“Apa Resolusi Tahun Baru Kamu?” Memangnya Bikin yang kayak Gituan Penting Ya?

Tahun baru, resolusi baru

Tahun baru itu identik dengan beberapa hal: perayaan, kemacetan, kembang api, dan resolusi. Khusus untuk yang terakhir, pertanyaan macam, “Apa resolusimu di tahun yang baru?” seolah udah jadi pertanyaan yang wajib untuk dilontarkan. Bukan sunah lagi, tapi wajib.

“Kayaknya masih ada satu orang yang belum ngumpulin resolusi. Awas ya, saya pecat kamu!”/via pexels.com/rawpixel

Setiap tahun baru, orang-orang pasti selalu membahas dan menetapkan resolusi. Ibarat kata, rasanya kurang afdol kalau melewati pergantian tahun tanpa bikin resolusi. Bahkan rekan saya, Ryz, menulis artikel soal cara-cara untuk mencapai resolusi tahun baru. Cara-caranya bagus dan unik, saya sarankan kamu untuk membacanya.

Tapi di sisi lain, saya punya pandangan yang agak berbeda dari Ryz mengenai resolusi tahun baru. Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang resolusi, baiknya kita tengok dulu deh definisinya.

Menurut kamus Cambridge daring, resolusi tahun baru itu adalah, “Janji yang kamu buat pada diri sendiri untuk memulai sesuatu yang baik, dan menghentikan kebiasaan yang buruk, mulai dari hari pertama di tahun baru.”

Tuh perhatikan, di definisi itu ada kata “janji”. Yang namanya janji, biarpun itu ke diri sendiri, tetap harus ditepati dong. Kalau nggak ditepati, itu berarti kita mengkhianati diri sendiri.

Tapi justru itu masalahnya. Menurut Statistic Brain, hanya 9,2 persen orang yang sukses memenuhi resolusi mereka. Sisanya? Gagal di tengah jalan.

Resolusi itu bisa jadi panduan kita, tapi tetap ada yang lebih penting…

Dan hal tersebut adalah mengerjakan resolusi itu sendiri.

Berdasarkan artikel dari U.S. News, sekitar 80 persen resolusi tahun baru yang dibuat orang Amerika gagal dipertahankan saat baru memasuki minggu kedua bulan Februari. Gila, ‘kan? Belum juga dua bulan, itu resolusi yang dibuat dengan antusiasme tinggi udah menghilang entah ke mana.

“File resolusi tahun baru saya hilang. Kamu lihat, nggak?”/via pexels.com/rawpixel

Apa itu terjadi karena kurangnya motivasi?

Saya sendiri kurang percaya dengan yang namanya kekuatan dan pengaruh motivasi. Nggak sedikit orang yang memakai motivasi hanya sebagai alasan ketika mereka malas mengerjakan sesuatu. “Saya lagi kurang motivasi,” atau “Saya bakal melakukan apa yang kamu minta, tapi saya butuh asupan motivasi dari motivator terkenal.”

Dengan kata lain, penyebab utama yang menghambat perkembangan diri kita bukan kurangnya motivasi, tapi lebih ke rasa malas.

Nggak usah lama-lama bikin daftar resolusi tahun baru, langsung saja mulai dengan mengubah kebiasaan

Resolusi itu mudah untuk dibuat dan mudah untuk dilupakan. Seberapa kerennya pun resolusi tahun baru yang kamu tulis, itu semua bakal segera kamu lupakan jika nggak pernah dikerjakan.

“Resolusi tahun 2019 aku: membuat resolusi untuk tahun 2020.”/via pexels.com/rawpixel

Jadi alih-alih sibuk memikirkan dan menulis resolusi tahun baru, kenapa nggak langsung ke praktiknya saja?

Karena begini, bagi saya satu-satunya cara untuk mengubah diri adalah dengan mengubah kebiasaan. Seperti apa diri kita detik ini, itu terbentuk dari kebiasaan yang selama ini kita lakukan. Mengubah kebiasaan, apalagi kebiasaan yang buruk, pun bukan sesuatu yang mustahil. Untuk melakukannya kita hanya butuh keinginan kuat dan disiplin.

Bila kamu pengin mulai menjalani gaya hidup sehat dan rajin berolahraga, jadikan olahraga sebagai kebiasaan yang harus kamu lakukan. Nggak perlu memaksakan diri buat berolahraga setiap hari jika kamu merasa itu terlalu berat. Mulai saja dengan berolahraga setiap dua kali seminggu, dan lambat laun kamu pun jadi kebiasaan berolahraga. Badan kamu bakal terasa nggak enak jika nggak olahraga, layaknya pencandu yang menggigil karena sakau.

Oke, analogi yang saya tulis di atas mungkin terlalu berlebihan. Kita balik lagi ke masalah resolusi.

Menurut saya resolusi itu nggak penting-penting amat, meskipun bukan berarti ia mengandung keburukan. Hanya saja jika kamu selalu membuat resolusi setiap tahunnya, tapi akhirnya selalu dibuat kecewa karena gagal memenuhinya, itu seperti kamu terjebak dalam euforia sesaat. Yang penting bikin resolusi, peduli setan bisa diselesaikan atau nggak.

Dan jika misalkan kamu selalu gagal memenuhi resolusi di setiap tahun, hati-hati lho, nantinya jadi kebiasaan deh.

Lagi pula…

Untuk jadi manusia yang lebih baik, nggak perlu menunggu tahun baru

“Tahun baru! The new me will be born! Yaaay!”/via pixabay.com/pixel2013

Bila kita memang niat untuk menjadi lebih baik, kita bisa memulainya setiap saat. Kenapa mesti menunggu tahun baru?

Beberapa sejarawan berpendapat tradisi resolusi tahun baru sudah dimulai oleh orang-orang dari peradaban Zaman Perunggu. Ada juga mereka yang bilang tradisi tersebut dimulai di Babilonia Kuno sekitar 4000 tahun yang lalu. Orang Babilonia Kuno mengganggap tahun baru sebagai momen yang sakral, karena tahun baru bertepatan dengan festival Akitu.

Selain masyarakat Babilonia,  Kaisar Romawi Julius Caesar juga memanfaatkan tahun baru sebagai momentum khusus. Ia suka meminta hamba-hambanya untuk merenungkan dosa mereka di masa lalu saat tahun baru. Lalu ia menyuruh mereka untuk memperbaiki diri di tahun berikutnya.

Pertanyaannya, kenapa kita mesti melestarikan tradisi mereka? Kenapa kita mesti melanjutkan perintahnya Julius Caesar? Ia bukan kaisarnya kita. Hehehe.

Tapi balik lagi, semua manusia punya haknya masing-masing. Di sini saya hanya memberikan sudut pandang alternatif mengenai resolusi tahun baru. Toh dengan membuat resolusi tahun baru pun kita bisa dapat manfaat. Kita jadi punya tujuan yang jelas dalam mengarungi hidup.

Meskipun, bagi saya sendiri, makna dari resolusi tahun baru itu terlalu dilebih-lebihkan.

3 Shares

Komentar:

Komentar