Hikikomori: Kenapa Banyak Orang Jepang Betah Mengurung Diri di Dalam Kamar?

Nggak ada sangkut pautnya sama 'mager'

:
via steamkr.com

Saat menjalani kehidupan sehari-hari, ada kalanya kita pengin meluangkan waktu untuk diri sendiri. Alasannya bisa bermacam-macam: jenuh, risih, atau yang lebih ekstrem lagi, merasa dikucilkan oleh orang-orang sekitar. Apa kamu pernah merasa demikan?

Tapi coba bayangkan jika kamu nggak pernah berinteraksi dengan orang lain dan mengurung diri di kamar untuk waktu yang lama. Kegiatanmu sehari-hari hanya seputar makan, baca buku, nonton TV, browsing internet, dan tidur. Kira-kira dengan pola hidup seperti itu, berapa lama kamu bakal bertahan sampai akhirnya merasa kesepian dan depresi? Kalau saya mungkin paling kuat satu minggu. Setelahnya saya bakal keluar kamar.

Oleh sebab itu, saya nggak bisa membayangkan gimana jadinya kalau mesti menjalani kehidupan seperti Hikikomori. Apa itu Hikikomori?

Di masyarakat Jepang, istilah hikikomori dipakai untuk menyebut mereka yang mengurung diri di kamar selama bertahun-tahun. Dengan mengasingkan diri di ruangan pribadi, para Hikikomori bisa menghindari musuh utama mereka, yakni interaksi sosial.

Di keseharian, hikikomori biasanya menjalani kehidupan nokturnal. Mereka tidur saat orang-orang sedang sibuk-sibuknya beraktivitas, lalu bangun di waktu petang atau malam hari. Waktu luang mereka biasanya dihabiskan dengan membaca buku atau manga, menonton televisi, berselancar di dunia maya, dan bermain video game.

Sebagian besar hikikomori merupakan laki-laki yang berasal dari keluarga kelas menengah. Remaja hikikomori yang tinggal bersama orang tua seringkali dibuatkan makanan oleh ibu atau ayah mereka. Makanan tersebut kemudian ditaruh di depan pintu kamar. Sementara bagi yang sudah dewasa dan tinggal sendirian, sesekali mereka membeli persediaan makanan yang banyak supaya nggak terlalu sering keluar rumah.

Fuminori Aoka (29), Hikikomori yang nggak pernah keluar rumah selama satu tahun/via nationalgeographic.com

Survey di tahun 2015 mencatat ada sekitar 541.000 penduduk Jepang, dengan rentang usia 15-39 yang menganut gaya hidup hikikomori. Sementara survey terbaru di bulan Desember 2018 mencatat ada 613.000 hikikomori dengan rentang umur 40 sampai 60 tahun. Jika mau dibandingkan, jumlah itu bahkan lebih besar dari hikikomori dengan rentang usia 15-39 tahun. Wow!


Jumlah sebenarnya dari hikikomori yang ada di Jepang malah bisa lebih besar lagi, mengingat sifat mereka yang tertutup (saat didata). Jumlah totalnya sendiri diperkirakan mencapai lebih dari satu juta orang.

Hmm… satu juta orang ya. Sekarang coba bayangkan kalau ada satu kota dengan penduduk satu juta orang yang semuanya adalah hikikomori. Bakal jadi kayak gimana itu kota? Jadi kota hantu? Entahlah, membayangkannya saja sulit. Intinya, hikikomori udah jadi semacam wabah penyakit sosial di Jepang yang mengancam kelangsungan ekonomi dan nasib generasi muda.

Kira-kira apa yang mendorong seseorang buat menjalani hidup sebagai hikikomori?

Mungkin faktor budaya masyarakat jadi alasan utama mengapa banyak orang Jepang yang jadi hikikomori. Di Jepang, tuntutan sosial sudah bisa dirasakan semenjak usia dini. Misalnya, anak sekolah kerap dituntut oleh orang tuanya supaya dapat nilai akademik yang maksimal. Alhasil, lingkungan sekolah pun semakin kompetitif dan menguras pikiran.

via fastjapan.com

Tuntutan sosial terus berlanjut sampai ke ranah pekerjaan. Ya, masyarakat Jepang memang terkenal akan etos kerjanya yang baik ‘kan? Tapi ternyata hal itu tidak terlepas dari tuntutan sosial yang sedang kita bicarakan.

