Kisah Chris McCandless, Petualang Muda yang Cerita Hidupnya Diadaptasi ke Film Into the Wild

Saat kebebasan dicapai tanpa persiapan matang

:

Pernah nggak kamu ngerasa lelah dan jenuh sama kehidupan sehari-hari? Saking jenuhnya, kamu sampai ingin pergi jauh dari rumah dan memulai perjalanan ke tempat baru? Destinasinya bebas, kamu bisa mengikuti arah angin berhembus atau arah terbenamnya matahari. Ke mana pun tujuannya, yang penting kamu bisa pergi jauh untuk berpetualang dan memulai hidup baru.

Tapi kamu juga harus ingat, berpetualang itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Kamu perlu persiapan matang dan mental yang kuat. Kamu juga harus bisa mengatur jumlah perbekalan makanan, biar nggak kelaparan selama di perjalanan atau saat di tempat tujuan. Sekalinya kamu meremehkan itu semua, akibatnya bisa fatal.

Kamu bisa lihat buktinya dari pengalaman hidup Chris McCandless, pria asal El Segundo, California, Amerika Serikat. Kalau kamu pernah baca buku atau nonton film Into the Wild, kamu pasti tahu orang yang saya bicarakan ini.

Chris McCandles di semasa sekolahnya /via destinationsmagazine.com

Chris McCandles lahir dari keluarga yang normal kebanyakan. Ayahnya bekerja sebagai pegawai NASA dan ibunya berprofesi sebagai sekretaris di perusahaan suku cadang pesawat, Hughes Aircraft. Di sekolahnya, Chris merupakan siswa yang cukup cemerlang dengan nilai akademik yang memuaskan.

Hanya saja, teman-teman sekolahnya merasa Chris punya sudut pandang yang unik tentang kehidupan. Dari kesaksian teman-temannya, pernah ada satu waktu saat Chris menjadi kapten di klub ekstrakurikuler olahraga lari di sekolahnya. Ketika itu dia memberikan semangat kepada timnya untuk “Berlari seakan lari merupakan tindakan spiritual yang akan menyelamatkan manusia dari pengaruh jahat dan kegelapan di muka bumi.”

Selepas masa kuliahnya di tahun 1990, Chris menyumbangkan seluruh tabungannya ke OXFAM sebelum dia memulai kehidupan ala petualang. OXFAM sendiri adalah organisasi yang punya misi untuk memutus rantai kelaparan di dunia.

Tak lama kemudian, dia pun melakukan perjalanan pertamanya ke Meksiko dengan menaiki kano melewati Sungai Colorado untuk sampai ke tujuannya. Namun sepertinya Chris belum merasa puas dengan perjalanan tersebut. Akhirnya di tahun 1992 –setelah melakukan beberapa perjalanan di Arizona dan Dakota — dia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Alaska.


via newyorker.com

Saat memulai perjalanannya untuk mencapai Alaska dari Dakota, Chris diberi tumpangan oleh  tukang listrik setempat yang bernama Jim Gallien. Chris mengaku pada Jim kalau dia ingin berkeliling di sekitar Taman Nasional Denali dan mencoba hidup di lingkungan alam sekitarnya.

Awalnya, Jim merasa khawatir akan rencana Chris. Jim merasa persiapan perbekalan Chris tak akan cukup untuk membuatnya bertahan di lingkungan yang akan Chris tuju. Jim tahu betul alam liar di Alaska tak seindah seperti yang terlihat di foto-foto. Beberapa perbekalan Chris yang Jim ingat antara lain: sekantung beras, pistol .22 (yang Jim anggap tak akan cocok untuk dipakai berburu hewan), dan sepasang sepatu bot yang telah usang.

Merasa jumlah perbekalan milik Chris terasa sangat minim, Jim akhirnya memberikan beberapa makanan, sepatu bot baru, dan nomor telepon miliknya. Setelah itu, mereka pun berpisah.

Chris melanjutkan perjalanannya sampai ke Stampede Trail, tempat di mana dia akan tinggal untuk menjalani kehidupannya di alam liar sebelum mencoba untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh. Di tengah perjalanannya, Chris menemukan sebuah bus usang yang dia anggap masih layak untuk ditinggali. Dan akhirnya Chris pun memutuskan untuk tinggal di dalam bus yang memiliki cat biru dan tulisan 142 di atasnya itu.

via betterhiker.com

Selama tinggal di dalam bus tersebut, Chris berburu untuk mendapat makanan yang bisa membuatnya tetap bertahan. Beberapa hewan yang dia dapatkan untuk dimakan antara lain seperti burung, angsa, dan tupai.

