Di Balik Sisi Gelap Yakuza: Sejarah dan Tradisi Gangster dari Jepang

Kiryu-chan mungkin udah tahu tentang ini semua. Sekarang giliran kamu!

Sebagian besar dari kamu pasti pernah mendengar tentang Yakuza. Ya, Yakuza merupakan organisasi mafia terbesar di Jepang yang eksistensinya sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Dan di masa sekarang, di benak sebagian besar orang Yakuza itu selalu identik dengan yang namanya kekejaman; kekejian; perang; dan bisnis ilegal seperti narkoba, prostitusi, dan perdagangan manusia.

Tapi apakah benar Yakuza begitu? Apakah benar Yakuza itu hanya punya sisi negatif dalam diri mereka? Daripada berspekulasi, mending kita tengok dulu sejenak sejarah tentang Yakuza.

via elitereaders.com

Yakuza dan Burakumin

Akar dari Yakuza itu berasal dari Burakumin, satu kasta yang dianggap paling rendah di masa Jepang feodal. Algojo, tukang jagal, pengrajin kulit, dan pengurus pemakaman – intinya orang-orang yang sering berurusan dengan kematian – mereka itulah yang termasuk dalam golongan Burakumin. Dan bagi kepercayaan Shinto, orang-orang seperti mereka dipandang tidak suci.

Kesulitan kondisi hidup sudah dialami Burakumin sedari sekitar abad 11, di mana mereka hidup terisolasi dari masyarakat pada umumnya. Alih-alih membaik, situasi malah kian memburuk di tahun 1603, ketika satu hukum yang tak menganggap Burakumin sebagai bagian dari masyarakat resmi disahkan.

Terbayang nggak kesulitan hidup mereka? Para Burakumin tersebut diusir dari kota tempat tinggalnya dan anak-anak mereka dilarang mendapat pendidikan. Parahnya lagi, mereka nggak mendapat perlakuan itu dari penjajah yang memperbudak, tapi dari pemerintah dan masyarakat sendiri.

Karena perubahan tak kunjung juga datang, anak-cucu dari Burakumin pun mulai mencari jalan keluar yang bisa membawa mereka ke arah yang lebih baik. Dan mereka menemukannya lewat jalan kriminalitas.

via commons.wikimedia.org

Akhirnya, pasca tahun 1603, anak-cucu Burakumin mulai bergerak. Kebanyakan dari mereka meninggalkan pekerjaan yang diwariskan orangtua mereka, lalu beralih menjadi pencuri. Barang-barang hasil curian tersebut kemudian dijajakan di kios-kios. Tapi tak hanya jadi pedagang, banyak juga mantan Burakumin yang mendirikan rumah perjudian.

Seolah tinggal menunggu waktu, para kriminal itu mulai membentuk organisasi cikal bakal Yakuza. Cara kerja mereka hampir mirip dengan preman pasar: mereka meminta uang pada pedagang-pedagang, lalu menawarkan perlindungan bagi para pedagang tersebut.

Lambat laun, angin perubahan yang merubah nasib mantan Burakumin pun datang. Pertama, mereka mendapat aliran dana segar yang didapat dari bisnis. Kedua, mereka memperoleh status yang membuat mereka dipandang oleh masyarakat sekaligus pemerintah. Ya, berkat organisasinya, para Burakumin yang kini beralih jadi kriminal ini diakui secara resmi oleh pemerintah.

Yakuza dan bisnis legal modern

via commons.wikimedia.org

Yakuza memang dikenal sebagai organisasi mafia terbesar dan terkejam di Jepang. Tapi seiring berjalannya waktu dan berkembangnya zaman, Yakuza bukan hanya organisasi yang terkenal akan kekejamannya. Mereka mulai dikenal akan sepak terjangnya dalam dunia bisnis, yang uniknya, berstatus legal.

Bisnis legal pertama Yakuza dimulai sekitar sekitar tahun 80-an, saat mereka mulai berkecimpung di dunia real-estate. Para pengembang real-estate kala itu memakai jasa Yakuza – yang disebut dengan Jigeya – untuk membantu mereka menyelesaikan pekerjaan, seperti pembebasan lahan. Tak semua pemilik tanah bersedia untuk menjual dengan harga yang ditawarkan oleh pihak pengembang. Dan di sinilah peran Jigeya diperlukan.

Tentunya apa yang dilakukan Jigeya pada para pemilik tanah itu jauh dari kata menyenangkan. Mereka ditugaskan untuk menyingkirkan pemilik tanah yang diangap nggak kooperatif dengan cara apa pun. Ingat, dengan cara apa pun!

