Death by GPS, Sisi Gelap GPS yang Wajib Kamu Ketahui

Nggak ingin kejadian kayak gini, kan?

:

Pada saat buta arah, kehadiran GPS seakan menjadi oasis di tengah gurun karena dapat memudahkan dan membantu kita dalam menentukan arah. Memang GPS bukan satu-satunya solusi karena kita masih bisa bertanya kepada penduduk lokal, tapi terkadang kita lebih merasa nyaman, sudah kadung percaya sama GPS, atau malah sungkan mau tanya. Ada yang kayak gini juga?

Nggak ada salahnya kalau mau memanfaatkan teknologi, tapi jangan sepenuhnya percaya. Kalau cuma sekedar salah jalan atau sedikit nyasar sih nggak masalah, tapi gimana kalau sampai merenggut nyawa karena diarahkan oleh GPS ke jalan yang berbahaya? Peristiwa perenggutan nyawa yang disebabkan oleh GPS ini bahkan sudah ada namanya, yaitu “Death by GPS.

Death by GPS ini bisa disebabkan karena navigasi mengarahkan pengemudi ke suatu tempat yang membuat mereka tidak bisa kembali atau membuat pengemudi tidak bisa cukup lama bertahan hidup pada saat terjebak di suatu tempat.

via abcnews.go.com

Nggak percaya?

Pada tahun 2009, seorang perawat dan anaknya yang berusia 6 tahun terjebak di gurun akibat mengikuti arahan GPS. Mereka terlambat menyadari bahwa jalur yang mereka lewati ternyata bukanlah jalur yang seharusnya. Hal itu menyebabkan mobil yang mereka tumpangi terkubur oleh pasir dan membuat mereka terjebak di dalam mobil selama seminggu. Pada saat mobil mereka ditemukan oleh ranger, si perawat sudah sekarat sedangkan anaknya sudah meninggal.

Sedangkan pada tahun 2011, sepasang suami istri asal Penticton, Kanada, terjebak di Pegunungan Jarbidge pada saat ingin pergi ke Las Vegas. Untungnya sang istri masih hidup saat ditemukan oleh ranger di dalam mobilnya setelah 7 minggu dengan mengandalkan sumber daya seadanya yang ada di hutan. Sedangkan suaminya meninggal sekitar 11 km dari mobilnya pada saat ingin meminta bantuan ke kota terdekat.

via methodshop.com

Selain itu pada tahun 2015, mobil yang dikendarai Iftikhar dan Zohra Hussain terjun dari ketinggian 12 meter pada saat melewati jembatan yang rapuh. Padahal jembatan tersebut sedang direnovasi dan telah ditutup sejak tahun 2009. Mereka tidak melihat papan peringatan dan penanda bahaya lain karena terlalu fokus dengan GPS.

via methodshop.com

Nggak berhenti sampai disitu, pada tahun 2017 dan 2018 ada 3 kasus mobil nyemplung ke kolam karena terlalu percaya mengikuti arahan dari GPS.

Makanya, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, nggak ada salahnya memanfaatkan teknologi, tapi bijak lah dalam mengambil keputusan dan jangan terlalu mempercayai GPS kalau nggak ingin seperti korban-korban yang sudah disebutkan di atas.

Apa kamu punya pengalaman yang mirip-mirip pada saat nyetir menggunakan GPS? Coba ceritakan pengalamanmu di kolom komentar, ya.

Komentar:

Komentar