Ada satu waktu ketika dia berhasil memburu seekor rusa dengan menggunakan pistol .22-nya. Tapi karena Chris tak paham betul cara untuk tetap menjaga makanannya tetap segar di alam liar, daging rusa itu terbuang sia-sia karena terlanjur busuk. Di samping berburu, Chris sering mencari tumbuhan-tumbuhan di sekitar bus tempat tinggalnya untuk jadi alternatif menu makanannya.

Sekitar dua bulan setelah tinggal di pedalaman liar Alaska, sepertinya Chris mulai menyadari bahwa dia butuh asupan gizi yang lebih baik. Walhasil dia pun memutuskan untuk mencoba turun gunung dengan tujuan kembali ke peradaban manusia.

Tapi mungkin keberuntungan sedang tak berpihak padanya. Jalur Sungai Teklanika yang dia lewati sebelumnya tiba-tiba menjadi deras arusnya karena gletser es yang mencair. Chris tak punya pilihan lain selain menunggu di bus tempat tinggalnya sampai arus sungai kembali normal. Padahal menurut salah satu warga sekitar Sungai Teklanika, jika Chris mau sedikit bersabar untuk menunggu arus sungainya mereda, mungkin dia akan berhasil turun gunung.

Nasib tragis pun akhirnya menimpa Chris. Beberapa hari setelah kembali ke bus tempat dia tinggal, Chris meregang nyawa. Jenazahnya ditemukan oleh beberapa pemburu yang kebetulan sedang melewati daerah sekitar Chris tinggal untuk mencari tempat beristirahat. Tapi saat melewati bus, mereka mencium bau busuk menyengat dan gundukan di dalam sleeping bag. Gundukan tersebut berisi Chris yang telah menjadi mayat. Dia diperkirakan sudah meninggal sekitar 19 hari sebelum ditemukan oleh para pemburu itu.

Kondisi di dalam bus tempat ditemukannya mayat Chris McCandless/via imgur.com

Selain jenazah Chris, mereka juga menemukan buku yang berisi jurnal kehidupan Chris selama berpetualang. Di jurnal itu, Chris bercerita banyak tentang hal-hal yang dia alami dan hadapi selama tinggal di alam liar. Jurnal tersebut pun menjadi sumber informasi utama dari buku Into The Wild karya Jon Krakauer yang terbit di tahun 1996.

Jurnal Chris McCandless/via npr.org

Buku tersebut merupakan tulisan non-fiksi pertama yang menceritakan ulang dan memberikan opini seputar perjalanan Chris di alam liar. Sebelum buku tersebut terbit, Jon Krakauer menulis artikel yang menjadi fondasi awal untuk penulisan buku tersebut. Artikelnya sendiri terbit di media The Outside pada tahun 1993.

Artikel itu pun menceritakan tentang kematian Chris yang disebabkan oleh keracunan salah satu tumbuhan yang dia makan. Tapi argumen tersebut masih diperdebatkan sampai hari ini. Ada beberapa penelitian yang menyebut penyebab kematian Chris bisa jadi bukan karena keracunan makanan, melainkan karena kelalaiannya untuk menyimpan makanan dengan baik. Ada juga pendapat yang merujuk ke kondisi Chris yang sangat kekurangan nutrisi, sehingga badannya tak lagi mampu menerima makanan yang dikonsumsi sebelum kematiannya.

Setelah kematiannya, Chris pun dianggap sebagai sosok yang menginspirasi bagi banyak orang yang merasa punya idealisme yang sama dengan Chris: menjunjung tinggi kebebasan dalam kehidupan. Banyak orang yang akhirnya mengunjungi bus yang jadi tempat tinggal sementara Chris sebagai bentuk penghormatan terhadap dirinya.

Namun tak sedikit juga yang memandang negatif tindakan Chris. Mereka menganggap Chris kurang memikirkan lebih lanjut tentang apa yang akan dihadapinya selama berada di alam liar.

Gimana menurut kamu, apakah perjalanan yang dilakukan oleh Chris untuk menjunjung tinggi kebebasan dalam diri dan menyatu dengan layak jadi inspirasi? Tapi yang pasti, satu pesan yang bisa saya tangkap dari keseluruhan kisahnya adalah persiapan itu wajib hukumnya, apalagi kalau kita mau menghadapi sesuatu yang belum pernah dihadapi sebelumnya.

Komentar:

Komentar