5 Kenyataan Pahit dalam Hidup yang Mau Nggak Mau Harus Kita Sadari saat Dewasa

Meskipun mungkin masih ada orang yang enggan mengakuinya

:

“Katakanlah kebenaran walaupun kebenaran itu pahit rasanya”.

Hidup ini memang nggak sesederhana seperti apa yang kita pikirkan waktu kecil. Saat kita beranjak dewasa, kita selalu mendapat pengalaman baru tentang perilaku dan hubungan antar manusia. Dan menariknya, nggak semua kenyataan yang kita dapat dari pengalaman tersebut sesuai sama apa yang kita idamkan selama ini.

Beberapa orang bisa menerima kenyataan, sekalipun pahit terasanya. Tapi beberapa orang lainnya kurang bisa menerima kenyataan pahit tersebut. Apa kamu termasuk orang yang belum menerima kenyataan-kenyataan hidup yang ada di bawah ini?

1. Hampir semua orang pasti pernah mengenakan topeng yang menyembunyikan sifat aslinya

via outlookindia.com

Mengapa ada orang yang terperdaya oleh kasus penipuan berulang kali? Itu mungkin karena mereka terlalu gampang percaya, dan kurang tahu kalau terkadang orang yang punya niatan jahat suka menyembunyikan tujuannya.

Hampir semua orang itu pernah atau suka memakai topeng yang menyembunyikan sifat asli mereka. Sadar atau nggak sadar, kamu juga mungkin pernah melakukannya. Kelakuan kamu di depan si bos bisa jadi berbeda dibanding kelakuan kamu di depan keluarga atau pacar. Kita memang butuh topeng tersebut dalam pergaulan sehari-hari.

Yang bahaya itu, terkadang orang memakai topeng untuk niat yang kurang terpuji. Yang lebih bahayanya lagi jika kamu nggak sadar selalu ada orang picik yang memakai topeng.

2. Uang itu penting

via bbc.co.uk

Apa kamu pernah mendapat nasihat “Uang itu bukanlah segalanya; uang nggak bisa membeli kebahagiaan dan kesetiaan”? Wow, sungguh kata yang indah ya.


Kata-kata tersebut ada benarnya. Tapi, kecuali dunia yang kita huni ini kembali memakai sistem barter, atau memanfaatkan sistem pertukaran lain yang lebih efisien, uang itu masih tetap bernilai bagi kamu yang pengin hidup sejahtera sampai usia tua.

Duit memang nggak dibawa mati, tapi kalau nggak ada duit rasanya seperti pengin mati. Benar begitu, nggak? Seenggaknya itulah yang saya rasakan begitu menginjak usia dewasa.

3. Nggak semua orang itu punya pemikiran yang sama dengan kamu

via melissaferarri.com.au

“Kau tidak akan pernah memahami seseorang, kecuali kau berpikir dari sudut pandangnya… kecuali kau merasuki kulitnya dan berjalan dengan tubuhnya…” kata Atticus pada Scout ~ To Kill a Mockingbird.

Amat disayangkan masih ada individu di zaman modern ini yang berpikir kalau semua orang itu harus satu pemikiran dengan mereka. Tapi sebaliknya, mereka terlalu malas untuk mencoba memahami pemikiran orang lain. Jadi jangan heran jika kamu melihat ada orang yang memaksakan kepercayaan yang mereka anut, misalnya. Terkadang, mereka juga memakai kata-kata seperti “kafir” untuk menyebut mereka yang kepercayaannya berbeda.

Meskipun kelakuan kayak gitu udah nggak zaman, tapi kenyataannya masih ada orang yang berperilaku seperti itu. Setahu saya, di abad sebelum masehi pun para nabi bahkan nggak pernah memaksakan kepercayaan atau jalan pemikirannya ke orang lain.

Ini adalah bentuk kenyataan hidup yang harus kita ubah sebetulnya.

4. Nggak ada pasangan yang sempurna

via preciousoluchi.blogspot.com

Kenapa kamu masih melajang?

Jangan tersinggung dulu, saudaraku yang masih jomblo. Kalau kamu menjawab “Saya masih mencari calon yang sempurna,” ada kemungkinan kamu bakal buang-buang waktu.

Atau kamu lebih memilih jawaban yang bikin orang pengin meng-kamehameha kamu? Seperti, “Saya tengah mencari soulmate saya.” Hasilnya sama saja, kamu bakal buang-buang waktu.

Hidup kita bukanlah cerita di manga romantis, di mana selalu ada karakter yang sempurna dan tanpa cela. Semua orang di dunia nyata pasti punya kekurangan. Tokoh sekaliber Franz Liszt pun saya yakin punya kekurangan.

5. Akan selalu ada orang yang menilai kamu dari penampilan

via andrewspenceonline. com

Setelah berkenalan, kita memang bisa mengenal lebih jauh seseorang. Tapi nggak bisa disangkal, kamu pasti menilai orang lain dari penampilan mereka saat pertama kali bertemu, bukan? Kecil kemungkinannya kamu bisa langsung menilai watak asli seseorang ketika pertama kali melihat mereka.

“Hmm, orang yang cengar-cengir di depanku ini sepertinya orang jujur. Aku yakin dia bakal jadi pejabat jujur di masa depan. Entah bagaimana, aku nggak kenal dia sebelumnya, tapi aku tahu dia bakal jadi pejabat jujur.”

Nggak mungkin komentar kayak gitu terlintas di benak kamu. Yang ada mungkin kamu bakal berpikir kayak gini:

“Hmm, orang yang cengar-cengir di depanku ini rambutnya acak-acakan banget. Dia nggak punya sisir apa di rumahnya? Semoga nanti di kelas aku nggak duduk sebelah dia.”

Penampilan fisik itu bukanlah segalanya. Tapi nggak ada salahnya jika kita menampilkan kesan pertama yang baik lewat penampilan.

Gimana? Fakta kebenaran yang ada di atas cukup pahit nggak nih? Pahit mana sama janji gebetanĀ  yang cuma sebatas wacana? Yuk ah, jadi pribadi yang lebih asyik dan bijak

Komentar:

Komentar