Lalu apa pemerintah mengetahui tentang tindak-tanduk Jigeya? Jawabnya, iya. Pemerintah tahu, tapi tetap terkesan cuci tangan. Alasannya sih sederhana: tanpa Jigeya, para pengembang tak akan bisa memulai pembangunan. Dan tanpa pembangunan, itu berarti perkembangan pembangunan daerah juga akan terhambat.

Terhambatnya perkembangan suatu daerah jelas bukan hal yang bagus, makanya pemerintah diam dan terkesan lepas tangan. Bahkan pemerintah sendiri juga beberapa kali terciduk menggunakan jasa Yakuza.

via kyotojournal.org

Sukses berkecimpung dalam bisnis pembangunan real-estate, Yakuza semakin melebarkan sayap dan memantapkan langkah memasuki dunia bisnis. Dan pasar saham adalah ladang bisnis selanjutnya yang dipilih. Tentunya permainan mereka di pasar saham memberikan keuntungan yang cukup fantastis.

Seiring berkembangnya saham yang dimiliki oleh Yakuza, lambat laun mereka pun berubah. Mereka merasa tak perlu melakukan kekejaman yang berpotensi menghilangkan nyawa orang lain, yang sekaligus bisa menyeret mereka ke ranah hukum.

Meskipun menguntungkan bagi Yakuza, bisnis mereka yang berstatus legal membuat pemerintah agak kesulitan untuk mengusik mereka terlalu dalam.

Yakuza dan kecerdasan

Melihat apa yang dilakukan oleh Yakuza dalam mengembangkan kekayaan mereka, kecerdasan pun sepertinya merupakan faktor penting bagi para anggotanya. Terbukti mulai 2009, satu dari tiga pendiri Yakuza yakni Yamaguchi-gumi bahkan memberlakukan tes tertulis, yang terdiri dari permasalahan ekonomi dan isu sosial dalam masyarakat, untuk calon anggotanya. Yakuza tak ingin mengambil risiko bila mereka ternyata merekrut orang yang tak kompeten.

Yakuza dan tradisi

via lenta.ru

Uniknya, berkembangnya zaman dan besarnya bisnis Yakuza tak lantas membuat mereka meniggalkan tradisi yang sudah dilakukan sedari bertahun-tahun lalu. Contohnya perihal tato. Umumnya anggota Yakuza punya tato pada tubuh sebagai bukti kesetiaan mereka terhadap organisasi. Tato ini pun tak dibuat dengan cara modern, tapi dengan cara tradisional, atau disebut dengan irezumi, yang lebih terasa menyakitkan.

Saat proses pembuatan tato, mereka akan menyisakan ruang kosong pada bagian tengah tubuh. Tujuannya agar terhindar dari infeksi, sehingga mereka tetap dapat memakai yukata dengan cara yang semestinya.

via scmp.com

Selain itu, tradisi potong jari atau yubitsume masih berlaku sebagai wujud permintaan maaf jika seorang anggota melakukan kesalahan yang merugikan organisasi. Pemotongan pertama biasanya dilakukan pada satu ruas jari kelingking bagian kiri.

Kenapa harus kelingking bagian kiri?

Karena berdasarkan sejarah, jari kelingking adalah bagian terpenting untuk memegang pedang. Bila pemakai pedang kehilangan jari kelingking, ia tak bisa lagi memegang pedang dan akan bergantung pada orang lain (dalam hal ini orang lain itu adalah organisasi).

Yakuza dan bakti sosial

Kehadiran Yakuza memang selalu menuai pro dan kontra di masyarakat. Keberingasan mereka di masa lampau dan kemakmuran mereka di masa sekarang membuat mereka semakin ditakuti.

Tapi di balik itu semua, mereka juga memiliki andil dalam bidang kemanusiaan, terlebih saat bencana alam terjadi di negara mereka. Reaksi mereka bahkan dikatakan lebih cepat dari pemerintah. Buktinya bisa dilihat saat Jepang dihantam tsunami dan badai Kobe yang menghancurkan beberapa wilayah.

Itulah beberapa sisi lain dari Yakuza yang jarang diketahui orang. Ternyata masih ada sisi kemanusiaan di balik semua stigma negatif yang melekat pada mereka ya. Tapi yah, bukan berarti kita harus melupakan sisi negatifnya juga.

Bagaimana menurut kamu?

- Advertisement -
Shares 23

Komentar:

Komentar