Hiroo Onoda, Gerilyawan yang Terus Bertempur Selama Hampir 30 Tahun Usai PD II Berakhir

Ini baru namanya loyalitas tanpa batas!

:

Perang Dunia II banyak menyisakan kisah menarik yang akan terus diingat sepanjang sejarah. Tapi, dari berbagai peristiwa masa Perang Dunia II, mungkin nggak ada kisah yang seaneh dan serumit yang dialami prajurit Jepang, Hiroo Onoda.

2 September 1945 ditandai dengan menyerahnya Jepang pada sekutu, setelah Amerika Serikat membombardir Hiroshima dan Nagasaki. Kekalahan Jepang juga jadi lonceng penutup dari PD II. Dan otomatis, dengan usainya peperangan, segala bentuk penyerangan harusnya sudah dihentikan.

Tapi bagi Hiroo Onoda, pertempuran masih berlanjut selama hampir 30 tahun berikutnya. Dengan gigihnya, Perwira Jepang berpangkat Letnan II itu terus bergerilya seorang diri dalam lebatnya hutan Filipina. Ya, Onoda sama sekali tak menyadari kalau peperangan sebenarnya telah lama usai.

Hiroo Onoda/via rarehistoricphotos.com

Onoda lahir pada tanggal 19 maret 1922 di Desa Kamegawa, Prefektur Wakayama, Jepang. Di usianya yang masih remaja, Onoda mendaftarkan diri sebagai pasukan infantri Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Di sana ia mendapat pelatihan hingga menjadi Perwira Intelijen di Akademi Nikaido. Kontribusinya untuk militer Jepang dimulai tak lama setelah pelatihan itu usai.

Di usianya yang baru menginjak 22 tahun, Onoda dikirim ke Pulau Lubang di Filipina, di mana ia diperintahkan untuk mencegah serangan Filipina dan Amerika Serikat ke pulau tersebut. Nah, saat menjalani misi tersebut, Onoda dan prajurit lainnya diberikan petuah untuk tidak menyerah maupun bunuh diri.

Dua tahun sebelumnya, Tentara Kekaisaran Jepang berhasil menguasai Filipina. Mereka merebut kendali dari pemerintah Filipina dan pasukan Amerika yang bermarkas di sana. Tapi penyebaran pasukan Jepang di Filipina terlalu sedikit. Sehingga saat Amerika memulai serangan balik di awal 1944, Jepang berhasil dipukul mundur.

Kemudian saat akhir tahun 1944, banyak pasukan Jepang dipaksa keluar dari pulau-pulau besar Filipina dan terpaksa beralih ke pulau-pulau kecil. Salah satunya, Pulau Lubang.


Di Pulau Lubang, Onoda dan prajurit lainnya diperintahkan untuk menghancurkan dermaga pelabuhan dan landasan udara musuh. Tapi Onoda tak bisa melaksanakan tugas tersebut, lantaran ada perwira berpangkat lebih tinggi di sana. Alhasil pada tanggal 28 Februari 1945, pasukan AS dan Filipina bisa dengan mudah mendarat di pulau tersebut. Pertempuran sengit pun tak bisa dihindari.

Pulau Lubang/via mapsland.com

Dari semua prajurit Jepang yang bermarkas di Pulau Lubang, hanya empat orang yang selamat dari pertempuran. Mereka adalah Hiroo Onoda, Yuichi Akatsu, Soichi Shimada, dan Kinsichi Kozuka. Di antara mereka, Onoda-lah yang memiliki pangkat paling tinggi.

Menyadari situasi tak berpihak padanya, Onoda memerintahkan Akatsu, Shimada, dan Kozuka pergi ke hutan di perbukitan untuk bergerilya. Dengan demikian, kesempatan mereka untuk dikalahkan akan semakin berkurang.

Onoda dan tiga prajuritnya terus bergerilya selama berbulan-bulan, hingga tibalah saatnya Jepang menyerah pada sekutu. Bulan Oktober 1945 atau satu bulan usai Jepang menyerah, untuk pertama kalinya Onoda membaca selebaran yang berisi tentang berakhirnya perang. Selebaran itu berbunyi “Perang berakhir pada 15 Agustus. Keluarlah dari bukit!”

Tapi Onoda sama sekali tak percaya pada apa yang tertuang di selebaran tersebut. Ia yakin itu hanya  propaganda sekutu yang ingin membuatnya menyerah untuk melancarkan perang gerilya.

Tak lama setelah itu, selebaran dengan perintah yang sama kembali Onoda temukan. Kali ini selebaran disebar lewat udara dan dibubuhi tanda tangan dari Jenderal Tamoyuki Immaura. Tapi tetap saja, pendirian Onoda sama sekali tak tergoyahkan. Ia tetap menganggap selebaran itu hanyalah tipuan murahan.

