5 Kisah tentang Blunder Terbesar dalam Dunia Bisnis yang Patut Kita Jadikan Pelajaran

Salah perhitungan, uang melayang

:

Manusia memang nggak luput dari yang namanya kekhilafan. Ada kalanya kita berbuat salah, dan terkadang kesalahan itu bikin kita menyesal dalam waktu lama.

Khilaf pun nggak cuma terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tapi juga bisa kita temukan di bidang bisnis. Memang sih, pepatah bilang kesalahan dan kegagalan itu wajar dialami dalam dunia bisnis. Tapi kita juga harus ingat, kalau ngomongin bisnis, pasti ujung-ujungnya berurusan sama uang. Salah ambil keputusan, uang bisa melayang.

Tapi dari waktu ke waktu, ada saja pengusaha yang merugi atau menyia-nyiakan kesempatan besar buat dapat keuntungan melimpah. Nah, kalau kamu mau menjajal karier di bidang bisnis, 5 kisah ini bisa kamu jadikan pelajaran. Yuk langsung kita simak 5 kesalahan bisnis paling terkenal yang tercatat dalam sejarah.

1. Google pernah “diobral”, tapi…

via washingtonexaminer.com

Kalau Google bisa saya beli dengan harga Rp1 juta, saya beli dah sekarang juga. Apa? Nggak mungkin katamu? Iya juga sih.

Sebagai perusahaan ternama, harga Google tentu nggak sama dengan ongkos makan sekeluarga di restoran seafood. Tapi faktanya, di tahun 1999 sempat ada perusahaan yang punya kesempatan membeli Google dengan harga miring. Perusahaan itu bernama Excite.

Untuk browsing di internet, netizen era 90-an lebih sering memakai Yahoo atau Excite ketimbang Google. Waktu itu Google masih sangat muda dan belum tersohor.

Suatu hari pendiri Google, Larry Page, menawarkan perusahaannya ke Excite dengan harga $750.000 (sekitar Rp10,5 miliar) saja. Salah satu ketentuan pembelian mengharuskan Excite untuk memakai teknologi Google di mesin pencarinya. Tapi sayang, tawaran Larry Page itu ditolak.


Pada akhirnya Excite dibeli oleh Ask.com. Sedangkan Google sekarang punya aset yang harganya 173.333 kali lebih tinggi dari harga yang ditawarkan Larry Page pada Excite di tahun 1999.

2. Perusahaan rekaman yang menolak The Beatles

via yup-yup-mark.blogspot.com

Saya baru tahu band sekelas The Beatles pernah ikut audisi rekaman. Saya kira mereka langsung manggung, diteriakin cewek-cewek, terus dihujani tawaran rekaman gitu. Tapi ternyata band kelas dunia itu pernah ikut audisi, dan mereka sempat merasakan pahitnya ditolak!

Jadi ceritanya, pada Desember 1961 duo pencari bakat dari Decca Records, Mike Smith dan Dick Rowe, pergi ke Liverpool buat nonton konser band lokal, The Beatles. Merasa The Beatles punya talenta, Smith dan Rowe lantas mengundang John Lennon dan kawan-kawan buat ikut audisi di London. Di dapur rekaman, The Beatles memainkan 15 lagu, lalu pulang dan menunggu hasil audisi.

Beberapa minggu kemudian, Rowe kasih kabar ke manajer band kalau labelnya nggak tertarik buat menaungi The Beatles. Alasannya lagu-lagu mereka terdengar kayak band populer The Shadows. Terus Rowe melanjutkan, “Lagian sekarang bukan zamannya band gitar.”

Hmm… benar-benar keputusan yang buruk. Selain gagal menilai talenta, Rowe dan Decca Records juga membuang peluang bisnis yang menguntungkan.

Untungnya, EMI Records langsung menggaet The Beatles. Dari situlah masa kejayaan band gitar kembali dimulai. The Beatles akhirnya menjelma jadi salah satu band paling populer (dan terlaris) sepanjang masa.

