Apa Bedanya Sosiopat, Psikopat, dan Narsisis? Jawabannya Lumayan Rumit lho

"Kamu jahat! Dasar psikopat!"

Dunia yang kita huni ini pasti dihuni manusia dengan berbagai macam sifat dan kepribadian. Dan di antara miliaran manusia dengan berbagai karakteristik yang berbeda, ada tiga jenis manusia yang sering dikaitkan dengan konotasi negatif. Bahkan nggak jarang mereka disalahpahami dan disamakan satu sama lainnya.

Yup, mereka adalah narsisis, sosiopat, dan psikopat.

Kamu juga pasti pernah nonton film yang berisikan karakter psikopat. Biasanya sih, karakter psikopat digambarkan sebagai sosok yang keji nan kejam. Tapi apa kamu tahu arti dan karakteristik yang sebenarnya dari psikopat? Apa bedanya mereka sama sosiopat dan narsisis?

Narsisisme, sosiopatisme, dan psikopatisme dianggap sebagai suatu gangguan kepribadian oleh para ahli. Ketiganya saling punya kesamaan satu sama lain. Tapi ada ciri-ciri dan tingkatan yang membedakan ketiga penyakit jiwa tersebut. Yuk, kita cari tahu bareng-bareng di artikel ini.

1. Narsisis

Lukisan Michelangelo Merisi da Caravaggio tentang Narcissus, tokoh mitologi Yunani yang jatuh cinta pada bayangan dirinya sendiri/via pinterest.com

Pastinya kita sudah nggak asing lagi dengan kata narsis. Kita sering memakai kata tersebut buat merujuk orang-orang yang hobi bergaya di depan kamera dan merasa diri mereka paling cakep sedunia. Tapi sebenarnya, pengartian tersebut belum meliputi kondisi kepribadian narsisisme yang lebih luas lho. Jadi sebetulnya bagaimana sih ciri dari narsisis? Apa kamu juga termasuk salah satunya? Mari kita cari tahu.

Narsisisme merupakan suatu gangguan kepribadian yang disebut juga sebagai NPD (Narcisistic Personality Disorder). Orang dengan NPD biasanya merasa dirinya lebih penting dan spesial dibanding orang lain. Jadi tak heran jika penderitanya cenderung tak memedulikan perasaan, perkataan, dan kondisi orang-orang di sekitarnya karena kurangnya rasa empati.

Narsisis juga suka membanggakan, atau lebih tepatnya melebih-lebihkan, dirinya sendiri. Tujuannya tak lain yaitu untuk memperoleh pujian dan penghargaan dari orang lain. Ya, narsisis selalu membutuhkan banyak pujian, seakan rasa kagum dari orang lain itu adalah oksigen. Satu ciri lainnya adalah mereka suka memanfaatkan orang lain untuk mencapai tujuan pribadinya.

Kalau sudah sampai ke tahap kronis, penderita NPD tak akan segan untuk bertindak semena-mena supaya terlihat menonjol di mata dunia. Dan mereka akan merasa kesal jika tak mendapatkan pujian yang diharapkan.

2. Sosiopat

Mungkin ini raut wajah sesungguhnya seorang sosiopat yang penuh tipu daya/via valstietis.lt

Sama dengan penderita narsisisme, sosiopat juga merasa diri mereka paling penting ketimbang orang lain. Tapi dalam praktiknya, sosiopat cenderung lebih agresif demi memanipulasi orang lain untuk mencapai tujuan pribadi. Mereka sering melanggar aturan, menipu, dan berbohong secara terus menerus karena kurangnya tanggung jawab dan perasaan bersalah. Dan jika menemui konsekuensi akan tindakan negatif tersebut, para sosiopat cenderung tak merasakan penyesalan. Sebagiannya dikarenakan rasa penolakan mereka terhadap aturan dan lingkungan sosial.

Sosiopat tergolong lihai dalam urusan menipu ketimbang narsisis. Alih-alih membanggakan dirinya sendiri, percakapan sosiopat lebih berpusat pada lawan bicaranya untuk mengorek informasi yang dirasa bisa menguntungkan buatnya. Sosiopat pun pandai berpura-pura dan menyesuaikan kepribadian untuk memperoleh keuntungan di situasi tertentu.

3. Psikopat

Tatapan mata seorang psikopat seperti yang biasa kita lihat di film-film horor/via pexels.com

Sosiopat dan psikopat sebenarnya punya beberapa persamaan. Karena itu, banyak orang yang menyamakan sosiopat dengan psikopat. Beberapa persamaannya di antara lain adalah mereka tak bisa membedakan baik dan buruk. Kedua, tak punya kemampuan untuk memahami perasaan orang lain. Jadi mereka hanya bisa belajar dan meniru perasaan dan emosi.

Para ahli mengkategorikan sosiopat sebagai orang dengan hati nurani yang lemah; sedangkan  psikopat sama sekali tak punya hati nurani. Kamu sering melihat bagaimana mengerikannya para psikopat di film-film pembunuhan ‘kan? Tapi kenyataannya, kebanyakan psikopat berpenampilan normal. Dan ternyata, cukup sulit bagi kita untuk mendeteksi orang dengan gangguan kepribadian semacam ini. Soalnya, aksi mereka dalam memperdaya atau menyakiti orang lain cenderung lebih teratur dan terencana. Mereka lebih memilih cara paling efektif untuk menyingkirkan siapa pun yang menghalangi tujuan.

Psikopat sama sekali tak takut akan konsekuensi dari tindakan negatif yang dilakukannya. Itulah sebabnya mereka rela menghalalkan berbagai cara untuk mencapai sesuatu yang diharapkan.

Nah, itu dia perbedaan narsisis, sosiopat, dan psikopat. Tapi itu bukan berarti penjelasan di atas sudah komplet benar. Mengkategorikan manusia itu bukan sesuatu yang gampang. Dan sampai saat ini para ahli pun masih terus mempelajari psikopatisme. Lagi pula, tiga gangguan kepribadian itu punya tingkatan tersendiri. Jadi kurang layak buat kita untuk menyamaratakan semua psikopat, misalnya.

Anyway, semoga informasi di atas bermanfaat buat kamu.

20 Shares

Komentar:

Komentar