5 Hal tentang Generasi Milenial yang Sering Bikin Salah Kaprah

Generasi Y dan Generasi Z itu apa bedanya? Samakan saja deh!

:

Pernah dengar nama William Strauss dan Neil Howe? Buat kalangan muda, nama mereka memang nggak setenar George W. Bush atau bahkan Choi Min-sik. Tapi ingatlah nama mereka mulai sekarang, Kawan. Mereka adalah duet pakar sejarah yang pertama kali mengenalkan istilah generasi milenial lewat buku Generations di tahun 1991.

Dengan kata lain merekalah yang saat ini membuat saya, dan juga mungkin kamu, termasuk bagian dari generasi milenial.

Zaman sekarang apa pun sering dihubungkan dengan generasi milenial. Konten tentang pekerjaan misalnya, sering ditambahi embel-embel “yang cocok untuk generasi milenial”. Tips membeli rumah harus pula ditambahi “rumah yang pas buat generasi milenial”. Seolah belum cukup, seringkali generasi milenial pun disebut sebagai generasi yang malas dan pengin serba instan.

Wow, betapa spesialnya generasi milenial!

Tapi, apakah pernah terpikir oleh kamu…

Siapa sih orang yang termasuk generasi milenial itu?

via uschamberfoundation.org

Generasi milenial sering banget diidentikkan dengan anak muda. Nggak peduli berapa umurnya, anak muda itu sama saja dengan generasi milenial. Contohnya nih:

“Duh, Jeng… kolor anak saya yang masih SMA robek semuanya. Kira-kira apa ya kolor yang bagus buat generasi milenial? Saya pengin kasih surprais buat dia.”

Begini, Kawan. Generasi milenial itu sebenarnya istilah yang longgar. Makanya banyak orang yang salah paham mengenai arti dari istilah tersebut. Tapi, jika kita merujuk ke penelitian Pew Research Center, generasi milenial adalah mereka yang lahir pada rentang tahun 1981-1996. Orang yang lahir tahun 1997 ke atas, mereka harusnya dimasukkan dalam kategori generasi Z.

Jadi bisa disimpulkan, anak SMA/mahasiswa zaman sekarang nggak lagi termasuk generasi milenial, tapi generasi Z. Saya rasa penting untuk membedakan dua generasi itu, karena bagaimanapun mereka punya karakter yang berbeda satu sama lain.

Masih dari sumber yang sama, milenial itu generasi yang menghadapi sulitnya pasar tenaga kerja karena pengaruh resesi ekonomi. Yeah, krisis yang menghantam dunia pada tahun 2008-2009 memberi dampak yang cukup besar untuk milenial di hampir seluruh penjuru bumi.

Selain ciri di atas, masih ada beberapa lagi karakteristik lain dari milenial lain. Tapi sayangnya, karena kita manusia terkadang suka terlalu menggeneralisir sesuatu, beberapa stereotip negatif pun jadi melekat pada milenial. Padahal kenyataannya nggak selalu berbanding lurus dengan stereotip tersebut. Misalnya kayak yang di bawah ini nih…

1. Menjadi Enterpreneur adalah pekerjaan idaman pemuda-pemudi milenial, masa sih?

via opstart.ca

Enterpreneur atau wirausahawan memang pekerjaan yang nampak oke. Sesuai sama karakteristiknya yang percaya diri, berorientasi pada kesuksesan, dan kompetitif, milenial juga dianggap akan punya karier yang cemerlang di dunia bisnis.

Tapi yaah, nggak semua milenial mengidam-idamkan jadi pebisnis muda. Nyatanya mereka yang berminat jadi PNS mencapai empat juta orang. Acara job fair juga nggak pernah sepi pengunjung. Dan siapa pengunjung yang memenuhi job fair? Kebanyakannya pasti generasi milenial.

