Percaya atau Nggak, 7 Praktik Pengobatan Kuno yang Mengerikan Ini Benar-Benar Pernah Terjadi

Untung teknologi kedokteran zaman sekarang sudah canggih

:

“Sehat itu mahal.” Kamu pastinya udah gak asing lagi dengan ungkapan ini.

Yup, menjaga kesehatan itu sebenernya gak bisa dibilang susah. Tapi kalau sekalinya sakit, seenggaknya kamu mesti ngerogoh kocek buat beli obat atau bahkan pergi ke rumah sakit. Makanya ada ungkapan sehat itu mahal.

Tapi di sisi lain, kita beruntung hidup di zaman modern ini. Dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan di bidang medis yang kita punya sekarang, kita bisa mendapatkan metode pengobatan yang lebih efektif dan efisien dibandingkan zaman dulu. Ambil contoh penggunaan anestesi atau obat bius dalam praktik operasi yang pertama kali diterapkan pada akhir abad ke-19. Coba bayangin ketika anestesi belum ditemukan sebelumya. Pasien yang menjalani pembedahan bakal sepenuhnya sadar dan tentu saja merasakan sakitnya proses pembedahan. Duh, ngeri ya.

Nah, sekarang kita coba mundur lebih jauh ke belakang, kira-kira sekitar ribuan tahun yang lalu…

Orang-orang pada saat itu terbiasa mencampurkan unsur-unsur klenik dan supernatural dalam praktik pengobatan mereka. Bahkan beberapa diantaranya bisa dibilang aneh, seperti 7 praktik pengobatan kuno di bawah ini yang dilansir dari History.

1. Trepanation

via look4ward.co.uk

Sekitar 7000 tahun yang lalu, banyak orang terlibat dengan praktik pengobatan yang satu ini. Trepanation, atau trepanasi dalam bahasa Indonesia, adalah praktik pembedahan dengan cara melubangi tengkorak untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Praktik ini termasuk teknik pembedahan paling awal yang dikenal umat manusia dan salah satu yang paling mengerikan.

Ilmuwan zaman sekarang cuma bisa berspekulasi kenapa dulu praktik ini dilakukan pada pasien. Teori yang paling populer mengatakan lubang tengkorak dari praktik trepanasi dibuat sebagai jalan keluar buat roh jahat yang membuat pasien menjadi sakit. Hiii.

Sedangkan argumen lain menyebutkan trepanasi gak lebih dari sekedar operasi biasa untuk menyembuhkan sakit kepala, epilepsi, bengkak, dan pendarahan di kepala. Tengkorak-tengkorak yang ditemukan di wilayah Peru membuktikan trepanasi juga merupakan pengobatan darurat untuk membersihkan bagian-bagian dari tengkorak yang rusak akibat benturan.

Praktik pengobatan ini memang terbilang ekstrim dan sangat mengancam keselamatan pasien. Tapi percaya atau tidak, penelitian membuktikan banyak pasien trepanasi yang selamat dan menjalani kehidupannya seperti biasa.

“Dok, kok kepala saya sakit ya?”

“Oh sini saya lubangi”

“Lubangnya dua ya, dok!”

Hmm..

2. Obat Kanibal

via ancient-origins.net

Bayangin kalau kamu sakit dan pergi ke dokter, terus kamu dikasih resep kayak gini:

  1. Pil lemak manusia, 3×1 diminum sesudah makan
  2. Sirup darah manusia, 2×1 diminum sesudah makan
  3. Ekstrak tulang manusia, 2×1 diminum sebelum makan

Pasti kamu bakal langsung kabur dan gak bakal pernah balik lagi ke dokter tadi, hehe.

Tapi guys, meski gak seabsurd skenario di atas, jenis pengobatan semacam ini emang pernah ada pada masanya dulu. Dokter (atau lebih tepatnya tabib) zaman kuno sering nganjurin dan ngasih obat ke pasien yang dibuat dari bagian tubuh manusia, sebab mereka percaya ada kekuatan magis yang terkandung di dalamnya.

Konon, dengan mengonsumsi bagian tubuh orang yang sudah mati, pasien juga menyerap kekuatan roh dari orang mati tersebut yang bertujuan untuk meningkatkan vitalitas dan kesehatan tubuh pasien.

