Katanya Musik Folk Hanya untuk Para Penikmat Senja, Apa Betul tuh?

Bukan untuk penikmat subuh atau petang hari?

:

Sembilu… yang dulu… biarlah berlalu

Bekerja bersama hati

Kita ini insan bukan seekor sapi

Familiar sama penggalan lirik lagu di atas? Yup betul, itu adalah potongan lagu berjudul Zona Nyaman yang dipopulerkan oleh Fourtwnty. Semenjak rilis di tahun 2017, lagu ini banyak diputar di mana-mana. Sampai-sampai ada yang bikin video klip parodi dengan judul Zona Teman atau Zona Mantan.

Fourtwnty cuma satu dari beberapa musisi beraliran folk yang mewarnai belantika musik Indonesia. Dan nggak bisa dipungkiri, lagu-lagu folk bernada minor ini akan selalu jadi musik latar yang pas saat lagi menyendiri. Akhir-akhir ini lagu folk bahkan sering dikaitkan dengan orang-orang penikmat senja.

Musik folk dan Penikmat senja

Banyak juga lagu indie yang bertemakan senja/via youtube.com/Indie Music

Para penikmat senja suka banget menangkap gambar saat warna oranye mendominasi langit. Lalu mereka tambahkan sedikit kata mutiara di foto tersebut sebelum diunggah ke medsos. Nggak ketinggalan, harus ada backsound musik folk.

Saking seringnya orang upload foto senja diiringi musik folk, akhirnya muncul pernyataan kayak gini: “Dasar anak indie, Instastories-nya senja melulu.”

Entah kenapa karena guyonan itu, pencinta folk jadi dipandang sebelah mata. Dan yang terutamanya, makna folk sebagai musik rakyat seperti ikut luntur.

Sejarah di balik kehadiran musik folk

via cdandlp.com

Istilah folk muncul pertama kali tahun 1778. Penemunya merupakan penulis sekaligus filsuf asal Jerman, Johan Harderr. Ia menemukan istilah itu dalam koleksi Volkslieder atau Lagu Rakyat. Ia berpendapat bahwa jiwa suatu bangsa bisa ditemukan dalam lagu-lagu yang populer di kalangan petani, atau dengan kata lain lagu yang merakyat.

Dua abad kemudian, gagasan lain tentang folk muncul di Amerika Utara tahun 1930. Aktivis sekaligus musisi asal Amerika Serikat, Woody Guthrie, menuangkan keresahannya tentang politik kelas pekerja ke dalam lagu berjudul This Land is Your Land.

Ya, dari sejarahnya, musik folk itu murni tentang rakyat. Pada dasarnya, folk adalah musik rakyat yang erat kaitannya dengan budaya masyarakat daerah. Maka dari itu, produk yang dihasilkan pun mencirikan khas dari tempat lagu itu berasal. Liriknya kebanyakan berkisah tentang hal-hal yang dekat dengan masyarakat atau kritik.

Seiring berjalannya waktu, musik folk pun merambah ke tanah air, ditandai dengan kehadiran Gordon Tobing, Gombloh, dan Leo Kristi pada tahun 1960-an. Bisa jadi nama-nama itu asing di telinga kamu, wahai para milenial. Tapi yang harus kamu ketahui, merekalah pentolan musik folk di Indonesia sebelum lahirnya Daramuda Project besutan Danilla Riyadi, Rara Sekar, dan Sandrayati Fay.

Musik folk Indonesia masa kini

Setelah membahas musisi-musisi beraliran folk dari masa lampau, sekarang kita beralih ke generasi penerus belantika musik rakyat Indonesia. Masih serupa dengan folk asal barat, di Indonesia juga tema yang diangkat kebanyakan tentang isu sosial. Lagu Variasi Pink karya Jason Ranti atau Gersang oleh Figura Renata bisa dijadikan contoh.

Coba deh kamu dengar minimal lima lagu folk masa kini dari musisi yang berbeda. Kamu bakal bisa langsung mengetahui apa ciri khas yang paling kentara.

Yup, jawabannya adalah komposisi musik yang minimalis. Maksudnya, secara produksi nggak banyak sentuhan teknologi di musiknya, alias didominasi dengan peralatan akustik. Karena itu pula, para musisi folk mengambil jalur independen atau indie, supaya mereka lebih bebas berkarya tanpa tuntutan dari label.

Ciri khas lainnya adalah lirik lagunya yang puitis dan punya makna yang dalam. Alunan musik akustiknya mendukung banget untuk bikin suasana semakin sendu. Itu makanya buat sebagian orang, lagu folk memang cocok didengarkan sambil menatap senja atau rintik air hujan di jendela.

Hujan+jendela+musik folk = Mantap dah!/via pixabay.com/DarWorkX

Tapi satu hal yang penting, kita kembalikan lagi semuanya ke tujuan awal lagu-lagu folk. Ada misi besar yang dibawa olehnya, yakni membuat budaya kritis tetap dilestarikan. Biar nanti ke depannya akan selalu ada musisi yang seberani Iwan Fals dalam menulis lirik, atau sepeka Ebiet G. Ade dalam menuangkan keresahan ke dalam lagu.

Intinya, siapa pun boleh suka atau juga nggak dengan genre musik yang kita bahas ini. Yang penting, kita tetap menghargai perbedaan selera orang lain. Setuju?

5 Shares

Komentar:

Komentar