Membaca Kembali Sepak Terjang Miyamoto Musashi, Samurai Legendaris yang Serba Bisa

Miyamoto Musashi, sang samurai segala zaman

Pernah baca novel Eiji Yoshikawa yang berjudul Musashi? Atau kamu pernah melahap manga Vagabond karya Takehiko Inoue? Yeah, saya sendiri nggak sungkan menyebut dua buku fiksi tersebut sebagai karya brilian yang lahir dari tangan dingin pengarang jempolan. Sayang beribu sayang, Vagabond sering hiatus.

via pinterest.com

Tapi seberapa pun kerennya dua karya itu, mereka tetap mengandung unsur fiksi, seperti halnya Cao Cao yang dijadikan karakter antagonis dalam novel Romance of Three Kingdoms. Padahal, belum tentu juga kan Cao Cao itu sekejam yang digambarkan dalam novel. Mungkin saja itu cuma bayangan sang pengarangnya, Luo Guanzhong.

Balik lagi ke topik: lantas siapakah Miyamoto Musashi itu? Kenapa ia sering disebut-sebut sebagai pendekar samurai terhebat sepanjang masa? Mari kita simak sepak terjangnya di bawah ini.

Sekilas tentang latar belakang Musashi

Miyamoto Musashi, yang kemudian dikenal dengan panggilan Musashi, adalah seorang samurai dan ronin (samurai pengembara) ternama pada awal zaman Edo. Ia sebenarnya terlahir dengan nama yang cukup panjang: Shinmen Musashi no Kami Fujiwara no Genshin.

Lalu dari mana ia dapat nama Miyamoto? Apa itu nama produk vetsin saingan Ajinomoto? Jelas bukan. Miyamoto itu diambil dari nama desa tempat Musashi dilahirkan.

Musashi juga rupanya mewarisi darah ayahnya yang merupakan ahli bela diri sekaligus ahli pedang dan jitte (senjata yang dipakai polisi di era Edo). Menyandang status sebagai anak dari orang yang ahli di bidang berantem memang mengagumkan. Tapi Musashi bukanlah orang yang mengandalkan nama ayahnya belaka.

via miyamotomusashi.eu

Duel pertama Musashi

Duel pertama Musashi terjadi saat usianya masih belia, yakni 13 tahun. Di zaman sekarang usianya itu bisa disamakan dengan anak SMP yang baru puber dan mendapat jerawat pertamanya!

Musashi yang pada saat itu tengah tinggal di kuil bersama pamannya, mendengar berita bahwa seorang samurai bernama Arima Kihei datang ke wilayah tempat tinggalnya guna mencari lawan duel. Kihei mengumumkan ke seluruh penjuru daerah bahwa ia menantang siapa pun yang punya nyali untuk melawannya.

Mendengar hal itu, Musashi mendaftarkan namanya untuk dapat berduel dengan Kihei.

Musashi yang notabene masih bocah ingusan tentunya dianggap remeh oleh Kihei. Namun di akhir duel, Musahi dengan menggunakan pedang kayu yang disebut bokuto (saat ini lebih sering disebut bokken) berhasil membuat Kihei bertekuk lutut.

Duel dengan klan Kyoto

Nama sebenarnya dari klan tersebut adalah Yoshioka, yang di tahun 1604 dikenal sebagai sekumpulan ahli pedang di Kyoto. Musashi yang bertekad untuk mendapat ketenaran pun menantang duel Yoshioka Seijuro yang saat itu merapakan kepala keluarga Yoshioka.

Duel antara Seijuro dan Musashi terjadi pada 8 Maret 1604, dengan hasil Musashi berhasil menjatuhkan dan mematahkan lengan Seijuro. Kemenangan Musashi atas Seijuro membuat nama terakhir mundur sebagai kepala keluarga Yoshioka. Seijuro akhirnya menjadi biarawan.

via catchthispilum.com

Namun kegemilangan Musashi nggak berhenti sampai di situ. Yoshioka Denshichiro, adik dari Seijuro, mengambil giliran maju menggantikan sang kakak dan menantang Musashi untuk berduel. Hasil akhir: Musashi menang, Denshichiro mati terbunuh. Kematiannya bahkan sampai membuat klan Yoshioka terpukul. Mereka bersumpah untuk menuntut balas dengan cara melenyapkan Musashi dari muka bumi.

Duel dengan klan Kyoto (II)

Setelah kematian Denshichiro, klan Yoshioka selanjutnya dipimpin Matashichiro yang masih berusia dua belas tahun. Tak berselang lama, klan Yoshioka kembali menantang Musashi untuk duel dengan Matashichiro di malam hari.

