Mengenal Jules Brunet, Sosok yang Jadi Inspirasi untuk Film The Last Samurai

Jules Brunet (kedua dari kanan bawah) bersama pimpinan Republik Ezo/via Wikimedia Commons

:

Mengangkat kisah nyata menjadi sebuah film bukanlah tugas yang mudah. Seringkali ada ketidaksesuaian fakta antara adegan dalam film dengan sumber sejarahnya. Jadi untuk bermain aman, beberapa sutradara film menggunakan sejarah hanya sebagai sumber inspirasi saja. Namun setidaknya, lewat film-film bertema sejarah, tokoh-tokoh terlupakan dalam sejarah umat manusia bisa dikenali oleh banyak orang.

Salah satu karya menarik yang terinspirasi dari tokoh bersejarah adalah film The Last Samurai. Tak banyak yang tahu bahwa sosok yang diperankan Tom Cruise itu terinspirasi dari seorang tentara asal Prancis bernama Jules Brunet.

Jules Brunet (kedua dari kanan bawah) bersama teman-teman militernya/via Wikimedia Commons

Brunet lahir di Belfort, Prancis pada tanggal 2 Januari 1838. Ia memulai kariernya militernya sebagai tentara yang berfokus pada pengetahuan di bidang artileri. Salah satu pencapaiannya di bidang militer terjadi pada tahun 1862, ketika Brunet ditugaskan untuk terjun dalam peperangan dalam rangka intervensi Prancis ke Meksiko. Setelah menyelesaikan tugasnya dengan baik di perang tersebut, ia diberikan penghargaan Légion d’honneur – sebuah penghargaan militer tertinggi di Prancis.

Di tahun 1867, Brunet masuk dalam anggota militer yang ditugaskan ke Jepang sebagai bala bantuan dari Napoleon III untuk para shogun dan bakufu (pejabat dan pemerintahan militer yang berkuasa di Jepang). Jepang, yang kala itu masih merupakan negeri feodal agraris, menginginkan bantuan militer Perancis untuk memodernisasi persenjataan dan strategi perang.

Satu tahun setelah tentara Prancis berdiam di Jepang, kekacauan politik meletus. Jepang dilanda perang saudara antara shogun versus para bangsawan/samurai feodal pemberontak yang menuntut revolusi politik. Setidaknya ada dua tuntutan utama dari kubu yang disebut terakhir, yakni:

  • Kembalikan kekuasaan politik (yang sebelumnya didominasi shogun) ke Kaisar Jepang
  • Usir bangsa-bangsa asing yang memasuki Jepang, dan hapus pengaruh mereka di bidang politik, ekonomi, serta kebudayaan
Ilustrasi samurai pemberontak karya Jules Brunet/via kcpinternational.com

Saat Perang Boshin terjadi, negara-negara asing sebenarnya memilih untuk bersikap netral. Untuk menghindari konflik lebih lanjut dengan pemberontak, Prancis pun sampai menarik kembali semua tentaranya pulang. Namun, Jules Brunet punya pemikiran berbeda.

Ya, Brunet memutuskan tetap tinggal di Jepang untuk membantu shogun di Perang Boshin. Sejauh ini belum ada sumber yang menjelaskan kenapa Brunet memilih tinggal di Jepang. Namun, Brunet sempat menulis sepucuk surat untuk Napoleon III yang isinya menjelaskan bahwa dia ingin membantu shogun.


Brunet dan salah satu koleganya di militer, Andre Cazeneuve, akhirnya turut mengantar rombongan shogun dari Edo (Tokyo) ke Kyoto (ibu kota kekaisaran saat itu). Tujuan dari perjalanan panjang ini tak lain adalah untuk mengirim surat penolakan perpindahan kekuasaan dari shogun ke Kaisar Jepang.

