Menelusuri Kisah Himiko, Ratu Cenayang yang Pernah Memimpin Jepang di Zaman Kuno

Ratu yang memimpin dataran Jepang di abad 3

Konon, dahulu kala di dataran Jepang hidup seorang ratu yang memimpin satu negeri dengan kekuatan magisnya. Dialah pemimpin sekaligus cenayang yang dipuja dan dihormati oleh rakyatnya. Dia adalah Ratu Himiko, tokoh pemimpin yang pertama kali tercatat dalam sejarah Jepang.

via tofugu.com

Dalam bahasa Jepang kuno, nama ‘Himiko’ memiliki arti ‘anak matahari’ atau ‘putri matahari’. Nama itu erat kaitannya dengan Dewa Matahari, Amaterasu di kepercayaan Shinto.

Masa kepemimpinan Ratu Himiko terentang di awal sampai pertengahan abad 3 (tahun 190–248), jauh sebelum kepulauan Jepang jadi negara yang utuh seperti sekarang. Dulu, Jepang kuno saat periode Yayoi (300 SM sampai tahun 300) masih terdiri dari ratusan negara dan klan yang tergabung dalam beberapa wilayah persekutuan. Antara tahun 147-190, perseteruan antar wilayah kekuasaan sering terjadi, hingga akhirnya rakyat memutuskan untuk mengangkat seorang pemimpin yang dinilai sanggup mempersatukan mereka.

Maka di tahun 190, lahirlah kerajaan Yamatai yang menaungi sekitar 30 federasi (wilayah persekutuan), dengan Ratu Himiko sebagai pemimpinnya.

Kira-kira apa yang membuat Ratu Himiko ditunjuk sebagai pemimpin?

Bagi masyarakat Jepang kuno yang masih menganut ajaran Shinto, cenayang wanita sangat dihormati dan dipercaya mampu menangkal roh jahat (penyebab bencana). Masyarakat era Yayoi juga yakin kalau cenayang seperti Himiko diberkati kekuatan gaib yang memungkinkan dia berkomunikasi dengan para Dewa (Kami). Yup, kepemimpinan Himiko seutuhnya dilatarbelakangi  kepercayaan spiritual masyarakat Yayoi, bukan karena faktor militer atau politik.

Tapi itu semua tak pernah memengaruhi citra Himiko sebagai Ratu kerajaan Yamatai. Di masa kepemimpinannya, Himiko sanggup mengubah kehidupan masyarakat Jepang ke arah yang lebih baik (baik dari segi sosial maupun ekonomi), serta mampu memelihara kedamaian selama hampir 60 tahun lamanya.

Miniatur istana Yamatai/via heritageofjapan.wordpress.com

Ratu Himiko sendiri tinggal di dalam istana, lengkap dengan menara pengintai dan prajurit bersenjata yang menjaganya. Konon, dia memiliki 1000 pembantu wanita dan satu orang laki-laki yang juga merangkap sebagai juru bicara. Juru bicara bertugas sebagai penyampai instruksi dan harapan sang Ratu pada masyarakatnya.

Ya, sebagai seorang cenayang, Himiko lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam istana (mungkin untuk berdoa serta menjalani ritual keagamaan). Dia berbagi tanggung jawab dengan adik laki-lakinya yang berperan sebagai duta besar Yamatai untuk kekaisaran di Tiongkok. Selain mengemban tanggung jawab sebagai pemimpin Yamatai, Himiko pun sering mengirim misi diplomatik ke Tiongkok, negeri yang saat itu jauh lebih superior dari Yamatai. Setidaknya dia mengirim utusan empat kali selama masa pemerintahannya.

Suatu waktu, utusan Yamatai pergi ke kerajaan Wei untuk mengirim upeti sekaligus menyampaikan penghormatan sang Ratu pada Kaisar Wei. Saat itu Tiongkok terbagi jadi tiga kerajaan: Wei, Shu, dan Wu. Wei dianggap (dan menganggap diri) sebagai penerus sah dari dinasti Han yang berkuasa sebelumnya.

