Asal-usul Jangka Jayabaya, Ramalan Prabu Jayabaya yang Katanya Jadi Kenyataan

Nostradamus-nya Indonesia

:

Syahdan di abad 12, hiduplah seorang raja yang memerintah Kerajaan Kediri di Jawa Timur. Ia dikenal sebagai raja yang membawa kesejahteraan bagi rakyat Jawa Timur sekitar tahun 1135-1157. Tapi ia lebih dari sekadar raja, karena ia pun dikenang sebagai sosok yang mampu meramalkan masa depan. Ia adalah Prabu Jayabaya, salah satu raja paling populer dalam sejarah Indonesia.

via yukepo.com

Nah, hal yang menarik tentang Jayabaya adalah ramalannya yang tertuang di dalam kitab Jangka Jayabaya. Itu adalah kitab berisi serangkaian kisah dan bait-bait yang (dipercaya) ditulis sendiri oleh sang Prabu. Konon katanya, ramalan Jayabaya yang tertulis dalam karya sastra tersebut banyak yang terwujud beratus-ratus tahun kemudian. Salah satunya prediksi kedatangan Belanda dan Jepang ke Indonesia. Karena ramalannya itulah Jayabaya layak disandingkan dengan Nostradamus, astrolog sekaligus peramal tersohor asal Prancis yang hidup di abad 16.

Sama halnya dengan Nostradamus, ramalan Jayabaya dinilai jitu alias bukan sekadar bualan. Tapi kayaknya saya nggak perlu membandingkan Jayabaya dengan Nostradamus secara spesifik. Toh keduanya datang dari zaman dan dari ranah yang berbeda.

Yaah, tapi seenggaknya, jika mereka berdua memang benar-benar peramal, menurut saya Jayabaya lebih hebat dari Nostradamus. Jayabaya hidup di zaman yang lebih kuno, zaman ketika ilmu pengetahuan belum semaju eranya Nostradamus. Maka dari itu di zaman Jayabaya, berbagai penemuan ilmiah yang mungkin bisa memberi gambaran tentang masa depan tentu lebih sedikit. Dan faktanya, hanya sedikit ramalan Jayabaya yang berkaitan dengan sains. Jangka Jayabaya malahan lebih banyak berbicara tentang hal-hal spesifik yang menyangkut tema sosial dan politik.

Lantas, sejitu apa sih ramalan yang konon katanya ditulis oleh Prabu Jayabaya? Di bawah ini kita akan membahas sekaligus berdiskusi tentang beberapa ramalan Jayabaya yang paling terkenal. Yuk, langsung aja kita mulai.

Prediksi kemunculan kereta api dan pesawat terbang

via pinterest.com

Baris awal Jangka Jayabaya berbunyi:


 “Besuk yen ana kereta mlaku tanpa jaran, tanah Jawa kalungan wesi, prahu mlaku ing duwur awang-awang…“

Artinya: “Besok kalau sudah ada kereta berjalan tanpa kuda, tanah Jawa berkalung besi, perahu berjalan di atas angkasa…”

Ramalan yang satu ini memang cukup mindblowing (agak lebay dikit, nggak apa-apa ya). Meski maknanya agak samar-samar, kita bisa menebak bahwa objek yang dimaksud adalah kereta api sekaligus relnya dan pesawat terbang.

Pertanyaannya, bagaimana caranya manusia dari abad 12 bisa memperkirakan teknologi yang muncul beratus-ratus tahun kemudian? Itu masih jadi misteri. Sebelum kita menggali ramalan ini lebih dalam, sebaiknya kita simak kelanjutan bait tersebut.

Hilangnya pasar tradisional

… Kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak.”

Artinya: “… Sungai hilang kedungnya (kehilangan sumber air), pasar hilang kumandangnya. Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.”

Pasar yang dimaksud tentu buka pasar malam, apalagi e-commerce. Yup, dilihat dari ramalan di atas, Prabu Jayabaya sepertinya tahu bahwa di masa depan nasib pasar tradisional semakin terpuruk. Dan jika dilihat dari kondisi zaman now, ramalan sang Prabu ada benarnya juga.

Tapi apa maksud dari sungai hilang kedungnya?

Kayaknya nggak ada pesan tersirat dari potongan kutipan itu. Dengan kata lain, kita bisa menginterpretasikannya secara langsung.

Jika sumber air hilang, otomatis hasil panen, yang notabenenya jadi komoditas utama pasar di zaman dulu, akan berkurang. Imbasnya, aktivitas pasar nggak bakal seramai hari-hari biasa.

Saya nggak bermaksud mementahkan ramalan ini. Tapi saya rasa ramalan ini juga bisa kita interpretasikan sebagai petuah: agar generasi berikutnya bisa menjaga kelestarian sungai (sumber air) sehingga pasar bisa tetap hidup dan roda ekonomi tetap stabil.

Ramalan itu diakhiri dengan kalimat “Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.”

Kedatangan Ratu Adhil

Banyak masyarakat percaya, Jangka Jayabaya meramalkan kedatangan Ratu Adil di masa depan. Dalam mitologi kejawen, Ratu Adil dianggap sebagai sosok pemimpin atau penyelamat yang akan membawa keadilan dan kesejahteraan pada masyarakat. Jayabaya sendiri dianggap sebagai lambang Ratu Adil. Ia adalah penyelamat untuk zamannya sendiri, sosok pemimpin yang mengangkat Kediri dari keterpurukan menuju kesejahteraan sosial dan ekonomi.

