Hal-Hal Kurang Realistis yang Sering Muncul di Sinetron


Mungkin kamu tahu serial berjudul Breaking Bad, Prison Break, atau The Sopranos. Ya, tiga judul itu adalah serial televisi yang kualitasnya dinilai tinggi oleh penonton dan kritikus. Mengapa? Faktor utamanya mungkin karena plot dan akting yang bagus. Well, memang tidak semua hal yang ada di serial itu bisa dibilang realistis. Tapi, kekurangan itu akhirnya bisa dimaafkan karena menimbang kualitasnya secara keseluruhan.

Sekarang, ayo kita beralih ke sinetron dalam negeri. Sebenarnya gampang-gampang susah menilai sinetron Indonesia. Sinetron mendapat rating tinggi artinya banyak orang yang menyukainya. Di sisi lain, nggak sedikit juga orang yang berpendapat berbeda: mereka kurang menyukai apa yang disuguhkan sinetron. Ketidak sukaan itu sudah menjadi rahasia umum, bukan? Am I rite?

Nah, dari beberapa faktor penyebab kurangnya mutu sinetron, salah satunya ialah kurangnya sifat kewajaran atau tidak realistis. Nggak usah berlama-lama lagi, yuk kita bahas satu per satu tentang hal ini.

 1. Amnesia Datang dan Pergi Layaknya Penyakit Flu

via keepo.me
via keepo.me

Mau itu karena ketabrak mobil atau kepalanya kebentur tembok, karakter-karakter di sinetron gampang banget kena amnesia. Penyakit itu banyak jumlahnya, kenapa mesti amnesia terus? Contohnya, kenapa sekali-kali nggak pakai penyakit bisul, sariawan, atau telapak kaki pecah-pecah, gitu?

Karakter pria tampan tapi berasal dari kalangan bawah: Maafkan aku, Sayang. Tapi, sepertinya aku tidak bisa menikah denganmu.

Karakter wanita cantik, modis, dan kaya raya tapi kita nggak tau kerjaannya apa: APA!!!!! Kenapa!?

Karakter pria tampan tapi bla bla bla: Bibir aku pecah-pecah. Tidak mungkin tamu undangan melihatku seperti ini nanti. Kita sudah tidak bisa bersama lagi.

Ok, ok. Itu cuma bercanda. Tapi serius, menambah plot dengan resep amnesia udah terlalu umum ditemukan di layar televisi Indonesia, dan itu nggak membuat jalan cerita jadi menarik.

Oh ya, bahkan sedari awal kenapa si tokoh itu harus ketabrak mobil? Ini juga bisa jadi permasalahan, karena biasanya si tokoh itu memilih menjerit sambil tutup mata ketimbang menghindar waktu mau ditabrak. Kalau dia nggak ditabrak, dia nggak perlu ngidap amnesia.

2. Karakter yang Jomplang

Angel and devil silhouette
via clipartfest.com

Alkisah, di suatu kota metropolitan hiduplah seorang pemuda yang baik hati, sabar meski disiksa habis-habisan, rendah hati, dan selalu menolong siapa saja yang perlu ditolong. Namun, di kota yang sama, hidup juga seorang pemuda yang sombong, kasar, tidak berbakti pada orang tua, dan hobinya menzalimi si pemuda yang pertama tadi.

Udah nggak kehitung berapa sinetron yang memakai ide dasar kayak gitu. Manusia memang nggak sempurna, tapi mungkin sedikit banget manusia yang murni jahat layaknya iblis dan manusia yang seutuhnya tanpa dosa seperti malaikat. Sebaliknya, sinetron membuat manusia-manusia semacam itu gampang banget ditemukan, mungkin semudah menemukan minimarket.

Yup, hanya ada hitam dan putih; baik dan jahat. Nggak ada yang namanya warna abu-abu.

3. Tokoh Antagonis yang Gemar Membuang-buang Waktu

via popinasia
via popinasia.com

Apa adegan semacam ini masih ada di setiap sinetron, entahlah. Tapi, adegan ini nggak bisa dikatakan jarang muncul juga dan sayang buat dilewatkan begitu aja. Mau tau adegannya seperti apa?

Ceritanya, sang tokoh utama sedang dikejar beberapa orang preman yang baik watak maupun mukanya sama-sama sangar. Adegan kejar-kejaran itu begitu “dramatis”. Si tokoh utama berlari mati-matian seolah nyawanya bergantung pada setiap langkah kakinya. Sedangkan preman-preman itu pun tidak kalah gigihnya. Mereka terus bermanuver ke kiri dan ke kanan sementara berusaha memperpendek jarak dengan buruan mereka. Pengejaran itu terus berlangsung dengan sengit hingga…

Hingga preman-preman itu mendadak berhenti berlari cuma untuk bilang, “Woy, berhenti loe! Jangan lari!” sambil menunjuk-nunjuk ke arah si tokoh utama.

