Kisah Pilu Collyer Bersaudara, Penimbun Sampah yang Tewas oleh Jebakan Mereka Sendiri

Buanglah sampah di rumah sendiri

:

Selain orang-orang normal, planet Bumi ini juga dihuni oleh orang-orang yang punya obsesi aneh. Mungkin kamu sering dengar kisah tentang orang yang terobsesi sama selebriti, sampai-sampai mereka menguntit dan meneror sang idola. Atau mungkin kamu kenal orang yang terobsesi dengan harta, takhta, dan wanita?

Wah, nggak deng. Orang yang obsesinya harta, takhta, wanita mah nggak aneh. Yang aneh itu orang yang obsesinya menimbun barang-barang (lebih tepatnya, sampah) di rumah.

Fenomena menimbun barang sebetulnya sudah ada sejak zaman kuno. Dan nggak jarang mereka yang gemar menimbun malah tewas terkubur tumpukan barangnya sendiri. Kalau dilihat dari sudut pandang psikologis, fenomena semacam ini belum sepenuhnya dipahami para ahli.

Salah satu kasus terparah menyangkut penimbunan barang datang dari New York, Amerika Serikat di tahun 1947. Saat itu, dua bersaudara Langley dan Homer Collyer ditemukan tewas di bawah tumpukan sampah seberat 120 ton di dalam rumah mereka sendiri. Hmm… sebagai perbandingan, 120 ton itu lebih berat dari bobot seekor paus biru.

Pada tanggal 21 Maret 1947, seorang warga menelepon kantor polisi di New York dan mengeluhkan bau busuk yang berasal dari rumah tua di 2078 Fifth Avenue. Karena sebelumnya pernah ada keluhan serupa dari warga, kepolisian New York tanpa ba-bi-bu langsung mengirim petugas ke lokasi kejadian.

via allthatsinteresting.com

Begitu sampai di depan rumah, enam petugas polisi nggak bisa menemukan jalan masuk. Jendela-jendelanya dipalang jeruji besi, bel pintu hilang, dan pintu masuknya terhalang tumpukan barang seperti koran bekas, kursi, dan peti kayu.

Sewaktu polisi dan warga membuang sampah tersebut ke jalan, seorang petugas berhasil masuk lewat jendela di lantai dua. Di lantai dua pun petugas itu mesti menggali tumpukan sampah selama lima jam, sebelum akhirnya menemukan Homer Collyer yang sudah terbujur kaku. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Homer diperkirakan tewas 10 jam sebelum petugas tiba. Kematiannya disebabkan kelaparan dan penyakit jantung yang dideritanya.


Sebelum jasad Homer diperiksa, polisi awalnya curiga kalau ia dibunuh adiknya sendiri, Langley Collyer. Bahkan sempat beredar rumor yang menyebut Langley sebenarnya adalah penipu dan pembunuh bayaran. Lalu ia melarikan diri usai menghabisi nyawa kakaknya sendiri.

via allthatsinteresting.com

Proses pengangkutan sampah dari rumah Collyer bersaudara berlangsung selama berminggu-minggu. Warga setempat pun banyak yang berkumpul saat petugas mengeluarkan segala jenis barang tak terpakai dari dalam rumah, mulai dari koran-koran bekas, piano, sampai mesin rontgen.

Setelah hampir tiga minggu membersihkan rumah Collyer, petugas tak sengaja menemukan jasad Langley Collyer. Langley terkubur di terowongan sempit yang tersusun dari lemari kecil dan per kasur. Penemuan tersebut membuat polisi mencabut status Langley sebagai buronan, sekaligus menepis rumor pembunuhan yang sudah beredar di masyarakat.

Menariknya, tubuh Langley hanya berjarak beberapa meter dari tempat Homer ditemukan. Tapi mungkin saking tebal dan tingginya tumpukan sampah, petugas butuh waktu lama untuk menemukannya. Pihak berwenang memperkirakan Langley tewas dua minggu sebelum kematian Homer. Dan sebetulnya, mayatnya pula yang menyebabkan warga mengeluhkan bau busuk dari rumah tua tersebut.

Sampai sini pasti kamu mulai penasaran tentang asal-usul Collyer bersaudara, dan alasan kenapa mereka “menghias” seisi rumah dengan sampah yang menggunung.

Langley Collyer/via geni.com

Homer Lusk Collyer dan Langley Wakeman Collyer masing-masing lahir di tahun 1881 dan 1885. Ayah mereka berprofesi sebagai dokter yang bertugas di Manhattan, New York. Keluarga Collyer mulai pindah ke Harlem, 2078 Fifth Avenue saat sang ayah  ditugaskan di rumah sakit Bellevue.