Sejarah telah mengungkap para tabib abad 12 banyak yang menyimpan “mummy-powder” sebagai koleksi obat-obatan mereka. Obat berbentuk bubuk ini terbuat dari ekstrak mumi Mesir yang telah diangkat dari kuburannya. Ada pula orang-orang Romawi zaman dulu percaya bahwa darah dari gladiator yang tewas bisa nyembuhin penyakit ayan. Sedangkan di Inggris, ada Raja Charles II (1630-1685) yang terkenal akan hobinya dalam meneguk “King’s Drop“, yaitu ramuan kesehatan yang terbuat dari alkohol dan tengkorak manusia yang sudah dihancurkan.

Zaman dulu jadi orang sakit bisa berakibat jadi kanibal juga, ya.

3. Membuang Darah

via cnn.com

Selama ribuan tahun praktisi medis percaya bahwa penyakit juga bisa diakibatkan oleh kondisi darah yang buruk. Oleh karena itu, praktik pembuangan darah pun mendapatkan posisinya di daftar ini.

Walaupun praktik ini masih ada sampai sekarang, tapi penerapannya gak “seceroboh” ribuan tahun lalu. Praktik pembuangan darah kini lebih terkontrol dan cuma diterapkan pada pengobatan penyakit tertentu.

Sedangkan zaman kuno dulu, praktik pengobatan ini terbilang cukup populer. Tabib terkenal seperti Hippocrates dan Gelen di Yunani berpendapat bahwa di dalam tubuh manusia terdapat empat zat utama; yaitu empedu kuning, empedu hitam, lendir, dan darah. Keempat zat ini mesti dijaga keseimbangannya supaya tubuh menjadi sehat.

Nah, berangkat dari teori tersebut, pasien yang sebenarnya cuma sakit demam bisa didiagnosa kelebihan jumlah darah oleh dokternya. Jadi untuk mengembalikan “keharmonisan” empat unsur tadi, sang dokter bakal motong pembuluh arteri pasien dan ngebiarin darah pasien ngucur gitu aja. Hmm..

Pada zaman pertengahan, dokter-dokter banyak yang menyarankan praktik pembuangan darah untuk menyembuhkan segala macam penyakit; mulai dari sakit tenggorokan sampai wabah mematikan. Bahkan tukang cukur zaman pertengahan juga masukin praktik ini di daftar menu pelayanannya. Jadi selain nyukur rambut sama jenggot, orang kuno dulu juga bisa sekalian buang darah kotor di salon.

Praktik ini cukup berbahaya dan bisa mengakibatkan pasien mati kehabisan darah. Meskipun begitu, sampai abad 19 praktik pengobatan ini masih bertahan.

4. Merkuri

via theconversation.com

Merkuri atau air raksa adalah zat logam berbahaya yang kalau masuk ke dalam tubuh bisa mengakibatkan kematian. Tapi percaya atau enggak, orang-orang zaman dulu yakin kalau merkuri bisa mengobati berbagai macam penyakit.

Para tabib Tiongkok abad 2 juga percaya kalau merkuri cair dan merkuri sulfida berguna untuk memperpanjang umur dan menambah vitalitas manusia. Bahkan sebagian tabib menjanjikan keabadian dan kesaktian berjalan di atas air kepada pasiennya, asalkan mau meminum sebuah ramuan yang terdiri dari zat merkuri, arsenik, dan sulfur. Hmm, menarik nih.

Salah satu kasus dalam sejarah tentang mitos merkuri yaitu kematian kaisar Tiongkok bernama Qin Shi Huang. Sang kaisar meninggal setelah menelan beberapa pil merkuri racikan tabibnya yang diklaim bisa bikin hidupnya abadi.

Merkuri juga pernah “populer” di Eropa pada masa Renaisans sampai awal abad ke-20. Nah, di Eropa, merkuri sering digunakan sebagai obat penyakit menular seksual seperti sifilis dan sejenisnya. Beberapa cerita melaporkan bahwa pengobatan merkuri cukup ampuh dalam menekan potensi penularan sifilis pada waktu itu. Tapi di sisi lain, banyak juga pasien yang meninggal akibat hati dan ginjal yang rusak karena keracunan merkuri.