Tuntutan sosial seperti apa yang dimaksud?

Perlu kamu tahu, prestasi, jabatan, serta reputasi adalah aspek yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Jepang. Imbasnya, mereka yang terpeleset menuju jurang kegagalan mungkin bakal merasa trauma meskipun hanya gagal sekali. Rasa malu dan putus asa, ditambah tekanan dari orang-orang terdekat, memicu mereka yang merasa dirinya gagal untuk menarik diri dari lingkungan sosial dan menjadi hikikomori.

Pergeseran budaya masyarakat Jepang ke arah individualisme juga bisa jadi penyebab lain dari tumbuhnya jumlah hikikomori. Di kalangan remaja, keputusan untuk jadi hikikomori biasanya berasal dari nilai jeblok yang berbanding terbalik dengan tuntutan orang tua. Alasan lainnya bisa juga karena patah hati, atau dikucilkan oleh teman-teman.

Sementara di kasus orang dewasa, kegagalan di tempat kerja, pensiun, dan nihilnya kemampuan interaksi sosial jadi penyebab utamanya.

via artforia.com

Konon, seseorang disebut sebagai hikikomori setelah mengunci diri sendiri di dalam kamar selama enam bulan berturut-turut. Orang normal kayak kamu pasti mikir…

“Kok bisa terus-terusan tinggal di kamar sampai enam bulan gitu?”

Ya, seperti yang sudah dijelaskan, hal itu disebabkan karena mereka merasa nggak sanggup menanggung beban sosial. Mereka sudah merasa kehilangan rasa percaya diri serta kepercayaan terhadap orang-orang di sekitarnya. Dengan mengurung diri di di dalam kamar, hikikomori bakal lebih merasa aman dan damai.

Hal tersebut jelas nggak baik bagi kesehatan mental. “Semakin lama hikikomori menutup diri dari lingkungan sosial, mereka akan semakin sadar pula atas kegagalan diri mereka di kehidupan sosial,” jelas fotografer Maika Elan, fotografer National Geographic yang pernah mengamati fenomena hikikomori di Jepang.

Oleh sebab itu hikikomori seringkali merasa kesulitan buat kembali ke kehidupan nyata. Enam bulan mungkin bukan waktu yang sebentar, tapi sebagian hikikomori tercatat pernah mengurung diri dan menghindari komunikasi hingga bertahun-tahun, bahkan ada yang sampai tujuh tahun berturut-turut.

Masih mau dengar data yang lebih mencengangkan lagi? Satu dari tiga hikikomori berumur 40-44 tahun yang didata dalam survey mengaku, mereka menutup diri dari lingkungan sosial karena, salah satu alasannya, susah mendapat pekerjaan. Dan mereka sudah menjadi hikikomori sejak umur 20-24 tahun. Jadi dengan kata lain, mereka sudah menyandang status hikikomori selama sekitar 20 tahun lamanya!

Pemerintah dan masyarakat sebenarnya sudah melakukan berbagai usaha buat meredam jumlah hikikomori di Jepang. Misalnya seperti program pendidikan online yang dikhususkan bagi remaja hikikomori. Ada pula sejumlah agensi dan relawan yang memberikan penyuluhan serta mengajak hikikomori buat kembali bergaul di tengah masyarakat. Tapi sepertinya, masih butuh waktu yang lama untuk benar-benar menghapus fenomena sosial yang satu ini.

Sebenarnya fenomena hikikomori nggak cuma terjadi di Jepang. Di Indonesia juga ada lho. Tapi mungkin di negeri kita fenomena ini lebih dikenal dengan sebutan mager alias malas gerak. Oh, beda ya? Kirain sama.

Komentar:

Komentar