Menelusuri Kisah Hidup Raja Carlos II dari Spanyol, Buruk Rupa karena Kesalahan Keluarganya

Lebih tragis dari Romeo-Juliet

Ketika mendengar kata “Raja”, apa yang ada di benak kita pastilah sosok pria yang berwibawa, perkasa, dan punya karakter yang bisa bikin siapa pun tunduk di hadapannya. Atau kamu yang suka sama dongeng mungkin membayangkan pria tampan dengan kuda putih yang mampu menaklukkan kerajaan dan hati putri-putri Disney.

Penggambaran kayak gitu sebenernya sah-sah saja. Toh Alexander the Great pun diketahui memiliki wajah yang tampan di samping kepiawaiannya memimpin kerajaan. Tapi di artikel ini kita ngggak akan membahas tentang Alexander the Great, melainkan Carlos II dari Spanyol yang punya reputasi sebagai raja paling buruk rupa sepanjang sejarah.

Carlos II of Spain/via allthatsinteresting.com

Raja Carlos merupakan generasi ke-16 dari dinasti Hepsburg. Di masa kejayaannya, dinasti ini sering kali melakukan praktik yang banyak dilakukan anggota kerajaan zaman dulu, yaitu perkawinan sedarah. Mereka yakin bahwa dengan mengawinkan orang-orang di dalam keluarga kerajaan, garis keturunan mereka akan semakin kuat.

Hepsburg paling anti menikahkan anggota keluarganya dengan rakyat biasa. Dan ironisnya, hal itu justru malah membuat rezim Hepsburg tumbang di kemudian hari.

Hepsburg dengan sengaja menyewa seniman untuk melukis Carlos II dengan penampilan normal semenjak kecil/via ranker.com

Raja terakhir mereka, Carlos II, lahir dengan masalah genetis yang membuat kondisi fisiknya tak seperti manusia normal. Carlos memiliki tubuh kurus dan lemah, tak selaras dengan ukuran kepalanya yang besar. Rahangnya yang menojol ke depan membuat ia seringkali kesulitan mengunyah makanan. Dan ia pun terus meneteskan air liur karena lidahnya yang besar pula.

Nggak cuma itu, masalah genetis membuat kondisi mental dan kesehatan Carlos terganggu. Bayangkan, Carlos baru bisa bicara pada umur 4 tahun dan mampu berjalan saat menginjak usia 8 tahun. Semasa hidupnya ia sering sakit-sakitan. Diare dan kejang-kejang adalah dua gangguan kesehatan yang paling sering ia alami. Kondisi tersebut membuat hidup Carlos cenderung bergantung kepada orang-orang di sekitarnya.

Hmm.. menyedihkan memang, apalagi mengingat bahwa Carlos II adalah “korban” dari perkawinan sedarah dinasti Hepsburg. Hubungan antara ayah dan ibu Carlos adalah paman dan keponakan. Dengan kata lain, berarti ibunya Carlos masih bisa dianggap juga sebagai sepupunya sendiri. Wow! Pernikahan antara paman dan keponakan dan sepupu dengan sepupu paling sering terjadi di dinasti Hepsburg.

Sebagian silsilah dinasti Hepsburg dan perkawinan internalnya/via ranker.com

Pada tahun 1665, ketika masih menginjak usia 4 tahun Carlos sudah dinobatkan menjadi raja. Waktu itu ia masih didampingi ibunya yang berperan sebagai bupati selama 10 tahun sampai Carlos remaja. Namun ketidakmampuan Carlos menjadi raja sebagaimana mestinya, membuat Hepsburg menunjuk seorang “Primer Ministro atau Perdana Menteri kerajaan untuk pertama kalinya di pemerintahan mereka.

Carlos akhirnya menikah pada usia 18 tahun. Ia dijodohkan dengan Marie Louise dari Orleans, keponakan perempuannya sendiri. Marie tahu bahwa Carlos bukanlah pria idamannya; ia dianggap pria yang lemah dan jelek pula. Seorang duta besar Perancis bahkan sampai menulis surat ke istana Spanyol, di mana isi suratnya menjelaskan bahwa Marie sama sekali tidak ingin berhubungan (intim) dengan Carlos.

“Raja itu sangat jelek dan menakutkan, dan ia terlihat sakit,” kata duta besar di dalam suratnya. Marie Louise kemudian meninggal di tahun 1689 tanpa melahirkan keturunan dari Carlos.

Setelah kematian istri pertama Carlos, orang-orang pemerintah mulai depresi. Karena di usianya yang sudah dewasa (dan kondisinya yang semakin melemah), sang raja belum memiliki keturunan untuk mewarisi takhta kerajaan dan memperkuat rezim mereka. Perdana Menteri dan penasihat kerajaan akhirnya mulai bersiasat untuk mengatur pernikahan Carlos yang kedua.

Lukisan Anne-Marie dari Neuborg. via allthatsinteresting.com

Kali ini Carlos menikah dengan Marie-Anne dari Neuborg, pernikahan yang digelar hanya dua minggu setelah Marie Loiuse meninggal. Marie-Anne dijodohkan dengan Carlos II oleh ibunya sendiri, Mariana dari Austria. Keluarga Mariana dikenal memiliki sejarah kesuburan yang tinggi, di mana mereka bisa melahirkan banyak anak. Mariana sendiri telah melahirkan 23 keturunan di sepanjang hidupnya. Oleh karena itu Hapsburg berharap Anne-Marie bisa melahirkan anak dari Carlos II. Berbeda dengan Marie Louise, Marie-Anne adalah istri yang lebih terbuka dan mau berdamai dengan semua kekurangan yang dimiliki suaminya. Intinya, ia mau berhubungan intim.

Tapi mirisnya, Carlos ternyata menderita impotensi dan tak akan pernah bisa menghasilkan keturunan. Penyakit impotensi yang diderita Carlos pun termasuk salah satu masalah genetis yang ia bawa sejak lahir akibat perkawinan sedarah keluarganya.

Carlos meninggal karena komplikasi penyakit pada tahun 1700 di usianya yang ke-39. Kematian Carlos yang tanpa pewaris memicu Perang Penerus Spanyol yang berlangsung selama 12 tahun. Dinasti Hepsburg pun akhirnya runtuh karena perkawinan sedarah yang mereka anggap bisa memperkuat kekuasaan mereka. What an irony!

Sungguh menderita jika membayangkan hidup sebagai Carlos II. Gelar raja dan kesan glamor yang melekat padanya tentu tidak sebanding dengan semua kesulitan hidup yang mesti ia lalui. Dan itu bukan karena kesalahan Carlos, melainkan karena tradisi dari Dinasti Hepsburg.

Kisah Carlos II memang menyedihkan. Lebih sedih dari kisah Romeo dan Juliet maupun Layla dan Majnun. Kisahnya juga menjadi contoh bahwa perkawinan antar saudara itu berbahaya. Kamu gak kepikiran buat melakukannya ‘kan? 

- Advertisement -
45 Shares

Komentar:

Komentar