3. Napoleon menjual wilayah Louisiana

via amazing.zone

Punya kekuatan buat menaklukkan negara nggak menjamin seseorang jadi pebisnis ulung. Hal itulah yang dialami Napoleon Bonaparte.

Pada tahun 1803, Napoleon sedang kerepotan mempertahankan daerah kekuasaan Prancis di New World (Karibia dan benua Amerika). Waktu itu jumlah tentara Napoleon mulai berkurang, dan Haiti jadi daerah yang paling bergejolak akibat pemberontakan budak.

Enggan melepas Haiti dari kekuasaannya, Napoleon memperkecil potensi konflik dengan menjual wilayah Lousiana ke Amerika Serikat. Louisiana dilepas dengan harga $15 juta, atau sekitar $284 juta di mata uang sekarang (sekitar Rp4 triliun). Perusahaan real estate Cushman & Wakefield memperkirakan saat ini harga wilayah Louisiana (termasuk 15 negara bagian AS dan dua provinsi Kanada) mencapai $750 miliar.

Sementara itu Haiti, wilayah yang dipertahankan Napoleon mati-matian, memperoleh kemerdekaan satu tahun usai Napoleon menjual Louisiana.

4. Penerbit yang menolak novel Harry Potter

via ew.com

Sebagian dari kamu mungkin pernah baca novel fantasi karya J.K. Rowling Harry Potter and the Philosopher’s Stone ‘kan? Yup, itulah novel pertama dari seri kisah bocah berkacamata bulat. Tapi di balik kesuksesannya, ternyata J.K. Rowling sempat kesulitan mencari penerbit yang bersedia menerbitkan novel pertamanya itu.

Belasan penerbit bergengsi termasuk HarperCollins dan Penguin Books sempat menolak mentah-mentah naskah Harry Potter and the Philosopher’s Stone. Padahal Rowling yakin karyanya itu bakal laku keras.

Buat penggemar Harry Potter, pasti berat rasanya membayangkan novel favorit kamu nggak pernah terbit. Tapi untungnya, perusahaan penerbit asal Inggris, Bloomsbury bersedia mencetak Harry Potter and the Philosopher’s Stone. Alasannya cukup menarik. CEO Bloomsbury dipaksa anak perempuannya yang berusia 8 tahun buat menerbitkan karya Rowling itu. Si gadis jadi fans berat Harry Potter setelah baca naskah J.K. Rowling.

5. Blockbuster “digeleng” Netflix

via sociallipstick.com

Generasi 90-an merupakan saksi hidup gimana asyiknya nonton film yang disewa dari rental VCD/DVD. Di Amerika juga sama, toko rental kayak Blockbuster Video dulu laris manis. Waktu Netflix baru muncul di internet pun generasi muda Amerika lebih milih nonton film pakai cara manual: sewa di rental. Soalnya nonton film lewat online streaming dulu belum populer. Maka dari itu di tahun 2000 Netflix mengajak Blockbuster buat menjalin kerja sama bisnis.

“Apa Bapak dan Ibu bersedia kalau film online Blockbuster ditayangkan di Netflix? Jadi Bapak dan Ibu tinggal fokus sama film di toko rental. Kan lumayan nggak usah susah-susah kirim DVD lewat e-mail.” Kira-kira begitu kata perwakilan Netflix pas menyambangi kantor Blockbuster Video.

Merasa perusahaannya lebih superior, eksekutif Blockbuster malah ketawa usai mendengar tawaran dari Netflix. Nasib pun berbalik. Sekarang Netflix jadi perusahaan besar di layanan video streaming dengan menghadirkan film seri berkualitas (ini tergantung selera, sebenarnya). Sementara Blockuster? Hey, masih zaman ngerental video?

Jadi pebisnis itu memang harus berjiwa visioner. Kita harus bisa memperhitungkan keuntungan yang nggak datang secara instan. Jangan tanya saya gimana caranya. Saya bukan pebisnis atau Tung Desem Waringin.

Komentar:

Komentar