Sikap Masyarakat Menghadapi Perkembangan Teknologi Bikin Pak Presiden Angkat Bicara Nih!

Apa sih kata Pak Presiden? Yuk kita simak!

Presiden Jokowi via nasional.kompas.com

Mau kita sadari atau enggak, dunia itu terus berubah dengan cepat akibat perkembangan teknologi. Teknologi yang saat ini berkembang pesat dan menjadi perhatian adalah internet. Kira-kira, bagaimana sih sikap kita (masyarakat dan pemerintah) terhadap perubahan-perubahan yang terjadi? Apa dampak laju perkembangan teknologi yang begitu pesat terhadap kehidupan di negara kita? Hal-hal inilah yang dibahas oleh Presiden Jokowi dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Internal Pemerintah Tahun 2017 di Istana Negara bulan Mei lalu.

Bapak Presiden berkata “Baru kita belajar internet, sudah ganti ke mobile internet. Mobile internet kita ‘apa sih ini?’ ganti lagi artificial intelligence. Kita belum rampung belajar satu, sudah berubah ke yang lain. Inilah yang sering saya katakan, perubahan sangat cepat sekali karena teknologi.” Menurut beliau, masyarakat dan pemerintah kita terlalu sering terlibat dengan hal-hal yang tidak produktif, dan cenderung “terombang-ambing” oleh arus perkembangan teknologi dan hal ini menyebabkan perkembangan tersendat. Intinya, negara kita ternyata masih kesulitan mengikuti perkembangan teknologi yang sangat pesat karena sering salah fokus.

via pexels.com

Nah, dari pernyataan Pak Jokowi, mungkin kalau dipikir-pikir emang bener juga, ya. Contohnya, kalau kita scrolling komen-komen di medsos atau di video Youtube yang mengangkat isu yang lumayan kontroversial, pasti ada aja yang emosi dan malah menghujat satu sama lain tanpa mencoba untuk kompromi dan memposisikan diri di sudut pandang orang lain. Selain itu, belakangan ini, banyak “oknum” yang menyalahgunakan media sosial mereka untuk menyebar hujatan, hal berbai SARA, fitnah, berita bohong alias hoax, dan kejelekan orang lain dengan berbagai alasan. Hal ini tentu saja bisa memunculkan ketegangan, bukanlah produktifitas. Apakah perkembangan bisa muncul dari tumpukan kenegatifan seperti ini? Pasti nggak, kan?

Sebenarnya, teknologi dibuat demi memudahkan manusia. Jika dipikirkan lebih jauh, semua tergantung bagaimana kita menyikapinya. Ibaratkan sebuah senjata, jika ada yang terluka, apakah salah senjatanya? Bukan, kan? Yang salah adalah orang yang menggunakan senjatanya. Hal ini sama dengan yang terjadi pada perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi. Sebagian besar dari kita cenderung bersikap terbuka teknologi informasi dan komunikasi seperti media sosial, namun yang jadi masalah adalah cara dari sebagian orang yang menggunakannya itu tadi.

Hal ini tentunya dibahas oleh Pak Jokowi secara tegas. Beliau mengatakan kepada masyarakatnya agar berhenti melakukan hal tersebut: “Kita selalu mengembangkan negative thinking kita kepada yang lain, selalu su’udzon kepada yang lain. Fitnah, kabar bohong. Apakah ini mau diterus-teruskan?”

Lalu, Pak Presiden pun membandingkan Indonesia dengan negara lain yang punya visi lebih jelas dalam mengembangkan teknologi mereka. Beliau mencontohkan tokoh Elon Musk.

Elon Musk via CNBC.com

Beliau membahas bahwa Elon Musk telah membuat teknologi untuk menjelajah ruang angkasa dan membandingkan dengan keadaan di Indonesia: “Bagaimana dia mengelola ruang angkasa agar berguna bagi manusia. Kita masih berkutat pada hal-hal yang tidak produktif. Urusan demo, urusan fitnah, urusan hujat menghujat yang tidak produktif,” ujarnya.

Kinerja para menteri juga ikut disorot oleh Pak Jokowi, khususnya yang mengurusi para nelayan dan petani Indonesia. Menurut beliau, kurang ada perkembangan teknologi di bidang perikanan dan pertanian yang bisa menaikkan taraf hidup masyarakat nelayan dan petani: “Nelayan, misalnya, bagaimana kita membawa mereka ke off shore. Aqua culture, misalnya. Petani juga kita bawa ke modern. Kita hanya terus menerus, masalah irigasi masih enggak rampung-rampung. Masalah benih enggak rampung-rampung. Nelayan masalah cantrang enggak rampung-rampung. Kita mau ke mana?”

Sebagai solusinya, masalah-masalah di atas bisa diselesaikan kalau saja masyarakat dan birokrasi pemerintah punya kedisiplinan serta etos kerja yang baik. “Inilah yang harus kita bangkitkan. Disiplin nasional. Etos kerja. Harus kita ubah. Mindset kita juga harus kita ubah. Enggak bisa kita seperti yang kemarin-kemarin. Saya sudah gregeten betul dengan masalah-masalah yang tidak produktif itu,” ujar Pak Jokowi.

via pexels.com

Kalau buat kita para generasi millennial, kita bisa turut kontribusi pada keproduktifan negara ini dengan menggunakan teknologi untuk hal-hal yang berguna yang lebih produktif. Ada baiknya kita manfaatkan teknologi yang ada dengan lebih bijak. Hal ini bisa dimulai dari hal kecil sepeti media sosial. Kita bisa mulai lebih bijak jika membaca informasi yang kita dapat dan lebih mem-filter hal-hal yang kita ucapkan di internet. Jika mau sharing infomasi, cek dulu kebenarannya sebelum dibagikan ke orang lain, dan jika menemukan sesuatu yang memang negatif, sikapilah dengan kepala dingin. Lalu, kamu bisa membuat platform medsos untuk edukasi dan membagikan hal-hal berguna seperti karya fotografi kamu, karya puisi kamu, cerita pendek, hasil catatan kamu setelah mendatangi suatu acara, atau kamu juga bisa bagikan analisis kamu pada suatu film yang kamu buat di blog kamu, dan masih banyak lagi kemungkinannya. Jadi, supaya lebih produktif, adanya teknologi informasi ini jangan hanya sekadar digunakan untuk ajang selfie saja, hehe.

Intinya, potensi teknologi, khususnya teknologi informasi, bisa lebih dikembangkan jika manusianya juga turut berkembang dan membantu orang lain disekitarnya untuk berkembang juga. Dari sini, ide-ide baru serta perkembangan yang lebih pesat akan terjadi.

Maka dari itu, mulai dari sekarang, yuk kita kurangi hal-hal yang menghambat produktifitas kita dan menggunakan teknologi yang ada dengan lebih bijaksana. Langkah sederhana yang bisa kita coba yaitu meningkatkan etos kerja serta disiplin dalam menjalani segala kewajiban yang kita punya! Yuk, jadi generasi yang lebih produtif supaya bisa membuat Indonesia lebih maju!

Sumber: Kompas.com

 

Komentar:

Komentar