Wota, Antara Penggemar dan Delusi dengan Idola

Ngefans boleh, baper... nggak usahlah

:

Tiger, Fire, Cyber, Fiber, Diver, Viber, Jya jya!!!”

Kira-kira begitulah teriakkan para wota di GBK, saat pertama kali saya menyaksikan JKT48 pada konser The Untold Story. Saat itu saya sendiri lagi menemani teman. Dia ngebet banget pengin nonton Haruka yang telah dinyatakan graduate atau lulus dari JKT48.

Yaah, saya juga nggak munafik sih. Saya mau diajak teman saya itu karena kepingin lihat langsung Ayana JKT48. Dia kawaii banget soalnya.

Tapi di sana saya nggak cuma dapat pengalaman melihat langsung Ayana dari jarak sekian meter. Di sana pula saya dapat pengalaman bertemu langsung dengan para wota. Jujur aja, dulu waktu pikiran saya masih sempit dan banal, saya sering banget ngejek mereka, para wota itu.

Saat di GBK, untuk pertama kalinya saya melihat langsung muka bahagia mereka tiap kali meneriakkan nama anggota JKT48 yang berada di panggung. Walaupun kadang kelakuan mereka bikin saya bingung dan sedikit terganggu, saya juga berpikir: apakah ini mimik wajah bahagia seorang fans atau seorang pria yang bertemu dengan pujaan hatinya?

Karena terinspirasi dari pengalaman, sekarang saya pengin ajak kamu buat memperdalam pengetahuan tentang wota. Berikut ulasannya.

Wota bukan nama Fan JKT48

wota bukan nama fans jkt48
via akb0048.fandom.com

Mungkin masih banyak orang yang mengira bahwa wota adalah nama dari fans JKT48. Sebenarnya wota adalah kata turunan dari istilah di bahasa Jepang, otaku. Otaku yang sering dipelesetkan menjadi wotaku merupakan sebutan yang mengandung konotasi negatif. Artinya kira-kira orang yang dianngap nggak punya kehidupan selain untuk mendukung sesuatu yang ia suka.


Wota sendiri dikhususkan untuk orang-orang yang menyukai idol group. Tapi di Indonesia, wota sering dianggap sebagai julukan bagi penggemar JKT48. Meski begitu, konotasi negatifnya tetap sama dengan yang ada di Jepang.

Apa itu idol group?

idol group jkt48
via idntimes.com

Nah setelah membahas tentang wota, mari kita beralih ke idol group. Banyak yang beranggapan kalau idol group nggak ada bedanya dengan girl band seperti Black Pink ataupun Twice. Tapi idol group yang punya visi sebagai idola yang dapat ditemui, sebenarnya punya konsep yang jauh lebih rumit dari girlband.

Idol group lebih tepat disebut dengan akademi idola. Sederhananya, untuk membentuk satu grup, rumah produksi akan mengumpulkan para gadis berbakat dari seluruh negeri. Tapi para gadis itu juga nggak selamanya ada di zona aman, karena mereka akan diregenerasi dengan anggota baru setiap musimnya. Selain itu mereka juga dituntut untuk bersaing satu sama lain demi bisa masuk jajaran tim inti (dan video klip).

Rumit banget ‘kan? Penjelasannya masih belum selesai.

Setiap Idol group punya aturan masing-masing. Tapi biasanya, mereka memiliki satu aturan yang sama. Dan aturan yang maha sakral ini disebut dengan nama Golden Rule; aturan yang melarang idola untuk berpacaran.

lumina scarlet
via hamatome.hamazo.tv

Di negara asalnya, Jepang, idol group ada banyak banget. Mereka juga punya berbagai macam konsep. 48 Group misalnya, yang hampir ada di tiap kota. Ada pula Sakura Gakuin yang mengambil konsep sekolah, yang juga menjadi tempat lahirnya grup BabyMetal yang terkenal di dunia.

Di Indonesia sendiri, kita sebenarnya nggak cuma punya JKT48. Shojo Complex dan Lumina Scarlet juga merupakan idol groupĀ yang cukup terkenal.

Seperti apa kehidupan wota?

kehidupan wota
via zetizen.com

Sekilas wota seperti sama dengan fans dari artis atau idola lainnya. Tapi, bila kamu perhatikan lebih jauh, mereka punya perbedaan yang mencolok.

Pertama, mereka punya semangat dan militansi melebihi fans biasa pada umumnya. Bayangkan saja, wota JKT48 hampir setiap hari berkumpul di teater JKT48. Nah, untuk idol group lain yang belum setenar JKT48, mereka akan terlihat berkumpul di acara festival bertema Jepang yang juga ada setiap minggunya di Jakarta, tepatnya di bilangan Mangga Dua.