Nggak ada yang aneh dengan masa muda Collyer bersaudara di Harlem. Bahkan mereka tercatat sebagai lulusan Universitas Columbia. Homer lulus dengan menyandang gelar sarjana hukum maritim, sementara adiknya adalah sarjana teknik dan kimia.

Saat orang tua mereka berpisah di tahun 1919, Homer dan Langley memilih tinggal bersama ibunya di Harlem. Sepeninggal sang ibu di tahun 1929, Collyer bersaudara belum sepenuhnya menarik diri dari masyarakat. Saat itu, Homer terus mempelajari ilmu hukum, sedangkan Langley sibuk jual beli piano.

Kehidupan normal Collyer bersaudara mencapai titik balik saat Homer menderita strok yang menyebabkan ia kehilangan penglihatannya. Ketidakberdayaan Homer akhirnya memaksa Langley berhenti dari pekerjaannya demi menjaga dan merawat sang kakak. Penyakit Homer, ditambah munculnya komunitas kulit hitam di jalan Fifth Avenue, membuat Collyer bersaudara undur diri dari pergaulan sosial.

Langley merawat saudaranya sebaik mungkin. Tapi entah mengapa, mereka berdua enggan pergi ke rumah sakit. Langley lebih memilih mengobati kakaknya dengan program diet 100 buah jeruk, roti hitam, dan selai kacang setiap minggu. Dengan cara itu, ia percaya penglihatan kakaknya akan pulih suatu saat nanti.

Setiap hari, Langley selalu meluangkan waktu membacakan buku atau memainkan piano untuk menghibur kakaknya. Mirisnya, penyakit strok Homer makin parah sampai akhirnya ia lumpuh total. Di waktu yang bersamaan, Langley dan Homer sudah sepenuhnya kehilangan sumber pendapatan. Pihak berwenang pun berhenti memasok listrik dan air ke rumah dua bersaudara itu karena mereka menunggak tagihan.

via allthatsinteresting.com

Untungnya, Langley yang pada dasarnya merupakan insinyur terampil, berinisiatif memodifikasi mobil Ford tua milik keluarga menjadi generator pembangkit listrik. Ia juga berhasil memanfaatkan pompa di taman sekitar untuk sumber air dan pemanas minyak tanah sebagai penghangat ruangan. Tapi di masa-masa sulit inilah kestabilan mental Langley mulai goyah.

Setiap hari Langley selalu keluar rumah sebelum tengah malam. Dalam perjalanannya melintasi suasana malam kota, Langley bakal mengambil berbagai jenis barang tak terpakai dan membawanya ke rumah. Kereta bayi, sepeda berkarat, koran, buku catatan, botol, dan kaleng kosong hanyalah bagian kecil dari daftar barang yang ditimbun Langley.

Nah, dari semua barang yang ditimbun Langley, yang paling banyak adalah koran. Konon katanya, Langley mengumpulkan 250.000 koran bekas untuk dibaca Homer jikalau penglihatannya sudah pulih. Langley nggak mau kakaknya yang hobi membaca sampai ketinggalan berita penting.

Saat itu, kehidupan eksentrik Collyer bersaudara mulai mendapat perhatian masyarakat. Bahkan surat kabar setempat menerbitkan artikel hoax yang menyebut Collyer bersaudara menyimpan banyak harta di dalam rumah mereka. Rumor tersebut membuat tempat tinggal mereka beberapa kali disatroni pencuri.

via dailymail.co.uk

Berkat kejadian itu, Langley dengan jiwa keinsinyurannya mulai mempersenjatai hunian mereka dengan bermacam jebakan yang rumit. Di tahap ini, seisi rumah sudah dipadati tumpukan sampah yang tingginya mencapai atap. Langley sampai harus membangun lorong-lorong sempit untuk berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya.

Dan kreativitasnya itu yang akhirnya mengantarkan ia menuju maut.

Langley jadi korban perangkap yang dipasangnya sendiri dan tewas tertimbun di dalam lorong sempit. Kematian Langley adalah kematian Homer juga, sebab Homer nggak akan bisa bertahan hidup tanpa bantuan adiknya. Dua minggu setelah Langley meninggal, Homer pun akhirnya mati kelaparan.

Di Amerika, kisah tragis Collyer bersaudara melahirkan pepatah yang kerap diucapkan orang tua ke anaknya. Kira-kira bunyi pepatahnya kayak gini:

“Rajin-rajinlah membersihkan kamar. Kalau tidak, nasibmu akan berakhir seperti Collyer bersaudara.”

Buat kamu yang sering menimbun sampah di kamar, camkan baik-baik pepatah di atas, ya!

Komentar:

Komentar