkan penduduk desa yang juga pulang dari acara festival. Keturunan Sawney Bean yang kabur pun akhirnya dikejar sampai ke sarangnya.

Setelah peristiwa itu, warga desa pergi ke Glasgow untuk melaporkan keberadaan Sawney Bean pada pihak berwenang. Merasa penasaran dengan apa yang didengarnya, Raja James I memutuskan untuk ikut mencari komplotan kanibal itu. 400 tentara dan anjing pelacak dibawa ke lokasi pembantaian dan perburuan pun dimulai.

Dengan obor, pasukan James I memasuki gua Bennane sembari menghunuskan pedang mereka. Perjalanan ke sarang keluarga Sawney Bean itu semakin mencekam saat mereka menyaksikan potongan tubuh manusia bergelantungan di dinding-dinding gua yang lembap. Di tempat lain pasukan melihat tumpukan pakaian beserta perhiasan, juga tulang belulang manusia sisa pesta makan keluarga Bean.

Setelah perlawanan singkat, Sawney Bean dan keluarga kanibalnya (total 48 orang) ditangkap dan dibawa ke penjara Edinburgh, Skotlandia. Otoritas Skotlandia menilai kejahatan komplotan Bean begitu keji hingga hukum peradilan yang ada pun dinilai tak mampu memberikan ganjaran setimpal. Seluruh anggota keluarga Sawney Bean dijatuhi hukuman mati.

Keesokan harinya, 27 laki-laki kanibal dieksekusi mati dengan cara yang brutal. Kedua kaki dan tangan mereka dipotong, lalu dibiarkan mati kehabisan darah (metode yang juga biasa digunakan kanibal untuk menghabisi korbannya). Eksekusi laki-laki itu ditonton oleh para wanita keluarga Sawney Bean, yang akhirnya dieksekusi mati juga dengan cara dibakar hidup-hidup.

Hills Have Eyes/via fsharephim.com

Kisah Sawney Bean sempat diangkat ke dalam novel, drama, dan juga film. Di zaman modern, legenda Sawney Bean menginspirasi beberapa film horor Hollywood seperti Hills Have Eyes (2006), Wrong Turn (2003), dan Sawney: Flesh of Man (2012). Buat kamu yang pengin lihat kisah keluarga kanibal di zaman modern, langsung aja kamu tonton deh filmnya.

- Advertisement -
Shares 6

Komentar:

Komentar