Cerita Kehidupan Hetty Green, Wanita Kaya Raya Sekaligus Orang Terpelit dalam Sejarah

Kamu kaya tapi pelit? Mirip nenek ini dong!

:

Mari kita mulai artikel ini dengan pertanyaan sederhana: seberapa berartikah uang? Hmm… sebagian besar dari kamu pasti yakin seyakin-yakinnya kalau uang adalah hal terpenting biar kamu bisa memenuhi kebutuhan hidup.

Sementara bagi kalangan atas (orang kaya, elite, borju), uang dan kekayaan itu ibarat nilai plus, yakni untuk menunjang life style dan kehormatan (baca: gengsi). Makanya nggak heran jika ada beberapa orang kaya yang takut jatuh miskin. Bahkan nggak sedikit dari mereka yang menderita gangguan jiwa setelah jatuh bangkrut.

Nah, ketakutan seperti itu pun dialami oleh Hetty Green, seorang pebisnis andal dan wanita terkaya di Amerika Serikat yang hidup di akhir abad 19. Saking takutnya kehilangan harta, Hetty Green sangat irit dalam menggunakan uangnya (yang berlimpah) hingga ke titik paling ekstrem. Bahkan menurut berbagai sumber, sifat Green yang pelit membuat anak laki-lakinya sendiri harus rela kehilangan salah satu kakinya.

Kira-kira apa alasan yang membuat Hetty Green begitu kikir hingga tercatat dalam Guinness Book of Records sebagai orang terpelit dalam sejarah? Apakah semata-mata akibat ketakutannya yang hebat akan kemiskinan? Yuk, sama-sama kita telusuri kisah hidup Hetty Green!

Henrietta Rowland Robinson (nama sebelum menikah) atau yang akrab disapa Hetty, lahir di New Bedford, Massachusetts, Amerika Serikat, pada tanggal 21 November 1834. Dia adalah anak perempuan tunggal dari keluarga kaya raya pemilik perusahaan armada kapal penangkap paus, Quaker. Meski kaya, keluarga Quaker menganut paham yang mendorong anggota keluarganya agar berhemat dan hidup sederhana.

Hetty Green muda/ via historicalwomansouthcoast.com

Saat masih berusia 6 tahun, Hetty diasuh oleh ayah dan kakeknya yang ahli dalam hal berbisnis. Keahlian tersebut diturunkan pada Hetty, bahkan sang kakek kerap mengajari Hetty muda bagaimana cara membaca pasar saham. Buah dari hasil didikan ayah dan kakeknya langsung terlihat saat Hetty diangkat sebagai akuntan di perusahaan keluarganya… di kala ia masih remaja.

Lingkungan dan didikan yang berbau bisnis membuat Hetty begitu menghargai uang. Dan perlu diingat, Hetty hidup pada masa di mana laju ekonomi sebagian besar dikendalikan oleh kaum laki-laki.


Anyway, di tahun 1865, atau saat Hetty menginjak usia 30, ayahnya wafat. Hetty yang merupakan pewaris tunggal akhirnya menerima warisan yang jika dinominalkan setara dengan $5 juta. Harta sang ayah yang kini jadi milik Hetty akan jadi berlipat-lipat jumlahnya di kemudian hari. Sebab sejauh ini, kita sudah tahu kalau Hetty telah menguasai dasar-dasar untuk menjadi pebisnis andal sejak masih muda.

Menariknya, usaha pertama yang dilakukan Hetty untuk menambah kekayaannya terbilang unik, yakni dengan cara menentang surat wasiat tantenya yang telah wafat. Ia bahkan membawanya ke pengadilan. Di surat yang ditulis tantenya, tertulis bahwa pewaris menyumbangkan uang $2 juta untuk amal. Tapi Hetty membuat kejutan dengan menyodorkan surat wasiat lain di pengadilan (tentunya tanpa embel-embel “amal”). Untungnya, surat yang Hetty ajukan terbukti sebagai rekayasa.

Oke, kejadian itu memang nggak menggambarkan keahlian Hetty dalam berbisnis. Malah sebaliknya, itu nunjukkin kalau Hetty punya bibit sifat picik dan serakah. Tapi seenggaknya kita tahu Hetty tergolong pandai dalam memanfaatkan peluang meski dengan cara yang… yah, begitu deh.

via nypost.com

Kepandaian Hetty dalam melihat peluang pun terbukti saat ia berhasil melakukan banyak transaksi jual beli properti, mengambil alih gedung-gedung yang ditutup paksa, dan membeli serta menjual kereta api. Nggak cuma sampai di situ, Hetty juga kerap memberikan pinjaman berbunga tinggi pada bank-bank yang sedang dilanda krisis. Ia memiliki prinsip seperti halnya kaum kapitalis “pemakan bangkai” di era modern; membeli aset saat harganya rendah, lalu menyimpannya hingga harganya naik dan diminati banyak orang.

Prinsip itulah yang membuat nama Henrietta Rowland Robinson tercatat di surat kabar New York Times tahun 1905 dengan keterangan “Wanita Terkaya di Amerika Serikat”.