Ada apa dengan logika para preman itu!? Kenapa mereka harus berhenti? Apa dengan menyuruh si tokoh utama berhenti berlari, lantas si tokoh utama akan menurut?

“Oh iya, Bang. Ok, saya bakal berhenti. Abang senang sekarang?” kata si tokoh utama. Nggak mungkin itu terjadi.

Ya, daripada mereka berhenti cuma untuk mengucapkan kalimat yang nggak ada artinya itu, bukannya lebih baik mereka terus mengejar, bukan?

4. (Lagi-Lagi) Tokoh Antagonis yang Gemar Berbicara Lantang Tentang Rencana Jahat Jika Sedang Sendirian

via dna-unik.blogspot
via dna-unik.blogspot.com

Coba tanya ke hati nurani kamu masing-masing. Kalau kamu punya rencana jahat yang bisa mencerai-beraikan satu keluarga bahagia, apa kamu bakal mengucapkan rencana itu keras-keras, walaupun sedang sendirian, dan di ruangan yang kosong pula?

Kayaknya mustahil, ya. Terlalu berisiko. Bisa aja kan ada orang yang nguping di luar ruangan. Dan yang paling penting, itu tindakan yang nggak perlu buat dilakukan!

Tapi, bukan berarti bicara dalam hati sambil memasang muka licik dan menggerak-gerakkan kepala bisa dibilang bagus. Apa kamu pernah melakukan hal itu? Kalau ada orang yang mergokin kamu sewaktu masang muka kayak gitu, kamu pasti bakal malu sendiri. Hehehe.

Bukankah lebih baik menyampaikan apa yang dirasakan para karakter lewat bahasa tubuh dan dialog yang mereka ucapkan? Itu jauh lebih efektif dibanding melakukan monolog (baik yang diucapkan langsung maupun yang di dalam hati), dan penonton pun pasti bakal mengerti apa yang terjadi.

5. Tema yang Nyaris Seragam

via wowkeren
via wowkeren.com

Nggak bisa dibantah lagi, kebanyakan sinetron di negeri kita yang tercinta ini berisikan karakter-karakter remaja, atau dengan kata lain, anak sekolahan. Dan coba tebak apa tema yang mendominasi sinetron macam ini? Yup, semuanya adalah tentang cinta.

Bukan berarti tema ini buruk. Siapa orang yang bisa hidup tanpa hal yang satu ini? Tapi, cara pengolahannya lah yang membuat tema ini jadi begitu membosankan bila diterapkan di sinetron.

Turunan dari tema percintaan itu sendiri bisa dijabarkan sebagai berikut: memadu kasih, saling merebut gebetan, berkelahi demi memenangkan gebetan, memadu kasih, menyusun rencana licik demi menyingkirkan pesaing masalah percintaan, bertengkar dengan sang pacar karena masalah sepele, memadu kasih, dan memadu kasih.

Coba kamu renungkan apa yang kamu lakukan saat masa sekolah, apa kegiatan sehari-hari hanya diisi dengan hal semacam itu? Rasanya nggak. Kamu harus belajar, mengerjakan tugas, belajar kelompok, melakukan hobi (selain balapan liar dan sebagainya tentunya). Belum lagi kalau udah dekat UN, tempat bimbel pun menunggu untuk memberikan “suplemen” tambahan.

Tapi, bukan berarti tema yang berfokus pada percintaan ini cuma tampil di sinetron remaja. Banyak juga sinetron yang tokoh-tokohnya orang dewasa mengambil tema yang sama (dan kualitasnya juga rata-rata sama dengan sinetron remaja).

Variasi dibutuhkan agar suatu hal nggak menjadi monoton. Bila selama ini isu percintaan menjadi fokus utama, kenapa nggak menggeser isu itu menjadi bagian kecil dari keseluruhan plot, asalkan hubungan percintaan itu dibangun dengan kuat dan tetap relevan? Atau bisa juga membawa fokus hubungan antara anggota keluarga atau teman, misalnya. Tentunya dengan dibumbui konflik yang masuk akal.

Bukan sesuatu yang mustahil untuk menciptakan tontonan yang berkualitas. Jika ada opini yang menyebut “kesederhanaan” cerita menjadi daya tarik bagi penonton agar mudah mengikuti alurnya, mengapa tidak membuat acara serupa Si Doel, Keluarga Cemara, atau Bajaj Bajuri? Toh, acara-acara itu nggak mengandung alur cerita yang rumit tapi tetap bagus, dan orang-orang menyukainya. Alasannya, mungkin karena acara-acara itu terasa dekat dengan kehidupan nyata.

Well, sebenarnya masih ada hal-hal yang nggak realistis lainnya dari sinetron. Kalau disebutkan semuanya, mungkin tulisan ini jadi berlipat ganda sampai beberapa halaman. Mungkin kamu sendiri ingat hal-hal lainnya?

Komentar:

Komentar