4 Nasihat Umum dalam Kehidupan yang Harus Dipikir Ulang kalau Mau Kamu Kasih ke Orang Lain

Karena ada saja momen yang memaksa kita untuk kasih nasihat ke orang

Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti pernah menemukan teman yang lagi bersedih hati atau gugup. Dan sebagai orang yang punya rasa simpati, kita lalu berusaha menghibur, menenangkan, dan membuat si teman itu bersemangat kembali menjalani rumitnya kehidupan. Berbagai metode yang katanya ampuh pun kita keluarkan: dari memberondong telinga teman dengan kata-kata mutiara yang didapat dari media sosial, sampai mengutip nasihat yang kita dengar dari orang tua dan film drama romantis.

Tapi begini saudara dan saudariku, apa semua kata-kata mutiara dan nasihat yang kamu dengar sehari-hari itu benar-benar berguna lagi berkhasiat dalam semua konteks kehidupan? Coba kita selidiki 4 contoh nasihat yang mungkin sering kamu dengar dalam keseharian ini.

 1. “Pede aja lagi”

Contoh pose klise orang yang pede aja lagi/via pixabay.com

[Ketika kamu gugup luar biasa karena mau melamar pacar]

Teman kamu yang bernama Cherryl Rodriguez: “Kenapa, Bro?”

Kamu: “Aku gugup, nih. Orangtuanya si Barbara galak banget. Aku takut dihajar pakai jurus The Rock Bottom sama bapaknya.”

Cherryl Rodriguez: “Udah… nggak usah gugup. Pede aja lagi.”

Kecuali kamu punya pengalaman luas dalam urusan melamar anak orang, kayaknya si Cherryl Rodriguez ini kasih kamu nasihat yang agak sulit dipraktikkan. Dari definisi yang ada di kamus Cambridge daring, percaya diri adalah “Rasa yakin pada kemampuan diri…”

Jadi rasa percaya diri itu berasal dari kemampuan yang kita miliki untuk menghadapi situasi tertentu atau menyelesaikan pekerjaan.

Permasalahannya, jika kamu nggak punya pengalaman melamar anak orang, lalu dari mana asalnya rasa percaya diri itu? Setahu saya, kemampuan itu bisa didapat dari pengalaman. Kecil kemungkinannya kamu bisa dapat rasa percaya diri hanya dengan membayangkan calon mertua yang hobi meng-Smackdown calon menantu pakai jurus The Rock Bottom. Minimalnya, yang bisa kamu lakukan itu mungkin cuma berpura-pura seolah kamu punya rasa percaya diri.

“Jadi alternatifnya apa dong?”

Coba persiapkan segala yang kamu butuhkan untuk situasi yang akan kamu hadapi nanti. Jika perlu berlatih, berlatihlah terlebih dahulu. Dengan begitu, kamu akan membiasakan diri dengan situasi yang sesungguhnya.

Hmm, saran kayak gitu lebih masuk akal menurut saya. Entahlah kalau dalam konteks yang kamu hadapi.

2. “Lupakan mereka yang telah menyakitimu di masa lalu”

via pixabay.com

Saya sarankan kamu untuk nggak mengucapkan kalimat melankolis tersebut di depan orang yang punya trauma masa lalu.

Melupakan suatu kejadian yang membekas di memori itu nggak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan memori tentang suatu kejadian bisa terus tersimpan dalam ingatan seseorang seumur hidupnya. Dalam beberapa kasus, dengan seiring berlalunya waktu, dan dengan penanganan yang baik, ingatan buruk memang bisa terkubur dengan sendirinya.

Tapi saya meragukan keefektifan nasihat “Lupakan saja mereka yang…” atau nasihat lain yang maknanya sama, hanya beda bentuk. Masih mending jika orang yang dinasihati itu memaklumi perkataan kita. Tapi bagaimana jadinya jika mereka malah makin teringat dengan kenangan buruk yang seharusnya mereka lupakan?

3. “Jika kamu gagal, terus ulangi dan ulangi sampai kamu berhasil…”

via unsplash.com

Tambahan: “… karena menyerah itu hanya dilakukan pecundang!”

Betapa pun gagahnya kata-kata mutiara di atas, penting banget buat kamu untuk tahu kapan waktunya harus berhenti dalam melakukan sesuatu. Contohnya, kalau kamu terus-terusan gagal saat jualan kuaci, mungkin saja itu bukan pertanda keberhasilan yang tertunda. Mungkin itu menandakan:

– Modal kamu kurang;

– Permintaan atas kuaci di pasar sedang menurun;

– Ada pesaing jenius yang selalu menjalankan rencana liciknya untuk menjatuhkan usaha kamu. Tentu ia melakukannya sambil tertawa-tawa jahat dan memasang muka licik; atau,

– Kamu nggak punya keahlian berdagang.

Atau nggak usah ambil contoh dari bidang bisnis deh. Gebetan yang pernah nolak kamu sampai 55 kali, lama-lama pasti bakal muak kalau terus kamu dekati dengan gigih. Lambat laun status kamu pun bakal berubah dari asalnya pengagum jadi penguntit. Dan apa itu bukan tandanya buat menyerah dan berhenti mengejar-ngejar dia?

Well, saya nggak punya niatan menjatuhkan semangat kamu dalam berusaha. Terus mencoba itu penting, tapi penting juga bagi kita untuk menyadari kelemahan diri sendiri, berhenti sejenak untuk menghirup udara segar, lalu mencoba untuk introspeksi.

4. [Saat baru lulus dan hendak mencari pekerjaan] “Carilah pekerjaan yang kamu cintai”

via pexels.com

Ya, itu benar. Pekerjaan akan terasa menyenangkan jika kita menikmati apa yang kita lakukan dalam pekerjaan tersebut. Tapi, mari kita lihat kenyataannya:

Jika semua orang bisa mendapat pekerjaan yang mereka cintai, dan jika sekarang lapangan pekerjaan sudah memadai, nggak akan ada yang namanya pengangguran. Kenyataannya, mendapat pekerjaan yang kurang kita cintai pun nggak gampang.

Sekali lagi, memang betul, sebaiknya kita berusaha untuk melakukan pekerjaan yang kita senangi dalam hidup. Tapi jika kita sudah dihalangi oleh realitas pahit kehidupan, nggak ada salahnya kok untuk sementara coba menimba pengalaman dari ‘pekerjaan-pekerjaan yang membosankan’ itu.

“Lalu, bagaimana kalau pekerjaan yang kita cintai itu ternyata cuma kasih upah yang kecil?”

Realistis saja, manusia itu butuh makan, tempat tinggal, pakaian, dan kuota internet. Jika kamu nggak kunjung mendapat upah yang layak meskipun sudah berdemo puluhan kali, sedangkan kebutuhan kamu makin nggak tercukupi, apa itu mungkin sudah saatnya kamu cari sarang baru untuk hinggap?

Saya nggak mengaku diri sebagai orang yang sudah khatam soal asam manis kehidupan. Tapi, hey… nggak ada salahnya ‘kan kalau kita saling berdiskusi satu sama lain?

- Advertisement -
Shares 8

Komentar:

Komentar