5. Rahim yang Hidup

via ugandansatheart.blogspot.com

Orang-orang Yunani kuno percaya kalau rahim bukan sekedar organ tubuh biasa. Mereka mengibaratkan rahim seperti makhluk lain yang hidup di dalam tubuh wanita, dan punya kehendak sendiri. Berdasarkan tulisan Plato dan Hippocrates, ketika seorang wanita terlalu lama melajang, rahimnya bisa “ngamuk” dan lepas dari tempatnya. Kemudian, rahim yang marah ingin segera hamil itu juga bakal seliweran di dalam badan wanita, dan akhirnya bisa mengakibatkan sesak nafas, kejang-kejang, dan histeria.

Ngeri deh ngebayanginnya.

Nah, supaya kaum hawa Yunani kuno gak ngalamin hal yang mengerikan di atas, mereka dianjurkan untuk menikah di usia muda dan melahirkan anak sebanyak yang mereka bisa. Tapi buat wanita yang rahimnya udah kepalang “lepas”, para dokter dapat menyembuhkannya dengan metode pengobatan seperti mandi terapi, infusi, dan pemijatan. Selain itu, si dokter juga bakal mengolesi wewangian ke bagian intim wanita supaya rahimnya “jinak” dan kembali ke posisinya semula.

6. Salep Kotoran Hewan

via grunge.com

Orang-orang Mesir kuno juga punya sejarah menarik dalam bidang kesehatan dan teknologi medis nih. Pada zaman dulu masyarakat Mesir kuno sudah memiliki sistem pengobatan yang terorganisir dengan baik, lengkap dengan dokter-dokter yang mengkhususkan diri pada penyembuhan penyakit tertentu. Tapi anehnya, obat-obatan yang mereka anjurkan ke pasien sama sekali enggak mencerminkan kemajuan sistem yang mereka punya.

Darah kadal, tikus mati, lumpur, dan roti yang udah berjamur sering dipakai untuk salep dan balutan pada beberapa macam penyakit. Bahkan air liur kuda pada waktu itu menjadi obat mujarab untuk meningkatkan libido kaum hawa, hoho.

Yang lebih parah lagi, kotoran hewan dan manusia menjadi resep andalan para dokter Mesir kuno untuk mengobati berbagai macam penyakit dan luka, iyuwh. Berdasarkan catatan dari tahun 1500 sebelum masehi, dokter Mesir kuno percaya kalau kotoran keledai, anjing, rusa, dan lalat memiliki khasiat penyembuhan yang efektif dan mampu menangkal roh-roh jahat.

Buat kamu yang sering diganggu roh jahat, please jangan mencoba mitos pengobatan ini. Jangan deh!

Meski metode pengobatan ini menjijikkan dan bisa menyebabkan tetanus, tapi ternyata mikroflora yang terdapat dalam kotoran hewan tertentu mengandung zat antibiotik yang berguna untuk menekan pertumbuhan bakteri.

7. Pengobatan Tengkorak Ala Babilonia Kuno

via publicdomainpictures.net

Masyarakat Babilonia kuno percaya kalau sebagian besar penyakit disebabkan oleh kekuatan iblis atau sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka di masa lalu. Dokter-dokter Babilonia lebih percaya pada mitos, dukun, dan pengusiran setan daripada pemikiran ilmiah. Makanya gak heran kalau praktik pengobatan Babilonia kuno erat kaitannya dengan hal-hal gaib.

Misalnya, kalau pasien menggertakkan giginya saat sedang tidur, dokter bakal mendiagnosa ada arwah anggota keluarga pasien yang ingin berkomunikasi melalui mimpi. Kemudian, supaya pasien enggak diganggu lagi sama arwah gentayangan, dokter bakal nganjurin pasien buat tidur bersama tengkorak manusia selama seminggu buat ngusir arwah tersebut.

Biar pengobatannya lebih manjur, si pasien juga disuruh nyium dan menjilati tengkorak sebanyak tujuh kali setiap malam. Hiiii…

Nah, itu dia tujuh praktik pengobatan ekstrim zaman kuno dulu. Percaya atau enggak, ketujuh praktik ini memang benar-benar terjadi dan sempat populer pada zamannya. Kesimpulannya, jadi orang sakit di zaman kuno dulu ternyata lebih gak enak. Jauh deh kalau mesti dibandingin sama zaman kita yang punya teknologi pengobatan lebih canggih dan efisien.

Inget guys, sehat itu mahal, bahkan sejak zaman nenek moyang kita dulu, hehe. Menurut kamu praktik pengobatan mana nih yang paling menarik?

854 Shares

Komentar:

Komentar