5 Kisah dalam Sejarah yang Lebih Mengerikan dari Cerita Film Horor

via ancientpages.com

:

Sejarah peradaban manusia memang dipenuhi kejadian-kejadian mengerikan. Contohnya penjajahan, peperangan, bom nuklir, wabah penyakit, kelaparan, atau pembunuhan massal. Saking mengerikannya, nggak sedikit pula sutradara dunia yang mengadaptasi sejarah ke dalam film horor. Film The Witch (2015) bisa dibilang berusaha mengisahkan kembali praktik ilmu hitam yang pernah dilakukan kalangan masyarakat Inggris sekitar abad 17.

Itu cuma salah satu contohnya. Toh masih banyak kejadian mengerikan lain dalam sejarah yang nggak kalah menyeramkan dari film horor. Misalnya seperti 5 kisah yang dilansir dari Listverse dan Cracked berikut ini.

1. Pengunjung misterius di ruang angkasa

via news.cgtn.com

Yang Liwei adalah astronot Tiongkok pertama yang pergi ke luar angkasa di tahun 2003. Tapi saat menjalani misinya, Liwei mengalami kejadian aneh yang cukup menakutkan.

Di dalam pesawat ulang-alik, Liwei mendengar suara ketukan. Suaranya seperti ember besi yang dipukul dengan palu kayu berulang-ulang.

“Tok, tok, tok, tok”

Nah lho, di ruang kedap udara, suara teriakan sekalipun seharusnya nggak bisa terdengar. Mengapa Liwei bisa mendengar suara ketukan? Nggak masuk akal!


Merasa penasaran, Liwei mengecek ke sekeliling interior pesawat untuk mengetahui dari mana suara ketukan itu berasal. Ia pun mencoba mengintip ke jendela buat ngecek apakah suara itu berasal dari sisi pesawat. Sayangnya, usaha Liwei sia-sia. Ia nggak menemukan ada sesuatu yang salah, baik itu di dalam maupun di bagian luar pesawat.

Setelah kembali ke bumi, Liwei menceritakan pengalaman tersebut ke wartawan dan mengajak rekannya untuk mereka ulang suara tersebut. Meski berulang kali dicoba, hasil reka ulang suara tetap nggak sama dengan ketukan yang didengar Liwei. Tak ayal, pengalaman Liwei menggelitik hati para ilmuwan untuk mengemukakan teori.

Satu teori yang paling meyakinkan ialah bahan metal di bagian sisi pesawat berkontraksi saat terpapar suhu dingin di luar angkasa. Nah, teori ini semakin kuat setelah kejadian serupa dialami astronot lain di tahun 2005 dan 2008.

Tapi teori hanyalah teori, bukan fakta. Sebab nggak menutup kemungkinan suara ketukan misterius itu berasal dari alien yang pengin “say hi!” ke Liwei. Atau mungkin itu arwah gentayangan yang nyasar ke luar angkasa, terus minta Liwei buat nganterin pulang?

2. Situasi ala The Walking Dead di era Renaissance

via theverge.com

Era High Renaissance adalah masa ketika seni dan arsitektur berkembang pesat di Italia. Di masa inilah hidup seniman-seniman legendaris seperti Leonardo da Vinci, Raphael, dan Michelangelo. Tapi itu nggak begitu penting di cerita ini.

Yang lebih penting lagi, pada masa itu banyak penduduk Italia yang mengidap penyakit (kelamin) menular, sifilis. Situasi itu diperparah dengan belum ditemukannya antibiotik yang merupakan pengobatan utama sifilis di zaman now. Nggak heran jika pada saat itu, sifilis kian menyebar menjangkiti satu per satu penduduk Florence seiring dengan maraknya seks bebas.

Dari situlah kondisi masyarakat Florence berubah drastis, mirip seperti bencana zombie di serial The Walking Dead.

Daging orang-orang yang terjangkit sifilis mulai terkena infeksi, membuat penampilan fisik mereka layaknya zombie di film horor. Andaikan kamu hidup di zaman itu, kamu bakal melihat orang-orang dengan wajah yang membusuk berkeliaran di jalanan kota. Yang bikin situasi tambah mengerikan ialah kenyataan bahwa para “zombie sifilis” Kota Florence akan meninggal beberapa bulan setelah terkena infeksi.

3. Wabah Black Death di London

via historytoday.com

Masih seputar wabah, kali ini kita beralih ke Inggris sekitar abad 14 bertepatan dengan menyebarnya wabah Black Death di Kota London. Sedikit informasi, Black Death merupakan wabah penyakit menular yang merenggut puluhan juta nyawa manusia. Penyebaran wabah ini meliputi dataran Eurasia dan Eropa antara tahun 1347 sampai 1351.

Kehidupan masyarakat Eropa, khususnya Inggris, di era Black Death sungguh memprihatinkan. Di London, pemerintah menerapkan aturan yang terkesan diskriminatif untuk mencegah penyebaran penyakit, yakni dengan mengurung orang-orang yang sakit di dalam rumah masing-masing.

Setiap rumah penduduk yang sakit diberi tanda palang merah yang dipasang di pintu, menandakan bahwa rumah tersebut dilarang dimasuki orang yang masih sehat. Alhasil, para penderita Black Death di London nggak bisa mendapatkan pertolongan. Belum lagi, di luar rumah pasukan bersenjata kerap berpatroli untuk mencegah siapa pun memasuki rumah-rumah “tahanan”.

Seiring dengan berkurangnya persediaan makanan dan minimnya obat-obatan, keluarga yang terinfeksi akhirnya memutuskan untuk melawan balik. Mereka mulai berani membunuh para penjaga untuk kabur dari London, memicu kerusuhan yang berujung pertumpahan darah.

