Sejarah dari Groupie, Ketika Penggemar Musik Rela Melakukan Apa Saja demi Idolanya

Apa pun itu, termasuk...

:

Di kancah permusikan, peran penggemar fanatik sangatlah besar untuk musisi. Selain memberikan dukungan moral dan materi, penggemar juga seringkali memberikan dukungan langsung pada musisi pujaannya. Seringkali karena saking fanatiknya, seorang penggemar rela melakukan apa saja demi mendekatkan diri dengan idolanya.

Contohnya, mereka yang memaksakan diri untuk bertemu langsung dengan idolanya. Entah itu dengan cara menyusup ke belakang panggung, ruang tunggu artis, atau rumah musisi tersebut.

Tak jarang setelah menempuh berbagai cara, seorang penggemar fanatik akan memiliki hubungan dekat dengan musisi yang dia sukai. Dia bahkan bisa saja terlibat dalam perjalanan kehidupan dan karier musisi tersebut. Penggemar yang seperti inilah, mereka yang rela melakukan apa saja demi idolanya, dan mereka yang terlibat dalam kehidupan pribadi para musisi, yang biasanya disebut dengan istilah groupie.

“Bang, aye ikut dong naik odong-odong.”/via jumpic.com

Istilah groupie sebenarnya merujuk kepada penggemar musik yang selalu muncul di mana pun musisi idolanya berada. Istilah ini pertama kali digunakan sekitar akhir tahun 60-an di saat musik rock n’ roll tengah berada dalam puncak keemasannya.

Menurut beberapa sumber, ada yang bilang bahwa istilah groupie pertama kali muncul di novel The Company She Keeps karya Mary McCarthy yang terbit tahun 1965. Di novel tersebut, McCarthy menggunakan istilah groupie untuk perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan beberapa musisi. Ada juga yang mengatakan bahwa istilah groupie pertama kali digunakan oleh bassist grup musik Rolling Stones, Bill Wyman, untuk merujuk pada sosok “perempuan yang ditemui saat sedang tur”.

Sebenarnya groupie lebih sering dikaitkan dengan imej negatif. Karena di awal kemunculannya, groupie selalu identik dengan sifat mereka yang mau melakukan apa saja demi idolanya. Cara yang paling umum mereka lakukan adalah dengan melayani nafsu biologis dari sang idola. Apalagi dengan gaya hidup rock n’ roll yang terkesan bebas dan liar, groupie berkembang jadi salah satu elemen yang selalu identik dengan rock n’ roll.

Selain seks bebas, penggunaan obat-obatan terlarang juga jadi hal yang sulit dipisahkan dengan groupie. Di tahun 70-an, narkoba sangat lumrah digunakan oleh para musisi dengan dalih untuk sarana rekreasi atau proses kreatif. Penggunaan narkoba sudah pasti berimbas juga pada orang-orang di sekitar mereka yang juga jadi terbawa dengan gaya hidup bebas. Saat diwawancarai ABC News, Chris Odell groupie legendaris yang sempat mengikuti perjalanan The Beatles dan Rolling Stones – mengaku kalau penggunaan narkoba oleh para groupie memang sengaja dilakukan dengan tujuan “menyamakan frekuensi” mereka dengan kehidupan dan obrolan para musisi.


Citra negatif yang lekat dengan groupie tak berhenti sampai di situ. Ada beberapa kejadian saat  groupie bisa menghancurkan karier dari seorang musisi. Salah satu kejadian yang paling terkenal adalah hubungan antara groupie bernama Anita Pallenberg dengan gitaris Rolling Stone, Brian Jones, di akhir tahun 60-an.

Kiri ke kanan: Anita, Brian, Anita (lagi), dan Keith/via people.com

Anita pertama kali bertemu dengan Rolling Stones di tahun 1965. Dan tak butuh waktu lama sampai dia berteman dengan seluruh anggota band rock legendaris tersebut. Seiring berjalannya waktu, Brian Jones yang terkesima dengan Anita pun mulai menjalin hubungan asmara dengannya.

Namun kehidupan cinta mereka tak terlalu indah. Brian adalah seorang pencandu narkoba yang kronis. Karena pengaruh narkoba pula, dia sering melakukan tindak kekerasan pada Anita. Anita yang lama-kelamaan tak kuat menerima perlakuan Brian akhirnya meminta pertolongan pada anggota Rolling Stones yang lain, Keith Richard.

Setelah menyelamatkan Anita dari tindakan semena-mena Brian, akhirnya malah Keith yang menjalin hubungan romansa dengan Anita. Tak bisa menerima kenyataan bahwa Anita lebih memilih Keith, Brian pun jatuh ke lubang depresi. Saking depresinya Brian, dia semakin kecanduan narkoba. Dan hal itu membuat kemampuan bermain musiknya semakin menurun. Walhasil dia harus keluar dari Rolling Stones karena dengan kondisi fisik dan mentalnya yang hancur, dia tak mampu lagi bermusik.

Namun di belakang semua citra dan kejadian berbau negatif, ada juga kejadian di mana groupie memberikan kontribusi positif, baik untuk kehidupan pribadi maupun karier dari musisi. Seperti yang dijelaskan Pamela Des Barres dalam wawancaranya dengan The Guardian, saat menjadi groupie The Who, dia kerap kali menyelematkan drummer Keith Moon dari perilakunya yang liar.

Keith dan Pamela/via theguardian.com

Di balik keliarannya, Keith memang butuh seseorang yang bisa mendengarkan apa yang dia inginkan. Di momen seperti itulah Pamela selalu berada di samping Ketih, untuk mendengarkan dan menenangkan musisi yang dianggap sebagai salah satu pemain drum legendaris itu.

Sosok Chris O’Dell juga bisa menjadi contoh ketika groupie bisa menjadi teman bisnis yang baik. Chris O’Dell memulai kariernya sebagai pegawai di Apple Music pada tahun 1968. Berawal dari seorang pegawai yang ditugaskan untuk membuat kliping berita mengenai The Beatles, Chris akhirnya mendapatkan peningkatan karier sebagai asisten pribadi George Harrison, gitaris The Beatles.

Namun Chris juga mengaku kalau jalan untuk menaiki jenjang karier tersebut tak mudah. Dia harus bertemu dengan banyak orang dan memberikan “jasa ekstra” untuk mencapai posisi tersebut. Meskipun begitu, Chris merasa bahwa tak ada yang salah dengan menjadi groupie selama dia memang bekerja dengan baik untuk mencapai tujuan kariernya.

Chris dan George/via dailymail.co.uk

Gimana pendapat kamu tentang groupie? Saya sendiri nggak akan menghakimi salah atau benarnya gaya hidup mereka. Tapi dalam budaya timur, gaya mereka tentu bukan sesuatu hal yang umum kita temukan, bukan?

 

Komentar:

Komentar