Kisah Hidup Yasuke, Satu-satunya Samurai Berkulit Hitam dalam Sejarah Jepang

Afro Samurai di dunia nyata

Apa kamu pernah nonton anime Afro Samurai? Buat saya yang menyukai anime action, Afro Samurai termasuk tontonan yang cukup berkesan. Di dalamnya banyak adegan pertarungan sadis yang sesuai dengan kehidupan keras zaman feodal di Jepang. Belum lagi tokoh utamanya, Afro, punya penampilan berbeda dari samurai pada umumnya. Rambutnya kribo mirip brokoli dan warna kulitnya hitam. Nih, saya kasih lihat penampakannya biar lebih jelas:

via syfy.com

Awalnya saya menganggap Afro hanyalah hasil imajinasi dari mangaka yang ingin menciptakan karakter samurai antimainstream. Toh pada dasarnya, samurai udah dikenal masyarakat luas sebagai simbol sejarah dan kebudayaan khas Jepang.

Tapi saya cuma manusia biasa; anggapan saya itu salah ternyata. Sebab faktanya, nggak cuma orang Jepang yang bisa jadi samurai. Bahkan sejarah Jepang pernah merekam keberadaan Yasuke, satu-satunya samurai berkulit hitam yang hidup sekitar abad 16. Lantas, apakah Afro Samurai terinspirasi dari legenda Yasuke? Mungkin aja. Tapi kayaknya bakal lebih menarik lagi kalau kita sama-sama mendalami kisah hidup Yasuke, Afro Samurai dari dunia nyata.

Sebenarnya nggak banyak yang diketahui tentang kehidupan awal Yasuke sebelum tiba di Jepang. Meski begitu, catatan sejarah dari tahun 1579 mengatakan kalau Yasuke datang bersama seorang misionaris Yesuit asal Italia, Alessandro Valignano. Namun nggak ada keterangan yang menyebut apakah Yasuke seorang pengikut, pelayan, atau sekadar budak yang diperintah Valignano.

via ancient-origins.net

Berdasarkan buku Sincho Koki (diari Oda Nobunaga) dan catatan para misionaris waktu itu, Yasuke diperkirakan berasal dari Mozambique atau Bekongo (sebutan Kongo zaman dulu), wilayah yang dikenal sebagai pusat perdagangan budak pada masa itu.

Anyway, kedatangan Yasuke seketika membuat publik Jepang gempar. Nggak mengherankan, sebab itu adalah pertama kalinya masyarakat Jepang melihat orang berkulit hitam. Ditambah lagi, Yasuke punya postur yang bikin orang-orang Jepang terlihat seperti kurcaci. Disebutkan bahwa tinggi Yasuke mencapai 6 shaku 2 sun atau sekitar 188 cm.

Bulan Maret tahun 1581, Yasuke menemani Valignano ke Kyoto. Konon katanya, keberadaan Yasuke di Kyoto membuat orang ramai berkerumun, hingga sebagian dari pengerumun itu ada yang sampai terinjak-injak. Di sanalah Yasuke bertemu daimyo (aristokrat) yang hampir menyatukan Jepang, Oda Nobunaga.

Saat pertama kali bertatap muka dengan Yasuke, tepatnya tanggal 23 Maret 1581, Nobunaga awalnya yakin kalau warna hitam di kulit Yasuke adalah cat. Saking nggak percayanya, Nobunaga bahkan meminta Yasuke untuk melepas pakaiannya, lalu mengelap kulitnya dengan kain basah. Yup, setelah mengelap tubuh Yasuke di sana sini, Nobunaga akhirnya percaya kalau Yasuke memang berkulit hitam.

Ilustrasi Oda Nobunaga/via idaho-japan.com

Pertemuan Yasuke dengan Nobunaga mengawali karier nama yang disebut pertama sebagai samurai. Sang panglima perang begitu terkesan dengan perawakan dan kekuatan Yasuke yang katanya setara dengan 10 orang pria. Tanpa basa-basi, Nobunaga langsung meminta Valignano meninggalkan Yasuke bersamanya untuk diangkat menjadi samurai. Itu adalah kali pertama seorang daimyo mengangkat orang Afrika sebagai prajuritnya.

Keputusan Nobunaga membuat masyarakat Kyoto terkejut. Para penduduk sangat ingin melihat orang asing yang telah membuat Nobunaga yang hebat terpana. Dan benar saja, sekalinya Yasuke memasuki kota, ia langsung diserbu kerumunan warga yang penasaran. Yaah, meski kemunculan Yasuke di kota sempat memicu kegemparan, untungnya Yasuke cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya itu.

via samurai-world.com

Di bawah naungan Oda Nobunaga, Yasuke mampu belajar bahasa Jepang dengan cepat. Ia punya kepribadian yang disenangi para penghuni benteng Azuchi, tak terkecuali sang majikan. Nobunaga sendiri pernah berkata kalau Yasuke termsuk salah satu prajurit yang paling ia sukai.

Sepak terjang Yasuke sebagai samurai terekam saat dirinya mendampingi Nobunaga dalam misi memersatukan seluruh dataran Jepang yang sedang berkecamuk. Nobunaga tentu mengharapkan Yusuke memainkan perannya dalam pertempuran melawan negara-negara yang menentang kekuasaan Nobunaga. Salah satunya di Perang Tenmokuzan tahun 1582. Saat itu, Yasuke ikut terjun ke medang perang melawan klan Takeda yang memberontak. Hasil akhirnya, Nobunaga berhasil memenangkan pertempuran.

Tapi kemudian di tahun yang sama, situasi peperangan mulai berubah usai Nobunaga dikhianati jenderalnya sendiri, Akechi Mitsuhide. Pengkhianatan itu berujung kekalahan bagi kubu Nobunaga. Dan karena budaya ksatria Jepang pada masa itu, Oda Nobunaga memilih seppuku daripada jatuh ke tangan musuh.

via bbc.com

Nggak cuma bikin Nobunaga bunuh diri, Mitsuhide pun berhasil menundukkan Yasuke saat ia dan pasukannya menyerbu Benteng Azuchi. Tapi Yasuke nggak diperkenankan melakukan seppuku. Beberapa prajurit Azuchi yang tersisa pun lebih memilih menyerahkan diri ke pihak lawan.

Di mata Mitsuhide, Yasuke bukanlah bagian dari bangsa maupun tradisi leluhurnya. Ia hanyalah orang asing yang menurutnya tak pantas mempraktikkan berbagai tradisi ala Jepang, termasuk seppuku. Usai menaklukkan benteng, Mitsuhide mencopot status samurai Yasuke dan mengirimnya ke gereja Yesuit yang dijuluki Kuil Barbarian Selatan.

Sampai sini nggak ada lagi catatan sejarah yang menceritakan kelanjutan kisah Yasuke. Belum diketahui pasti apakah Yasuke kembali bergabung bersama Valignano atau memilih jalan hidupnya sendiri. Berdagang atau bertani mungkin? Atau malah mendirikan startup? Hmm… sayangnya nggak ada seorang pun yang tahu.

Meskipun bagian awal dan akhir kehidupan Yasuke diselimuti misteri, momen berharga saat ia menjadi samurai telah meninggalkan jejak dalam sejarah dan kebudayaan Jepang. Bahkan sampai sekarang dan seterusnya, masyarakat Jepang masih mengenang Yasuke sebagai samurai berdarah asing pertama.

Tuh, samurai asing pertama yang ada di Jepang bukan Afro, apalagi Tom Cruise. Kalau kamu masih mikir kayak gitu, berarti kamu kebanyakan nonton film. 

Komentar:

Komentar