Serunya lagi, batasan antara wota dengan sang idol pujaan mereka cenderung lebih longgar. Jika kamu beli tiket Java Jazz yang harganya sampai ratusan ribu bahkan jutaan “hanya untuk” menonton musisi yang kalian suka, wota bisa mendapatkan lebih dari itu dengan harga tiket lebih murah. Mereka bisa bercanda, bercengkerama, dan foto bersama layaknya teman.

Handshake festival
via teras.id

Mereka juga punya acara khusus yang disebut festival handshake. Intinya sih, di acara itu kamu bisa berjabat tangan dengan idola. Iya, cuma salaman doang. Tapi para wota tetap bersedia membeli tiket dengan harga beberapa puluh ribu rupiah untuk bersalaman dengan durasi 10 detik.

“Lho, salaman aja kok bayar?” mungkin itu yang ada di pikiran kamu sekarang.

Memang rasanya aneh kalau salaman dengan idola, yang sesama manusia, kita mesti bayar. Tapi bagi wota, ini bukan salaman biasa. Mereka akan dilayani mengobrol tentang apa pun sambil digenggam erat tangannya oleh idola. Tak ayal, hal ini membuat tiap satu orang bisa membeli sepuluh tiket untuk satu kali sesi. Bahkan mereka tak jarang akan berpindah dari satu idol ke idol lain.

Wota dan delusi

wota dan delusi
via davidprasetyo.com

Kalau dilihat dari tipisnya batasan yang ada antara wota dengan para idol (dan adanya Golden Rule), ada aja wota yang bertingkah terlalu berlebihan. Bahkan saya pastikan sebagian besar dari wota pasti pernah baper dan berdelusi dengan idola yang mereka puja. Saya sendiri pernah melihat balasan Twitter Melody saat dia masih menjadi anggota JKT48, di mana banyak yang menyatakan cinta dan bahkan serius mempersunting sang idola.

Itulah kenapa saat Golden Rule dilanggar oleh idol, para wota bertransformasi jadi pria-pria yang begitu galau dan patah hati. Kecemburuan mereka bahkan bisa segera mengakhiri karier dari sang idola yang dituntut oleh para wota untuk bertanggung jawab atas kesalahannya.

Karena itu kehidupan sebagai idola di satu sisi bisa dibilang cukup miris, karena mereka seakan terpenjara dengan aturan untuk tetap menjadi yang dicinta. Karena hampir tak ada batasan, kehidupan pribadi idola kerap dieksploitasi secara diam-diam oleh para oknum wota. Bahkan belum lama sempat terbongkar kasus penjualan alamat rumah dari para idol. Tapi kini JKT48 cukup tegas. Terakhir mereka mulai menempuh jalur hukum untuk para oknum yang menyebarkan foto pribadi dari salah satu idol.

Saya sendiri merupakan saksi dari kehidupan salah satu idol. Saya sempat berkuliah di kampus yang sama dengan salah satu anggota JKT48. Awalnya saya nggak tahu ia adalah anggota JKT48. Penampilannya sangat berbeda dan kerap memakai masker dan kacamata. Ternyata itu merupakan kamuflase agar tidak diketahui oleh para wota, karena kebetulan di kampus saya juga terdapat banyak wota. Letaknya pun hanya beberapa kilometer dari markas JKT48. Saya sendiri tahu dia adalah idol setelah melihat unggahan foto wisudanya.

Tapi sebenarnya masih ada kok wota yang memang tulus mendukung idola mereka. Banyak malah. Kembali ke pengalaman pribadi, waktu kuliah saya punya teman sekelas yang berasal dari Jepang. Ia pindah ke Indonesia untuk mendukung JKT48 untuk lebih berkembang. Lebih dari 500 kali ia datang ke pertunjukkan JKT48. Lebih dari itu, ia juga sering membeli berbagai macam merchandise. Tujuannya cuma satu, agar JKT48 dan idolanya semakin maju, no baper baper.

Begitulah kehidupan wota, sebenarnya mereka tak seburuk yang kita kira. Mereka hanya seperti penggiat hobi Gundam yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi membeli sebuah action figure yang disuka. Begitu juga dengan wota, mereka berjuang agar idola mereka semakin maju dan sukses. Karena itu wota menjadi semakin semangat akan kehidupannya sendiri seiring semangat yang diberikan idola mereka.

Komentar:

Komentar