Terbukti ‘kan, yang mau jadi pengusaha memang banyak, tapi yang nggak berminat juga nggak sedikit jumlahnya. Dan yang perlu diingat, mereka yang sukses menyandang gelar owner, founder, atau CEO itu cuma sebagian kecil dari total jumlah generasi milenial di Indonesia.

2.  Generasi milenial adalah generasi pemalas

via freepik.com

Generasi milenial tumbuh di zaman saat teknologi berkembang pesat. Alhasil, buat melakukan sesuatu pun jadi lebih mudah dan nggak perlu banyak gerak.

Contohnya dengan memakai smartphone saja, kita bisa melakukan berbagai hal. Mulai dari belanja, pesan ojek, pesan tiket pesawat, sampai kerja semuanya bisa dilakukan dengan smartphone. Akhirnya kita dicap sebagai generasi yang malas gerak. Beda dengan zaman dulu saat orang harus bergerak untuk mendapatkan sesuatu.

Tapi begini: apakah memanfaatkan teknologi dengan efisien itu sama dengan malas? Itu sama saja dengan menyebut orang yang berkendara memakai mobil sebagai pemalas.

“Ngapain pakai mobil? Dasar pemalas. Lihat nih saya, pakai kereta kuda! Kadang saya ke Jakarta dari Bandung jalan kaki malah!”

Itu… argumen yang sangat nggak logis.

3. Generasi pecandu media sosial

via pprww.com

Intensitas penggunaan media sosial generasi milenial bisa dibilang paling tinggi dibanding generasi lainnya. Dikutip dari Kumparan, 9,52 persen pengguna medsos berasal dari kalangan orang berusia 19-34 tahun. Secara data, milenial merupakan pengguna media sosial terbanyak.

Tapi kalau bahasanya kecanduan media sosial, konotasinya kok jadi terdengar negatif ya?

Padahal kan media sosial itu nggak cuma buat mencari meme lucu (yang bisa bikin kita lupa waktu), tapi bisa jadi lahan buat berkarya atau buat mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

4. Katanya, milenial cenderung nggak mau menikah

via freepik.com/yanalya

Menginjak usia kepala dua pasti orang-orang mulai iseng bertanya kapan kamu nikah. Waktu umur  masuk 25 tahun tapi status masih lajang, mulai deh dicap anti menikah. Katanya milenial terlalu fokus sama karier sampai lupa buat nikah.

Padahal kenyataannya nggak gitu-gitu amat.

Milenial juga punya keinginan buat membangun mahligai rumah tangga, tapi nggak kayak generasi-generasi sebelumnya yang notabene nikah di usia cenderung lebih muda. Sebelum mengucapkan janji suci, ada banyak hal yang jadi pertimbangan. Misalnya karena pengin menstabilkan kondisi finansial terlebih dahulu.

Semua itu dilakukan ya buat mempersiapkan dan memantaskan diri sebelum membiduk rumah tangga.

5. Suka menghabiskan uang buat membeli barang yang nggak dibutuhkan amat

via freepik.com

Mungkin itu ada benarnya. Tapi, apa generasi terdahulu nggak pernah melakukan hal tersebut? Lagian bagaimana cara menilai nilai manfaat dari suatu barang yang dibeli seseorang?

Setiap orang pasti punya kebutuhannya masing-masing yang berbeda dari orang lain. Dan merupakan hak setiap orang untuk membeli apa yang dirasanya penting.

Coba kamu perhatikan satu orang teman kamu, sebut saja namanya Bejo. Apa kamu bisa memutuskan apa barang atau jasa yang sekarang lagi dibutuhkan oleh Bejo? Nggak. Hanya Bejo yang tahu apa yang dibutuhkannya.

Hanya Bejo yang tahu…

Mau apapun generasinya, lebih baik kita jangan dulu menggeneralisir gimana karakteristik mereka lewat ciri-ciri yang banyak beredar. Kecuali kamu sendiri yang sadar kalau karakteristik generasi milenial itu memang kamu banget. Itu sih lain cerita ya…

13 Shares

Komentar:

Komentar