5 Tren Fotografi Jadul yang Aneh tapi Keren, Duck Face pun Kalah!

via mentalfloss.com

:

Apa yang muncul di benak kamu tentang foto zaman dulu? Kalau saya sih, yang pertama terbayang itu fotonya pasti masih berwarna hitam putih. Hasil jepretannya pun pasti apa adanya. Nggak ada tuh istilah foto yang pakai editan filter warna dan retouch jerawat ala aplikasi filter foto kekinian. Natural, gitu lho.

Tapi orang-orang zaman dulu ternyata nggak kalah kreatif sama orang-orang zaman now. Buktinya, beberapa foto di bawah ini menunjukkan bahwa ada tren unik seputar fotografi yang sempat muncul di masa lampau. Canggih juga sih, mengingat kalau zaman dulu ‘kan teknologi fotografi masih sangat terbatas.

1. Tren ibu tak kasat mata

Tenang, ini bukan foto penampakan hantu. Tuh, lihat aja sendiri.

via theguardian.com

Pasalnya, untuk mengambil foto di zaman dulu butuh upaya ekstra. Orang yang hendak dipotret harus menahan posisinya sekitar 30 detik sampai foto berhasil dijepret. Kamu kalau disuruh tahan posisi selama 30 detik, pasti bakal pegal ‘kan? Apalagi kalau yang dipotret itu anak kecil, pasti pecicilan dan susah diatur banget deh.

Karena alasan tersebutlah, tren foto ini akhirnya muncul. Supaya fotonya berhasil diambil, foto jenis ini mengharuskan sang ibu untuk bersembunyi di latar belakang foto. Atau biar lebih ampuh, biasanya sang ibu akan menutupi diri memakai kain yang berwarna sama dengan latarnya. Nggak pake sotosop nih.

2. Tren foto merpati

Sebelum ada teknologi drone, fotografer zaman dulu sudah lebih kreatif dengan menggunakan burung merpati buat mendapatkan foto keren dari udara. Nih, salah satu contohnya.

via kottke.org

Foto ini hasil jepretan dari burung merpati milik Dr. Julius Neubronner di tahun 1907. Ia menempelkan kamera yang sudah diatur timer-nya ke badan merpati. Pada masanya, teknik ini terbilang yang paling sukses ketimbang teknik-teknik lainnya. Soalnya, burung merpati mampu terbang lebih tinggi dibanding balon dan layang-layang – dua benda yang sebelumnya jadi bahan percobaan untuk memotret dari udara.


Gimana kalau burung merpatinya kabur ya?

3. Permak foto manual

Di Inggris zaman dulu, ada solusi untuk orang-orang yang ingin wajahnya terlihat lebih bagus di dalam foto. Mereka mengarsir lensa kamera dengan pensil untuk menambahkan esetetika dalam foto mereka.

via mentalfloss.com

Agar teknik ini berhasil, ketajaman ujung pensil yang digunakan untuk memermak foto sangatlah penting. Contohnya, pensil yang ujungnya runcing biasanya digunakan untuk memperjelas garis wajah. Kalau yang agak tumpul, biasanya digunakan untuk mempercerah bagian wajah yang gelap.

Lumayan nambah kerjaan juga ya teknik yang satu ini.

4. Foto yang diwarnai sendiri

Teknologi untuk menghasilkan foto berwarna baru ditemukan di pertengahan abad ke-20. Tapi anehnya, ada lho beberapa foto berwarna yang dijepret di abad 19. Ternyata eh ternyata, foto-foto tersebut diwarnai sendiri oleh fotografernya.

via distinguished-mag.com

Johann Baptist Isenring-lah yang memulai tren untuk mewarnai foto hitam putih untuk terlihat lebih menarik. Awalnya, ia melakukannya dengan menorehkan warna dari karet Arab ke foto hitam putih hasil jepretannya. Tak lama setelahnya, teknik ini mulai digandrungi di kalangan fotografer.

Walau sempat jadi tren fotografi di pertengahan abad 20, lambat laun orang-orang mulai meninggalkannya sejak teknologi film dan cetakan berwarna ditemukan pada tahun 1950-an.

5. Red Shirt School of Photography

Sejak kemunculannya di tahun 1950-an, tren ini sudah mencuri perhatian banyak orang. Menurut kabar burung, kelahiran tren ini dipicu oleh tendensi pembaca majalah di zaman itu yang lebih menyukai warna pada foto dibanding momen yang berhasil ditangkap – yang merupakan poin utama dari sebuah foto hitam putih.

Fenomena itulah yang membuat para redaktur majalah saat itu memutuskan untuk membubuhkan satu warna yang akan menarik perhatian pembaca dengan instan. Dan warna yang dipilih adalah merah.

via nationalgeographic.com

Pemilihan warna merah pun sebetulnya terjadi dengan spontan. Fotografer di masa itu menyortir foto-foto yang masuk ke redaksi melalui hasil warna yang paling terang di antara semua hasil jepretan.  Namun sayangnya, tren ini tak bertahan lama dan akhirnya mulai memudar di tahun 1960-an.

Ternyata untuk menghasilkan sebuah foto yang keren di zaman dulu, butuh kreativitas dan upaya yang ekstra ya. Salut banget deh buat para fotografer zaman dulu.

Prabu Pramayougha :