Bukan Cuma Luwak, 5 Kotoran Manusia dan Hewan Ini Juga Harganya Mahal Banget

Buang hajat tidak pernah semahal ini

:

Normalnya, kotoran, feses, atau tahi tuh bukan sesuatu yang layak buat dijual. Jangankan dijual, orang normal pasti nggak akan menyimpan kotoran sebagai barang kenang-kenangan. Nggak peduli seberapa narsisnya seseorang, ia nggak akan memotret kotorannya sendiri, lalu membingkai foto kotorannya dan memasangnya di ruang tamu rumah.

“Kotoran saya terlalu beautiful kalau disiram di toilet. Saya mau orang-orang yang mendatangi rumah saya bisa mengagumi keanggunan dari kotoran saya ini,” kata orang narsis itu.

Pengecualian cuma terjadi kalau misalnya kotoran dipakai sebagai pupuk. Kotoran yang kayak gitu memang punya nilai guna, jadi wajar jika diperjualbelikan.

Tapi apa kamu tahu kalau ada kotoran manusia atau hewan yang dipatok dengan harga selangit? Memangnya dipakai apa ya itu kotoran, sampai-sampai harganya bisa mahal banget? Mending kamu lihat langsung jawabannya di bawah ini. Jangan enek yaaaa.

1. Kotoran panda

via pri.org

Yup, kamu nggak salah baca. Kotoran dari hewan berbulu hitam putih ini kalau dijual per kilogram, harganya bisa menembus angka $69,000 atau sekitar Rp800 juta. Sakti betul mereka punya kotoran!

Di tahun 2011, Profesor An Shi dari Universitas Sichuan di China mematenkan produk teh yang menggunakan kotoran panda sebagai pupuknya. An Shi mengklaim bahwa teh hasil pupuk feses panda tersebut bermanfaat sebagai pencegah kanker. Alasannya karena makanan yang biasa dikonsumsi panda, yakni bambu. Bambu diyakini sebagai tumbuhan yang bisa diolah sebagai obat pencegah penyakit kronis tersebut.

Oleh sebab itulah permintaan pasar untuk produk yang satu ini sangat tinggi, sampai An Shi berani mematok harga yang fantastis untuk teh yang dia jual. Hmmm kayaknya teh yang satu ini masih aman buat dikonsumsi ya. Mirip-mirip kopi luwak gitu.


2. Kotoran Raja Rock NRoll

Sedari dulu, saya kira kotoran itu nggak bisa dijadikan hiasan yang harganya mahal. Tapi dulu saya masih polos, dan menganggap dunia ini penuh dengan keindahan dan Sinter Klas. Saya nggak pernah nyangka ada kolor bekas kepecirit berhasil dilelang seharga £5.000 atau sekitar Rp87 juta.

Mungkin kamu bertanya-tanya, kok bisa kolor kotor kayak gitu dihargai mahal banget? Setelah diusut, kolor tersebut merupakan peninggalan dari salah satu musisi mahsyur nan legendaris, Elvis Presley.

via dailymail.co.uk

Logikanya sih, yang bikin mahal itu bukan kotoran Elvisnya, tapi karena kolor itu memang bersejarah, terutama untuk para fans Elvis. Konon, celana dalam itu dipakai Elvis saat dia tampil di panggung saat tahun 1977.

Namun tetap saja orang-orang menganggap penting noda kotoran yang masih tersisa di sekitar area bokong di kolor Elvis. Karena sisa kotoran itu juga harga kolor Elvis bisa melambung tinggi saat dijual di pelelangan.

Pesan moralnya: jika kamu musisi atau selebritis terkenal, sempatkan diri buat kepecirit minimal sekali seumur hidup. Siapa tahu suatu saat nanti, kamu bisa jual kolor bekas kepecirit itu dengan harga nggak masuk akal.

3. Guano

via Wikimedia Commons

Kotoran yang dihasilkan dari burung camar dan kelelawar ini dipercaya memiliki khasiat sebagai obat kesuburan untuk pria. Awalnya, guano diedarkan dari Peru ke Amerika Serikat sekitar abad 19 karena orang-orang Amerika sangat menyukai khasiatnya. Saking lakunya, para produsen guano asal Peru di masa tersebut bisa hidup layak dari penghasilan yang mereka dapatkan.

Tapi lama-kelamaan, Amerika Serikat merasa perlu mengambil alih produksi guano dari Peru. Akhirnya Amerika Serikat membuat undang-undang khusus untuk pendistribusian guano yang secara eksklusif hanya bisa dikirimkan ke Amerika Serikat. Malah sampai sekarang, peraturan tersebut masih tertulis di buku undang-undang negara tersebut.

Seiring waktu berjalan, guano tak terlalu diminati seperti zaman keemasannya dulu. Bisa jadi karena hari ini sudah banyak pilihan obat kesuburan yang tersedia di apotek dan gerai-gerai obat dewasa di pinggir jalan.

4. Kotoran bangsa Viking di Inggris

via Wikimedia Commons

Fosil berbentuk feses ini berukuran cukup besar lho. Panjangnya sekitar 20 cm dan lebarnya sekitar 5 cm. Konon menurut peneliti yang menemukan fosil ini di tahun 1972 silam, feses raksasa ini dipercaya berasal dari zaman ketika Viking menguasai dataran Inggris di abad 9.

Karena ukurannya yang cukup besar, peneliti meyakini orang yang mengeluarkan kotoran ini punya pencernaan yang kurang baik. Beberapa tes telah dilakukan kepada fosil ini. Salah satu hasilnya menyatakan bahwa si orang Viking sepertinya terlalu berlebihan mengonsumsi daging dan roti. Beuh, pantas aja susah dicerna. Seret, bro!

Walaupun tidak dijual untuk umum, feses ini diperkirakan berharga sekitar $39.000 atau setara dengan Rp500 juta jika dilelang. Sekarang feses ini tersimpan baik di Jorvic Viking Center di Inggris.

5. Kotoran gajah

via touchofmodern.com

Ternyata bukan luwak doang yang bisa menghasilkan biji kopi mahal, gajah juga bisa lho. Kopi hasil kotoran gajah dinamai Black Ivory. Harga satu kilo biji kopi Black Ivory bisa menembus angka sekitar $500 atau mendekati sekitar Rp7 juta. Wiiiiihh!

Black Ivory diproduksi dari sisa kotoran gajah yang berhabitat di sekitar Segitiga Emas di Thailand. Biji kopi dari ampas kotoran gajah dikabarkan memiliki rasa yang unik, karena rasanya dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi gajah sebelum mereka mengeluarkan kotoran.

Selain kopi, biji dari kotoran gajah tersebut juga bisa diracik sebagai bahan baku tambahan untuk bir di Jepang. Bir tersebut lumayan laku keras di pasaran. Buktinya sewaktu produk bir tersebut mulai dijual lewat situs resminya, bir itu langsung terjual habis dalam hitungan menit.

Kamu tertarik buat jadi penghasil kotoran termahal sedunia? Mulailah rajin berlatih, dan jangan biarkan cibiran orang lain meruntuhkan tekad kamu jadi penghasil kotoran mahal. Jika tiba waktunya saat kamu bisa menghasilkan kotoran berkualitas top, segera tawarkan kotoran kamu itu di situs e-commerce. Saya sendiri nggak yakin ada orang yang mau beli kotoran kamu, tapi yang penting coba aja dulu.

Komentar:

Komentar