Kamu Sering Marah Saat Dengar Suara Orang Mengunyah? Ternyata Ada Alasannya lho

"Krauk, krauk, krauk"

:

Pernah tidak kamu merasa ingin tutup telinga, kesal, atau merasa ingin memukul orang yang mengunyah makanan dengan keras? Atau mungkin kamu kenal dengan orang yang sering bereaksi seperti itu? Sebetulnya orang-orang seperti itu bukanlah orang-orang yang rewel, tetapi otak mereka itu punya semacam kepekaan emosional yang berlebihan pada suara-suara tertentu.

Berikut penjelasannya:

Misofonia

Misophonia via foodplease.com
Misophonia/via foodplease.com

Orang yang “menderita” misofonia bakal terpengaruh emosinya kalau mereka mendengar suara-suara normal. Mayoritas orang mungkin nggak akan masalah saat dengar suara orang mengunyah, bersiul, menguap, atau menyeruput minuman. Tapi nggak bagi mereka dengan kondisi misofonia.

Meskipun tidak ada dasar pada ilmu neurologi, misofonia telah diderita banyak orang. Orang-orang yang memiliki misofonia bukan sekadar merasa terganggu saja dengan suara tertentu, tapi mereka akan merasa kesal dan, pada kasus paling ekstrem, merasa marah dan stres hingga memiliki reaksi seperti ingin berkelahi atau bahkan kabur.

Temuan para peneliti

Brain MRI via BrainFacts.org
Brain MRI/via brainfacts.org

Telah terbukti melalui scan pada otak penderita misofonia yang dilakukan oleh beberapa peneliti, ternyata mereka memiliki otak yang berbeda dengan otak orang normal. Para peneliti tersebut  menggunakan suara-suara tertentu untuk memicu dan mengamati reaksi otak para penderita melalui scan MRI.

Suara yang digunakan beragam, dari mulai suara yang netral seperti suara angin dan hujan sampai suara orang marah-marah dan bayi menangis, atau suara pemicu milik masing-masing (suaranya bisa bermacam-macam, seperti mengunyah permen karet hingga suara bersin).

Yang ditemukan para peneliti, para penderita misofonia memiliki koneksi antara indera dan emosi yang berbeda. Karena itu, mereka sering bereaksi berlebihan ketika mendengar suara pemicu. Jadi, reaksi mereka bukan sekadar terganggu saja, melainkan rasa marah dan bahkan rasa benci, panik, atau stres.


Belum ada obatnya

nature-fashion-person-woman
via pexels.com

Sayangnya, meskipun telah ada beberapa riset yang dilakukan tentang misofonia, para peneliti belum menemukan obatnya. Bagi yang telah memilikinya selama bertahun-tahun, mereka hanya menanganinya dengan cara mereka sendiri, seperti memakai penutup telinga, atau dengan cara menghindar atau meninggalkan tempat di mana suara pemicu sering terjadi.

Tetapi, jika kamu sudah tidak tahan dengan suara-suara tertentu hingga memengaruhi kehidupan sosial, kamu bisa coba melakukan terapi di klinik. Sudah banyak klinik yang menawarkan terapi suara kok.

Setelah membaca artikel ini, apakah kamu pernah juga termasuk orang dengan kondisi misofonia? Atau kamu punya teman atau punya anggota keluarga yang pernah mengalaminya?

Komentar:

Komentar