Duel di malam hari bukanlah hal yang lumrah untuk dilakukan, dan ini membuat Musashi curiga. Ia memutuskan untuk datang sebelum waktu yang ditentukan, lalu bersembunyi dan mengamati apa yang direncanakan musuhnya.

Saat yang ditunggu pun tiba. Demi melihat Matashiciro datang dengan memakai atribut perang lengkap, Musashi tersadar bahwa klan Yoshioka mengincar nyawanya.

Musashi pun menunggu saat yang tepat untuk menyerang Matashichiro. Tapi setelah ia berhasil membunuh Matashichiro, orang-orang Yoshioka bermunculan dan berusaha menghentikannya, usaha yang akhirnya berujung dengan kegagalan.

Dengan tewasnya Matashichiro di tangan Musashi, kejayaan klan Yoshioka berakhir sudah.

Duel dengan Sasaki Kojiro

via guide-japan.seesaa.net

Tahun 1612 merupakan salah satu masa yang paling dikenang dari perjalanan seorang Miyamoto Musashi. Karena di tahun itulah Musashi berhadapan dengan musuh abadinya yang juga ahli dalam seni berpedang, Sasaki Kojiro.

Nggak hanya sarat dengan rivalitas, duel Musashi vs Sasaki pun menjadi duel yang paling diingat dari perjalanan karier seorang Sasaki Kojiro. Kala itu, Musashi berhasil mengalahkan Kojiro dengan menggunakan pedang yang berasal dari dayung perahu.

Pedang kayu (bokken) yang dibuat oleh Musashi lebih panjang dari nodachi (pedang panjang)yang dipakai Sasaki. Duel berjalan sengit. Tapi satu serangan dari pedang kayu Musashi yang ditujukan pada tengkorak mampu membunuh Kojiro.

Sebenarnya ada banyak perdebatan mengenai duel antara dua jagoan pedang ini. Ada pendapat yang bilang kalau Musashi sengaja terlambat datang untuk memancing amarah Sasaki. Versi lain mengatakan Sasaki sampai memaki Musashi yang datang terlambat. Dan amarahnya itu hanya dibalas Musashi dengan senyuman, yang tentu saja, membuat Sasaki makin meledak.

Bahkan alasan kenapa Musashi datang terlambat, atau kemungkinan Musashi berlaku curang demi memenangkan duel, masih jadi bahan perdebatan.

Musashi dan Para Ahli Senjata

Kehidupan Musashi nggak hanya diisi dengan duel melawan ahli pedang, ia juga bertarung dan mengalahkan ahli senjata lainnya. Tahun 1607 Musashi pernah melawan Shishido Baiken, sang ahli kusarigama (sabit berantai). Pada akhirnya Baiken tewas di tangan Musashi, meskipun ia sempat mengucapkan terima kasih pada Musashi sebelum menghembuskan napas terakhirnya.

Oh ya, begini nih penampakan kusarigama:

via legendsofwindemere.com

Pada tahun yang sama, Musashi juga melawan Muso Gonnosuke yang merupakan ahli jojutsu (senjata semacam tongkat pendek).

via martialartsvideo.com

Go Rin No Sho

Di tahun 1640, Musashi bergabung dengan klan Hosokawa, salah satu klan besar yang termasuk dalam daimyo (bangsawan feodal) di Jepang. Selang beberapa tahun setelahnya ia mulai menulis  buku The Book of Five Rings atau Go Rin No Sho. Musashi dengan kesehatannya yang semakin menurun kemudian memutuskan untuk menyendiri demi menyelesaikan Go Rin No Sho. Buku ini berisi tentang kisah perjalanan hidupnya dan berbagai macam strategi serta teknik yang ia gunakan selama hidupnya.

Di balik segala kemampuannya dalam strategi dan menggunakan senjata, ternyata Musashi juga memiliki talenta lain. Pasti kamu nggak akan menyangka kalau Musashi juga ahli dalam melukis dan kaligrafi. Musashi adalah seorang murid dari ajaran Budha Zen, yang memberikan pengaruh Musashi pada teknik bermain pedang maupun melukisnya.

Pertanyaan berikut mungkin agak kurang nyambung sama pembahasan di atas. Tapi… kalau di sejarah Indonesia, kira-kira Musashi mirip dengan siapa ya?

- Advertisement -
Shares 11

Komentar:

Komentar