Atas diplomasi tersebut, Wei menganugrahi Himiko dengan gelar Ratu Wa Sekutu Wei, serta menghadiahi sang ratu dengan segel emas dan 100 cermin perunggu. Pada masa itu, cermin perunggu dianggap sebagai barang mewah yang mewakili status sosial.

Wa sendiri merupakan sebutan orang Tiongkok untuk Jepang kala itu.

via heritageofjapan.wordpress.com

Catatan sejarah Tiongkok menyebut Ratu Himiko sebagai pemimpin yang luar biasa. Sayangnya, di tahun 248 Ratu Himiko wafat. Tak lama berselang seorang pria (yang tak diketahui namanya) berhasil mengambil alih kursi takhta sang ratu. Tapi masa pemerintahannya berlangsung singkat karena banyak mendapat perlawanan rakyat. Akhirnya rakyat pun mengangkat gadis 13 tahun bernama Iyo sebagai Ratu yang baru. Sama seperti Himiko, Iyo merupakan cenayang wanita yang sangat dihormati oleh para pengikutnya.

Sebagai tanda penghormatan terakhir pada Ratu Himiko, kerajaan Yamatai membangun gundukan makam berdiameter 100 meter. 100 budak pun turut dikorbankan untuk mendampingi sang ratu di alam kubur.

Perlu kamu tahu, sebagian besar kisah Ratu Himiko di atas berasal dari kumpulan teks kuno yang ditulis sejarawan Wei. Banyak sejarawan masa kini yang menganggap catatan sejarah Wei sebagai bukti nyata kepemimpinan Ratu Himiko di Yamatai. Pada masa kepemimpinan Himiko, masyarakat Jepang memang belum mempraktikkan budaya tulisan. Bahkan nama Himiko sempat hilang dari sejarah Jepang sampai periode Edo (1600-1868).

Mengapa demikian? Alasan utamanya mungkin karena catatan sejarah pertama Jepang, Kojiki (712) dan Nihogi (720) menceritakan Himiko dengan nada yang menghina. Jauh berbeda dengan apa yang tertulis di teks kuno milik kerajaan Wei.

Para sejarawan menganggap hilangnya sejarah Himiko dikarenakan adanya pengaruh ideologi patriarki dari Tiongkok di Kekaisaran Jepang pada abad 8. Ideologi tersebut jelas berbenturan dengan konsep cenayang wanita; tradisi yang dulu dipercaya oleh masyarakat era Yayoi. Ajaran Buddha dan Kong Hu Cu yang mulai masuk ke Jepang di abad 8 pun tak bisa memengaruhi status wanita di budaya patriarki Jepang. Alhasil, sejarah tentang Ratu Himiko sempat dianggap tak pernah ada oleh masyarakat Jepang.

Barulah di periode Edo, Ratu Himiko mulai kembali jadi sorotan sejarawan dan filsuf Jepang seperti Arai Hakuseki dan Motoori Norinaga. Bersamaan dengan itu, terjadi perdebatan di antara sejarawan Jepang mengenai lokasi Yamatai dan makam Ratu Himiko, setidaknya sampai akhir Perang Dunia II.

Walaupun keberadaan Ratu Himiko sempat diacuhkan dalam sejarah Jepang, kini banyak masyarakat Jepang yang mengenang Ratu Himiko lewat festival kebudayaan di berbagai daerah. Nama ‘Himiko’ pun termasuk salah satu yang pertama kali disebut di pelajaran sejarah Jepang. Dan yang terpenting, Himiko jadi simbol kepemimpinan wanita yang kisahnya sanggup menginspirasi wanita Jepang yang bercita-cita jadi pemimpin di tengah masyarakat.

- Advertisement -
Shares 12

Komentar:

Komentar