Tapi Black Death ternyata bukan sekadar penyakit yang tak ada obatnya. Ia seperti kutukan yang membuat penderitanya mati perlahan.

Kebebasan yang didapatkan para pengungsi wabah pun tak ada gunanya. Desa-desa kecil melarang mereka masuk. Dan akhirnya banyak dari mereka yang dibiarkan mati bergelimpangan di pinggir jalan.

4. Locusta, pembunuh berantai pertama yang tercatat dalam sejarah

via ancientpages.com

Locusta merupakan seorang wanita Romawi sekaligus psikopat yang pernah merenggut nyawa beberapa petinggi Kekaisaran Romawi. Ia juga dikenal sebagai pembunuh berantai pertama dalam sejarah. Yup, pembunuh berantai pertama dalam sejarah itu perempuan!

Locusta pernah ditangkap otoritas Romawi karena terbukti meracuni beberapa penduduk hingga tewas. Nggak disangka, penangkapan itu hanyalah awal dari “karier cemerlang” Locusta sebagai pembunuh. Dari sini, sisa hidup Locusta bakal terdengar seperti dongeng horor yang bikin anak-anak bergidik ketakutan.

Penangkapan Locusta ternyata bertepatan dengan niat Ratu Agrippina menggulingkan kekuasaan Kaisar Claudius. Alih-alih dihukum mati, Locusta mendapat ampunan dari Ratu asalkan mau membantunya meracuni Kaisar Claudius. Hmm… bagi Locusta yang udah biasa meracik racun, tentu itu bukanlah pekerjaan sulit. Locusta pun dibebaskan dari segala jeratan hukum setelah sang Kaisar dinyatakan meninggal.

Pada tahun 55 Masehi, Locusta kembali ditangkap karena kasus serupa, yakni meracuni orang. Tapi lagi dan lagi, dewi fortuna kembali memihak Locusta. Kali ini giliran Kaisar Nero yang memberi Locusta misi untuk meracuni Britannicus, saudara tiri Nero yang masih berusia 13 tahun.

Usai berhasil menyelesaikan misinya, Locusta diberi hadiah rumah mewah beserta murid-murid yang akan membantunya dalam berkarya seni. Statusnya meningkat jadi sekutu Kaisar, dan ia bisa dengan mudahnya mendapat segala hal yang diinginkan.

Tapi keberuntungan Locusta berbuah petaka setelah Kaisar Nero bunuh diri. Reputasinya yang buruk membuat otoritas Romawi berbalik menyerangnya. Nggak punya sekutu, Locusta akhirnya harus pasrah menerima kenyataan pahit dihukum mati. Di tahun 69 Masehi, Kaisar Galba menghukum Locusta dengan cara yang amat sadis. Menurut catatan sejarah, Kaisar Galba sengaja membiarkan Locusta diperkosa jerapah sampai tewas di depan ratusan pasang mata.

5. Minik Wallace menyaksikan jasad ayahnya dipajang di museum

via omropfryslan.nl

Dalam sejarah Amerika, Robert Peary dikenal sebagai penjelajah pertama yang berhasil menapakkan kaki di Kutub Utara, tepatnya di tahun 1909. Sebelum memecahkan rekor tersebut, Peary dan krunya menghabiskan waktu bertahun-tahun meneliti Samudra Arktik.

Di bulan September 1897, Peary berlayar ke New York sambil membawa enam anggota Suku Eskimo dari Greenland untuk diteliti. Di antara keenam orang tersebut, ada seorang bocah 7 tahun bernama Minik Wallace dan ayahnya, Qisuk. Mereka dipertontonkan pada khalayak di acara pameran Arktik Museum Sejarah Alam Amerika.

Nggak terbiasa dengan iklim New Yoirk, empat orang Eskimo termasuk Qisuk, akhirnya sakit dan meninggal dunia. Tak lama setelah itu, satu orang lagi melarikan diri ke Kutub Utara, meninggalkan Minik seorang diri.

Untuk menghormati “tamu” yang wafat, pihak Museum menggelar pemakaman. Minik menyaksikan ayahnya dikebumikan di taman museum. Tapi kenyataannya, jasad yang dikubur bukanlah Qisuk, melainkan hanya sebatang kayu yang dibungkus pakaian berbulu. Tubuh asli Qisuk, bersama dengan tiga orang Eskimo lainnya, dibedah dan diawetkan di Rumah Sakit Bellevue.

Suatu hari saat Minik kembali jadi bahan tontonan, ada hal janggal yang Minik lihat tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia menyaksikan jasad ayahnya bersama tiga orang eskimo yang ia kenal, dipajang di dalam sebuah etalase.

Gimana perasaanmu jika berada di posisi Minik, guys?

Belakangan diketahui Peary memang kerap membongkar kuburan Eskimo, lalu menjual hasil rampasannya (tulang belulang dan harta benda) ke museum. Selama bertahun-tahun, Minik sendiri mencoba melakukan berbagai cara, termasuk berkampanye, agar jasad ayahnya dikembalikan. Tapi permintaan Minik terus ditolak, setidaknya sampai Minik mengancam akan membongkar rahasia Peary yang telah mengawini dua wanita Eskimo. Permintaan Minik pun akhirnya dikabulkan dan Peary membiarkan Minik kembali ke Greenland.

Dari kelima kisah nyata di atas, mana menurutmu yang paling menyeramkan dan lebih mengerikan dari cerita di film horor? Sejarah memang dipenuhi peristiwa yang mencekam. Kamu tentu nggak mau jadi tokoh utama dari kisah mengerikan yang akan jadi sejarah untuk generasi berikutnya. Iya nggak? Tapi, kalau bisa sampai menginspirasi kisah film horor di masa depan, otomatis kamu bakal makin terkenal. Yakin nggak mau?

bayubaharul :