Tapi nasib buruk menimpa rombongan ini. Kehadiran mereka ditolak oleh para tentara pemberontak yang telah menerima dukungan penuh kaisar. Pertempuran antara tentara pendukung shogun dan pemberontak pun kemudian terjadi. Walaupun jumlah pasukan shogun lebih besar dari lawannya, mereka mesti menerima kenyataan pahit. Mereka kalah dalam pertempuran yang berlangsung selama empat hari ini. Tak ayal, kekalahan pasukan shogun membuat banyak simpatisan mereka yang membelot. Dalam sejarah perang Boshin, konflik berdarah ini dikenal sebagai Pertempuran Toba-Fushiki.

Kalah di Pertempuran Toba-Fushiki, Brunet, Cazeneuve, dan seorang bangsawan bernama Enomoto Takeaki memutuskan kembali ke Edo dengan menaiki kapal Fujisan. Enomoto sendiri adalah komandan angkatan laut bakufu yang menolak tunduk pada kaisar. Sementara Tokugawa Yoshinobu (shogun terakhir) sudah menyatakan lengser keprabon, Enomoto dan segelintir pendukung setia shogun masih ngotot melanjutkan perlawanan.

Tapi ternyata keadaan di Edo tak jauh berbeda dari Kyoto. Tentara pemberontak sudah menguasai kota.

Setelah menyaksikan langsung jatuhnya pusat kekuasaan bakufu, Brunet dan Enomoto pun kabur ke Hokkaido. Di pulau itu pula Enomoto mengobarkan perlawanan terakhirnya dan membangun negara baru yang dinamai Republik Ezo. Untuk memperkuat militer Ezo dalam upaya memenangkan perang melawan kubu pendukung kaisar, Enomoto memberikan kepercayaan kepada Brunet untuk mengisi pos penasihat militer.

Jules Brunet (kedua dari kiri bawah) bersama pimpinan Republik Ezo/via Wikimedia Commons

Perang Boshin pun memasuki titik akhirnya di kota pelabuhan Hakodate, Hokkaido, pada bulan Desember 1868, dengan kekalahan telak untuk pasukan Ezo. Beberapa sumber mengatakan bahwa kekalahan mereka kemungkinan besar dipengaruhi oleh persediaan senjata yang minim.

Karena keterlibatan Brunet dalam menentang kaisar, ia masuk dalam daftar buronan kekaisaran saat itu. Tapi untungnya, ia dan kolega-kolega Prancis-nya berhasil kabur ke negeri asal mereka dengan menaiki kapal perang Coëtlogon yang berdiam di Pelabuhan Hakodate.

Pemerintah Jepang sebenarnya menginginkan Brunet untuk tetap dihukum karena keterlibatannya dalam mendukung shogun saat perang. Tapi tuntutan Jepang tak dipenuhi pemerintah Prancis yang lebih mendukung aksi Brunet. Kisah heroisme Brunet dan kawan-kawannya terlanjur merebut hati rakyat Prancis. Alih-alih mendapat hukuman berat, di tahun 1870 ia diperbolehkan bergabung kembali dengan militer Prancis, dengan syarat kehilangan gelar seniornya. Tak lama dari situ, ia pun kembali ke medan perang dan memberikan beberapa kontribusi penting pada militer Perancis.

via Wikimedia Commons

Setelah puluhan tahun bertugas di militer, Brunet wafat pada tahun 1911. Namun kisah heroik Brunet saat membantu shogun di Jepang bisa diketahui generasi masa kini lewat The Last Samurai.

Film The Last Samurai tak sepenuhnya mendasarkan diri dari kisah nyata Jules Brunet. Ada banyak unsur dramatisasi yang kurang akurat kalau ditinjau dari sudut pandang sejarah. Judulnya saja “Samurai Terakhir”, dan Jules Brunet jelas bukan samurai terakhir yang ada di Jepang atau seluruh dunia.

Tapi setidaknya, lewat film itu, kita bisa tahu mengenai orang Prancis yang jiwanya tergugah oleh semangat samurai Jepang. Ia bahkan rela untuk turut serta dalam peperangan yang tak ada sangkut pautnya dengan tanah kelahirannya.

Prabu Pramayougha :