Mungkin kelihatannya yang ada di pikiran Hetty hanyalah uang, uang, dan uang. Apakah ia nggak memikirkan hal penting lain seperti mencari pasangan hidup? Tentu saja Hetty nggak mau terus-terusan hidup menyendiri. Tapi asal kamu tahu, kisah cinta Henrietta Rowland Robinson pun nggak jauh dari kata “uang”.

Sebelum menikah, Hetty sempat dekat dengan beberapa pria yang terkesan hanya mengincar hartanya saja. Karena takut kekayaannya dirampas calon suaminya kelak, Hetty hanya akan merelakan dirinya dipinang pria dari kalangan atas. Pria yang kemudian jadi suami Hetty adalah seorang multimiliuner, Edward Henry Green.

Edward merupakan seorang pebisnis, tapi ia tak selihai Hetty. Pernikahan mereka dibumbui oleh perjanjian di atas kertas yang menyebut kedua belah pihak dilarang menggunakan kekayaan masing-masing untuk kepentingan apa pun, terutama bisnis. Dan coba tebak siapa yang menggagas perjanjian tersebut? Yup, Hetty!

Dari pernikahan mereka lahirlah dua orang anak, Ned dan Sylvia. Sayangnya, di tahun 1885, bisnis Edward mengalami kebangkrutan hingga ia terbelit utang yang jumlahnya cukup besar. Hetty yang enggan membayar semua utang Edward akhirnya memutuskan untuk meninggalkan suaminya alias bercerai.

Dandanan Hetty yang bikin ia terlihat seperti penyihir/ via allthatsinteresting.com

Menariknya, 15 tahun kemudian saat Green jatuh sakit, Hetty sempat membantu merawat mantan suaminya tersebut sebelum akhirnya meninggal dunia. Sepeninggal suaminya, Hetty mulai mengenakan gaun dan topi hitam di setiap kesempatan sebagai tanda duka. Dandanannya yang nyentrik membuat publik menjulukinya The Witch of Wall Street (Penyihir dari Wall Street).

Obsesi Hetty dalam mempertahankan kekayaan membuatnya mengadopsi gaya hidup yang super irit. Dan menurut kabar yang beredar, itu jadi penyebab kecacatan pada anak laki-lakinya, Ned.

Suatu hari, Ned mengalami kecelakaan yang menyebabkan kakinya terluka parah. Tapi alih-alih berobat ke dokter ahli, ibunya malah membawa Ned ke klinik gratis. Di klinik itu ada dokter yang mengenali Hetty dan meminta bayaran, tapi Hetty langsung pergi begitu saja bersama anaknya. Akibat kekikiran Hetty, luka Ned akhirnya nggak bisa sembuh.

Sang pria malang pun harus merelakan kakinya diamputasi.

Ilustrasi/via smithsonianmag.com

Nggak cuma sampai di situ, saking enggannya membayar pengobatan medis, Hetty Green digosipkan mengobati penyakit hernianya dengan cara menyumbat tongkat di perutnya dan memanfaatkan celana dalamnya sebagai penahan. Hmm…

Sejak saat itu, kehidupan Hetty Green semakin mendapat sorotan publik dan media. Hetty yang menyadari dirinya jadi perhatian akhirnya memutuskan untuk hidup berpindah tempat. Hal itu juga didukung oleh ketakutannya terhadap perampok yang mungkin mengancam keselamatannya, terutama jika ia tinggal menetap terlalu lama. Konon katanya, wanita terkaya ini kerap tidur dengan kunci brankas di pinggangnya dan pistol terikat di tangannya.

Ironis ya, orang kaya yang bergelimang harta malah dibuat tak tenang karena hartanya sendiri.

Setelah ibunya meninggal, Ned, yang bernama asli Edward Howland Robinson Green, bercerita pada wartawan New York Times bahwa hampir semua desas-desus tentang ibunya tidaklah benar. Ned kemudian bersaksi bahwa ketakutan terhadap perampok yang dialami Hetty berawal dari pemberitaan palsu yang menyebut dompet yang selalu ia bawa berisi uang jutaan dolar.

Hetty Green wafat pada tahun 1961 di usia 81 akibat serangan strok. Saat itu ia diperkirakan memiliki harta waris senilai $100 juta atau sekitar $2,3 miliar di mata uang zaman sekarang. Semua kekayaannya itu diwariskan ke kedua anaknya, Ned dan Sylvia.

Siapa sangka wanita terpelit di dunia ini ternyata berasal dari kalangan kaya raya? Tapi terlepas dari kekikirannya, kita nggak boleh mengesampingkan fakta bahwa ia merupakan salah satu pebisnis wanita tersukses pertama dalam sejarah.

Itulah faktanya. Masalah Hetty Green pelit atau bukan, nggak ada yang tahu pasti. Bisa saja itu hanyalah karangan media yang ditunggangi saingan bisnis Hetty. Yah, ibaratnya kalau zaman sekarang, kayak berita hoaks yang sering hilir mudik di media sosial

Komentar:

Komentar