Di tahun 1950, Onoda kehilangan salah satu prajuritnya, Yuichi Akatsu yang menyerahkan diri pada pemerintah Filipina. Tak seperti Onoda, Akatsu percaya bahwa perang sebenarnya telah usai. Akatsu memisahkan diri dari Onoda dan bergerilya selama enam bulan sebelum akhirnya menyerah. Kehilangan satu prajuritnya, Onoda terpaksa harus menjalankan misi dengan dua prajurit lain dengan lebih waspada.

Pengumuman bahwa perang telah usai tak berhenti cukup sampai di situ. Di tahun 1952, pemerintah Filipina kembali merayu Onoda beserta dua prajurit lainnya yang tersisa untuk keluar dari hutan. Kali ini mereka memilih cara menjatuhkan surat dan foto-foto keluarga dari udara. Dan coba tebak, apa yang terjadi selanjutnya?

Onoda tetap bergeming. Ia enggan keluar dari hutan.

Hiroo Onoda saat bergerilya/via bilge.az

Setelah “pembelotan” Akatsu, Onoda masih harus kehilangan satu per satu prajurit yang selama ini mendampinginya berperang. Kopral Shimada tewas di tahun 1954. Ia ditembak tentara Filipina yang dibentuk untuk mencari pasukan Jepang yang tersisa. Nasib sama dialami Prajurit Satu Kozuka yang meninggal di tangan polisi Filipina di tahun 1972.

Akhirnya hanya Onoda yang tersisa di hutan Pulau Lubang. Tapi berkat rasa kehormatan dan kesetiaan yang ia junjung tinggi, Onoda mampu bertahan meski hanya seorang diri. Untuk bertahan hidup, Onoda mengandalkan tumbuhan dan hewan liar di hutan. Sesekali ia merampas hewan ternak milik warga setempat.

Sementara itu di Jepang, berita kembalinya Yoichi Akatsu serta kematian Kinsichi Kozuka dan Soichi Shimada, membuat media menyoroti kisah Hiroo Onoda yang saat itu masih bergerilya. Kisah itu pun sampai ke telinga Norio Suzuki, seorang penjelajah yang akhirnya tertarik mengunjungi Hiroo Onoda di Pulau Lubang.

Norio Suzuki dan Hiroo Onoda/via allthatsinteresting.com

Pada tanggal 20 februari 1974, sesampainya di Filipina, Suzuki langsung tak sabar ingin bertatap muka dengan Perwira Onoda. Dan berkat Suzuki, Onoda akhirnya percaya bahwa perang telah usai dan negara benar-benar mengkhawatirkan nasibnya. Tapi ada satu masalah lagi, Onoda tetap menolak untuk kembali ke Jepang sebelum ada perintah langsung dari atasannya.

Mendengar permintaan Onoda, Suzuki menghubungi temannya di Jepang untuk mencari atasan Onoda, yakni Mayor Yoshimi Taniguchi yang saat itu telah pensiun dan mengurus bisnis toko buku. Beruntung, Taniguchi yang tergerak hatinya langsung terbang ke Filipina untuk menemui Onoda.

Saat bertemu, Taniguchi langsung memerintahkan Onoda untuk pulang. Onoda pun tertunduk lemas setelah benar-benar percaya bahwa perang telah usai sejak 1945.

Nah, sayangnya, Onoda tak bisa langsung kembali ke Jepang. Menurut catatan pemerintah Filipina, selama berada di Pulau Lubang, Onoda telah menewaskan setidaknya 30 orang dan itu mesti dipertanggungjawabkan. Tapi untunglah, Presiden Filipina saat itu, Ferdinand Marcos, termasuk orang yang sangat mengagumi kesetiaan dan loyalitas Onoda.

Onoda menyerahkan pedangnya ke Presiden Marcos/via pinterest.com

Itulah alasan mengapa Presiden Marcos tak segan memberi ampunan atas apa yang telah Onoda perbuat selama 30 tahun terakhir. Hiroo Onoda akhirnya menyerahkan pedang miliknya ke Presiden Marcos dan pulang ke negara asalnya di tahun 1974.

Setibanya di Jepang, Onoda yang saat itu sudah berusia 52 tahun, mendapat sambutan meriah dari masyarakat serta pejabat militer dan pemerintahan Jepang.

Kisah Onoda yang terus bertempur selama hampir 30 tahun setelah Perang Dunia II usai, mungkin agak terdengar aneh sekaligus mengejutkan. Tapi dari sosok Onoda-lah kita bisa menemukan arti sebenarnya dari loyalitas atau kesetiaan yang harus diemban seorang prajurit saat terjun ke medan perang. Apakah tindakan dan motif Jepang di Perang Dunia II bisa dibenarkan atau tidak, itu masalah lain.

Tapi, kalau saya jadi Onoda, kayaknya saya nggak bakal bisa deh bertahan selama 30 tahun di hutan. Mending nyerah aja, di hutan banyak nyamuk!

Komentar:

Komentar