Bridal Shower Zaman Now: di Antara Kebutuhan dan Urusan Gengsi Belaka

Bridal shower? Penting nggak? Atau nggak penting?

:
via printable360.com

Sebagai anak zaman now, kamu pasti mafhum kalau hampir segala macam hal bisa dijadikan tren. Momen pernikahan yang sakral sekalipun nggak lepas dari pengaruh tren. Coba kamu ketik kata kunci “Bridal Shower” di Google. Kamu bakal menemukan setumpuk artikel mengenai bridal shower; mulai dari tipsnya, sampai foto-foto bridal shower yang dirayakan artis ibu kota negara dan ibu kota daerah.

Ngomong-ngomong, saya udah cek lho foto-foto perayaan bridal shower dari para artis itu. Dan ya, kelihatannya memang seru.

Tapi itu juga pangkal masalahnya. Salah satu faktor kenapa tren bridal shower bisa begitu melejit adalah karena, apalagi kalau bukan, pengaruh selebriti dan selebgram. Saya curiga, jangan-jangan kalau seleb sekaliber Rihanna datang ke pernikahan saudaranya sambil bawa-bawa sapu lidi, itu juga bakal jadi tren!

Anyway, sebenarnya apa sih bridal shower itu? Dan apakah itu upacara yang sebegitu pentingnya, sampai-sampai banyak kaum hawa yang rela mengeluarkan dana nggak sedikit demi merayakannya?

Semuanya bermula pada abad 16

via mytrueblu.com

Bridal shower muncul sekitar abad enam belas di Belanda. Nggak seperti zaman sekarang, pada masa itu bridal shower diselenggarakan sebagai acara yang berkaitan dengan mahar. Keluarga dan sahabat si pengantin akan berkumpul dan memberikan hadiah-hadiah kecil untuk membantu si calon mempelai perempuan.

Alasannya dari pemberian hadiah ini ada dua. Pertama adalah karena si calon mempelai wanita terlalu miskin. Jadi harapan si pemberi hadiah adalah hadiah mereka dapat membantu kehidupan si pengantin saat berumah tangga.

Alasan kedua karena si perempuan akan menikah dengan laki-laki yang kemampuan ekonominya ada di bawah calon pasangannya. Kondisi tersebut berisiko membuat si ayah (atau anggota keluarga lain) dari calon pengantin perempuan tak menyetujui pernikahan anaknya. Sang ayah bahkan bisa mengancam akan menahan mahar si perempuan.


Maka dari itu, sahabat-sahabat dari calon pengantin perempuan pun mengumpulkan hadiah. Dan  akhirnya ayah si calon perempuan bakal merasa terharu, lalu menyetujui pernikahan anaknya. Detik-detik sebelum pernikahan pun jadi berakhir bahagia deh.

Intinya, bridal shower = momen untuk membantu calon pengantin perempuan dalam persiapan pernikahannya.

Bridal shower, riwayatmu kini

Saat merayakan bridal shower, biasanya sahabat-sahabat yang lebih dulu menikah suka kasih wejangan ke calon pengantin. Kalau ada sahabat dari si calon pengantinnya yang belum menikah gimana? Mereka bisa ikut mendengarkan wejangan atau gimana ribetnya menyiapkan pernikahan. Kalau beruntung, mereka juga bisa tahu lika-liku perjalanan hubungan asmara si calon pengantin. Bisa jadi semacam pembelajaran juga ‘kan?

Ya, jika kita melihatnya dari segi tertentu, bridal shower merupakan momen yang mengandung banyak manfaat. Tapi itu jika kita melihatnya dari satu sisi. Karena sejauh pengamatan saya, bridal shower yang biasa dilakukan masyarakat menengah atas Indonesia telah bertransformasi jadi acara yang perlu biaya nggak sedikit.

Kafe, restoran, atau hotel… itu adalah tempat yang biasa dipakai untuk menyelenggarakan bridal shower masa kini. Oh, jangan lupa, dekorasi nggak boleh ketinggalan. Demi keperluan dokumentasi, dekorasinya harus kece. Biar makin asoy, acara pun mesti dilengkapi dengan beragam kue dan hadiah.

Dilihat-lihat, bridal shower masa kini agak mirip acara ulang tahun yang makan modal mahal bukan?

Itu mungkin nggak begitu jadi masalah jika si pengelenggara acara memang mampu menyediakan dananya. Tapi bagaimana jika mereka memaksakan diri? Karena biar bagaimanapun, bridal shower itu udah termasuk ke dalam tren. Dan yang namanya tren pasti punya kemampuan buat memengaruhi pola pikir masyarakat umum.

Nggak jarang lho orang menggelar acara bridal shower hanya untuk keperluan foto di media sosial, biar nggak dibilang ketinggalan zaman gitu. Jadi dengan kata lain, mereka melakukannya atas nama pencitraan di medsos.

“Kira-kira foto kita bakal dilihat berapa orang ya? Hihihi, penasaran deh.”/via examples.com

Memamerkan diri di medsos memang bukan hal yang aneh sekarang. Tapi bila untuk memamerkan diri itu kita butuh modal yang besar, buat saya itu terdengar ironis banget. Lebih ironis lagi kalau kita sampai berutang demi tren, gengsi, dan pencitraan di dunia maya.

Oke, mungkin ada yang menyanggah pendapat saya di atas dengan argumen: “Ini kan demi kumpul-kumpul terakhir sebelum si A menikah,” atau “Ini momen yang mungkin cuma terjadi sekali seumur hidup. Dana yang dikeluarkan sepadan lah sama apa yang kita dapatkan.”

Tapi, mari kita pikir-pikir lagi. Untuk argumen pertama, saya bisa membalasnya dengan, “Setelah si A menikah, kalian juga masih bisa kumpul-kumpul bareng. Nggak mungkin ia terus-terusan mengurus keluarga dan pekerjaannya setiap hari, selama 24 jam.”

Sedangkan untuk argumen kedua? “Menyelenggarakan bridal shower memang nggak ada salahnya. Tapi kalau sampai memaksakan diri dengan berutang, apalagi jika tujuannya cuma untuk pencitraan diri di medsos? Itu mungkin artinya kamu nggak lebih dari pengekor tren. Tapi kamu nggak peduli sama makna sebenarnya dari tren yang kamu ikuti itu. Yang penting bisa eksis!”

Nggak perlulah merasa minder atau ketinggalan zaman jika kamu memang nggak mau mengikuti tren terkini. Karena hey… belum tentu semua tren itu cocok sama kita. Jika kamu memang pengin menyelenggarakan bridal shower, baiknya sih pertanyakan dulu dengan matang:

“Sebenarnya, apa tujuan kami menyelenggarakan bridal shower?” Jangan sampai acara yang kamu adakan terlalu melenceng jauh dari makna awal yang dikandung bridal shower.

Tapi yah… itu cuma pendapat saya, yang belum tentu sama dengan pendapat kamu.

Komentar:

Komentar