Kisah Hidup George Parrott, Kriminal Zaman Wild West yang Mayatnya Disulap Jadi Sepatu

:

Seperti museum pada umumnya, Carbon County Museum di Rawlins, Amerika Serikat, menyimpan sejumlah benda bersejarah peninggalan masyarakat tempo dulu. Beberapa koleksi Carbon County Museum yang cukup terkenal di antaranya topi perang suku Indian, galeri Thomas Alfa Edison, dan koleksi foto Perang Dunia I.

Tapi menariknya, ada satu benda bersejarah milik museum yang paling nyentrik di antara artefak lainnya. Benda itu adalah sepasang sepatu yang terbuat dari kulit George Parrott, penjahat kelas kakap yang hidup di Amerika Serikat era Wild West.

Sepatu yang terbuat dari kulit George Parrott/via gothicwestern.com

Nah, kalau kamu lagi nyari sepatu kulit yang cocok buat dipakai ke nikahan teman, mungkin sepatu kulit George Parrott bakal bikin kamu terlihat lebih swag dibanding tamu undangan lain. Yaah, itu pun kalau kamu berani memakainya.

Anyway, siapa sih George Parrott sebenarnya? Dosa apa yang ia perbuat hingga jasadnya dijadikan produk fashion nyeleneh seperti itu? Dan siapa orang gila yang kepikiran bikin sepatu dari kulit Parrott?

Berikut kisah George Parrott yang mungkin nggak jauh beda dengan cerita sinetron azab di layar kaca.

George Francis Warden atau yang lebih dikenal dengan George Parrott dan Big Nose George adalah seorang kriminal yang hidup era Wild West, tepatnya di akhir abad 19 di Amerika Serikat. Sebagai seorang penjahat, Parrott cukup mahir dalam mencuri kuda tunggangan, menjambret, dan merampok penumpang kereta. Ia bersama komplotannya tercatat pernah melakukan segudang tindak kriminal di daerah perbatasan dan membuat resah masyarakat lokal.


Di tahun 1878, Parrott dan komplotannya bersembunyi setelah gagal merampok kereta Union Pacific Railroad. Meski gagal, perampokan itu berujung pada hilangnya nyawa dua orang sheriff. Peristiwa ini memicu perburuan besar-besaran yang dilakukan aparat penegak hukum untuk meringkus George Parrott dan kawan-kawannya.

George Parrott/via trib.com

Dua tokoh utama dalam perburuan tersebut adalah deputi sheriff Carbon County, Robert Widdowfield, dan detektif Union Pacific, Henry Vincent. Mereka dan rombongannya bergegas menuju Rattlesnake Canyon, dekat Gunung Elk, Wyoming, tempat George Parrott (diduga) bersembunyi. Sayang seribu sayang, saat tim aparat berkemah di sekitar tebing, Parrott bersama gengnya terlebih dahulu menyergap, menembak satu per satu pihak kepolisian. Komplotan Parrott kemudian mengubur jenazah lawan mereka itu di sekitar TKP.

Parrott pun kembali lolos dari jeratan hukum dan melanjutkan karier gemilangnya di dunia kriminal. Tapi untungnya, kecemerlangan karier kejahatan Parrott nggak berbanding lurus dengan kecerdasan otaknya.

Sejak pembantaian di Rattlesnake Canyon, Parrott dikabarkan sering menyombongkan perbuatan kejinya ke semua orang. Kebodohan itulah yang membuat ia akhirnya berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Ia pun mendapat hukuman yang sering diberikan pada buronan papan atas: hukuman mati.

Tapi, lagi-lagi, Parrott berhasil melarikan diri saat hendak dieksekusi mati, meskipun pelariannya nggak berlangsung lama.

Usai kabur dari eksekusi, Parrott segera diringkus oleh penduduk Rawlins yang sudah mengetahui reputasi buruknya (karena ia sering membual). Massa kemudian memasang tali di tiang telegraf untuk menghukum gantung Parrott. Keadilan pun berhasil ditegakkan. George Parrott akhirnya tewas di tangan penduduk Rawlins yang murka, dan jasadnya ditinggalkan tergantung begitu saja.

Sementara penduduk menganggap Parrott terlalu hina untuk dikebumikan, ada satu orang yang malah ingin membawa pulang mayat Parrott. Orang itu adalah Dokter John Osborne. Yup, ialah otak di balik pembuatan sepatu kulit George Parrot yang kini dipamerkan di museum Carbon County.

John Osborne/via allthatsinteresting.com

Tak hanya menugaskan pengrajin sepatu mengolah kulit Parrott jadi barang fashion, Osborne juga membuat topeng dari kulit wajah Parrott. Sedangkan sisa tubuh Parrot yang terpotong-potong disimpan dalam tong wiski yang diisi larutan garam. Osborne pun tak lupa mengirim otak Parrot ke koleganya, Dokter Thomas Maghee, untuk diteliti. Tujuannya sih buat mengetahui cara kerja otak para pelaku kriminal.

Dokter Maghee kemudian memberikan bagian atas tengkorak Parrott kepada Lillian Heath, asistennya yang berusia 15 tahun. Di tangan Heath, potongan tengkorak Parrot disulap jadi berbagai macam cindera mata seperti asbak, gagang pintu, dan pot bunga.

Hmm… kok dokter-dokter Amerika zaman dulu nggak kalah mengerikan dibanding para penjahatnya ya?

Oh iya, di tahun 1893, John Osborne pernah memakai sepatu kulit George Parrott di acara pelantikannya sebagai Gubernur Wyoming. Benar-benar selera fashion yang buruk untuk orang yang berstatus gubernur. Tapi nggak bisa dipungkiri, tanpa campur tangan Osborne dan “dedikasinya di dunia medis”, George Parrott mungkin hanya sekadar penjahat biasa yang kisahnya hilang ditelan zaman.

Yaah, tapi karena Osborne pula, Parrott kayaknya nggak bisa hidup tenang di alam baka.

Aksesoris dari tubuh George Parrott/via onlyinyourstate.com

Menurut saya, George Parrott mirip kayak tokoh antagonis di sinetron-sinetron azab. Semasa hidupnya sering melakukan kejahatan, setelah mati kena azab Ilahi. Kalau saya mesti ngarang judulnya, mungkin judul yang paling pas itu Semasa Hidup Sering Merampok, Jasad Penjahat Dizolimi Ilmuwan Gila yang Akhirnya Jadi Gubernur.

Kepanjangan sih, tapi cucok!

Saat ini, potongan tengkorak, kulit wajah, dan sepatu George Parrott bisa kamu temukan di Museum Carbon County di Wyoming. Apa kamu berminat mengunjungi museum tersebut? Atau kamu pengin bikin judul sinetron azab dari kisah George Parrott di atas?

bayubaharul :