Nah, sampai sini kita bisa menarik kesimpulan dari dua bait awal Jangka Jayabaya. Dua bait tersebut menjelaskan tanda-tanda kemunculan sosok penyelamat di masa depan. Tanda yang dimaksud yakni saat teknologi telah maju, dan laju ekonomi tak lagi ditentukan oleh hasil panen serta aktivitas pasar tradisional.

Tanda-tanda kedatangan yang disebutkan dalam Jangka Jayabaya nggak berhenti sampai di situ. Dijelaskan pula kedatangan Ratu Adil ditandai dengan maraknya pesugihan, pergaulan bebas, korupsi, perpecahan masyarakat, fitnah dan masih banyak lagi. Bahkan kitab Jangka Jayabaya pun menyebutkan beberapa pertanda yang berkaitan dengan kemerosotan pemerintahan dan politik. Berikut beberapa baris dan bait Jangka Jayabaya yang menyinggung hal tersebut.

“Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe” (“Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri”)

“Wong jahat munggah pangkat” (“Orang jahat naik pangkat”)

 “Sing curang garang” (“Yang curang berkuasa”)

“Ukuman ratu ora adil\ akeh pangkat jahat jahil\ kelakuan padha ganjil\ sing apik padha kepencil\ akarya apik manungsa isin\ luwih utama ngapusi.” (“Peraturan hukum/hukuman raja tidak adil, banyak orang berpangkat yang jahat dan licik, tingkah lakunya aneh/ganjil/tidak wajar, yang baik tertindas, karya bagus justru dijelekkan/dipermalukan, lebih mengutamakan kedustaan.”)

Kedatangan koloni Belanda dan Jepang, serta terpecahnya pulau Jawa

via nasional.kompas.com

Konon katanya, dalam kitab Jangka Jayabaya juga tertulis ramalan tentang kedatangan orang kulit putih yang membawa tongkat dan bisa membunuh dari jarak jauh (dengan tongkat tersebut). Mereka akan memerintah Tanah Jawa dalam waktu yang sangat lama. Isi ramalan juga menyebut secara spesifik kedatangan bangsa kulit kuning yang akan melepaskan Tanah Jawa dari penjajahan kulit putih. Bangsa kulit kuning ini kemudian menetap dalam waktu yang singkat.

Banyak orang menganggap ramalan Jayabaya tersebut bercerita tentang penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia. Ramalan Jayabaya ini begitu populer di kalangan masyarakat Jawa tapi sekaligus sulit dibuktikan keasliannya. Besar kemungkinan ramalan Jayabaya ini diwariskan secara turun temurun melalui lisan. Yaah, saya juga belum tahu pasti sih. Soalnya saya nggak menemukan sumber yang mengutip langsung ramalan ini dari kitab Jangka Jayabaya.

Konon katanya lagi nih, Jayabaya juga meramalkan terpecahnya pulau Jawa. Menurut legenda, di zaman dulu, pulau Jawa, Sumatera, dan pulau-pulau di sekitarnya adalah satu kesatuan yang kemudian terpecah belah.

Ramalan Jayabaya nggak menyebut secara spesifik penyebannya. Tapi sebagian kalangan percaya ramalan tersebut terwujud saat gunung Krakatau meletus di tahun 1883. Meski begitu, nggak menutup kemungkinan ramalan ini hanya sekadar menceritakan kembali peristiwa pergeseran lempeng bumi yang terjadi di zaman purba.

Asal-usul Jangka Jayabaya

via underworld.co.id

Jangka Jayabaya yang melekat kuat dalam tradisi Jawa dipercaya sejarawan berasal dari kitab Musarar gubahan Sunan Prapen, penguasa keempat Giri Kedaton. Kitab Musarar atau Jangka Jayabaya versi awal mengisahkan riwayat kehidupan Jawa dari zaman purbakala hingga jatuhnya kerajaan Majapahit.

Di tahun 1749, Musarar digubah kembali oleh Pangeran Wijil 1 ke dalam bentuk puisi. Permulaan ceritanya pun agak diubah dengan mengambil sudut pandang Raja Jayabaya dari Kediri. Sejumlah teks sejarah pada masa itu memang menyebut Jayabaya adalah raja yang pandai meramal. Contohnya kakawin Bharatayudha dan serat Mahabharata karangan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Mereka adalah pujangga yang hidup di era kepemimpinan Jayabaya di Kediri.

Sentuhan sastra Pangeran Wijil 1 membuat Jangka Jayabaya dianggap sebagai karya penting dan simbol kebudayaan baru bagi masyarakat Jawa. Dari gubahan tersebut, banyak pujangga lain terinspirasi untuk menulis kitab serupa dengan ujaran dan ramalan baru yang berhubungan dengan lingkungan historisnya masing-masing.

Jadi, apakah Jangka Jayabaya itu teks ramalan atau karya sastra?

Jangka Jayabaya merupakan karya sastra yang mengisahkan pertumbuhan negeri-negeri di Tanah Jawa. “Ramalan” yang tertuang di dalamnya adalah hasil pengamatan dan perenungan dari berbagai isu sosial-politik yang terjadi di masyarakat zaman dulu. Isu-isu yang diangkat dalam Jangka Jayabaya sebagian besar berpotensi terulang di zaman-zaman berikutnya, jadi kesannya seperti meramalkan masa depan.

Tapi saya percaya Raja Jayabaya memang orang yang pandai meramal kok. Nggak tahu kenapa, feeling saya tentang Raja Jayabaya ini kuat. 

Komentar:

Komentar