Mari Kita Membahas soal Clickbait: “Rahasianya Terkuak, Artikel Ini Bakal Bikin Kamu Melongo!”

Mau dibikin melongo atau tercengang? Terserah. Yang penting nomor 5 paling jegeer!

Hai… apa kamu membuka artikel ini karena berharap bakal dibikin melongo? Duh, kalau gitu artinya kamu sudah terjebak sama judul clickbait. Mohon maaf, saya nggak punya sesuatu pun yang bisa bikin kamu melongo. Lagian coba ingat-ingat, apa kamu pernah dibikin melongo hanya karena baca artikel yang dari judulnya menjanjikan bakal bikin kamu melongo?

Ah sudahlah, nggak usah kamu jawab. Ayo kita bertanya saja pada Predator.

Hey, Predator…! Apa kamu pernah dibikin melongo setelah baca artikel?

“Uggyaaaaah…!”

Tuh lihat, Predator sampai marah kalau diingatkan soal clickbait.

Ya, clickbait itu terkadang memang menyebalkan. Semenyebalkan orang yang cengengesan waktu dia terlambat datang sampai dua jam, padahal dia sendiri yang bikin janji.

Tapi apa itu sebenarnya clickbait? Dan kenapa ada orang yang masih saja membuka artikel atau video, padahal dia tahu betul judulnya mengandung unsur clickbait?

Apa itu clickbait?

Clickbait itu punya banyak definisi. Tapi kita batasi saja definisinya sebagai judul artikel/berita/video yang mengundang calon pembaca atau penonton untuk mengklik.

“Bukannya dari zaman dulu banyak judul konten yang dibuat untuk menarik perhatian dan rasa penasaran orang?” Dugaan kamu betul sekali. Tapi…

Judul clickbait biasanya diselipi kata-kata yang bombastis, lebay, dan hiperbolik. Penggunaan kata-kata yang bombastis dan hiperbolik itu tentu saja berfungsi untuk menarik perhatian kamu, si pembaca atau penonton, tapi dengan cara yang amat sangat berlebihan.

Masalah lainnya, judul clickbait itu seringkali nggak sesuai sama isi. Judulnya saja bombastis, tapi isi kontennya mengecewakan alias nggak mencerminkan judul. Dengan kata lain, kamu nggak akan menemukan apa yang dijanjikan dalam judul saat kamu membuka konten.

Dari sini kita bisa tarik benang merah: clickbait itu sangat berhubungan dengan kekecewaan. Yup, jika kamu membuka artikel dengan judul clickbait, kemungkinan besar kamu bakal merasa kecewa dan tertipu setelah membaca keseluruhan isi dari artikel tersebut.

Contoh clickbait

Di sini saya nggak akan kasih contoh berbahasa Indonesia. Saya hanya menyajikan contoh judul clickbait dari konten berbahasa Inggris.

Terjemahan: “Apa yang dia lakukan hanyalah menyeret piring menyeberangi kolam. Tapi apa yang terjadi selanjutnya bikin saya tercengang!”

Pertanyaan saya, buat apa dia nyeret-nyeret piring menyeberangi kolam renang? Nyuci piring? Dan kenapa orang yang nyeret-nyeret piring menyeberangi kolam sampai diberitakan?

“Perempuan ini pergi meninggalkan anaknya di dalam mobil. Tapi dia tak menyangka hal mengerikan INI akan terjadi!”

Hal mengerikan yang terjadi: Godzilla dan burung purba pterodactyl tiba-tiba muncul dan menghancurkan dunia; peradaban manusia yang sudah modern kembali ke zaman purba; Sauron dan Dajjal keluar dari dalam tanah, lalu mereka berduel hingga salah satu dari mereka mati kehabisan darah.

“Perempuan ini tidak tahu apa yang ada di dalam tubuhnya, hingga mereka memotong celananya! Bikin kaget!”

UWAAAAW!!! OmyGod, OmyGod, OmyGod… Aku nggak akan bisa tidur kalau nggak cari tahu apa yang ada di dalam tubuhnya! Iiiiih…. Bikin penasaran!

“Bayi bebek melihat air untuk pertama kali dalam hidup mereka, kamu PERCAYA apa yang mereka lakukan selanjutnya?”

Bebek-bebek itu jadi bisa ngomong dalam lima bahasa (bahasa Latin salah satunya), menyembuhkan orang sekarat, mengeluarkan jurus Kamehameha, mendatangkan taufan penghancur, dan mampu berubah wujud jadi ayam… saya harap sih seperti itu.

Kalau pengin lihat daftar lengkapnya, kamu bisa cek di Ranker.

Bagaimana tanggapan kamu? Konyol bukan terasanya judul-judul clickbait tersebut? Meskipun begitu…

Kenapa orang-orang (mungkin termasuk kamu) masih saja terjebak oleh judul clickbait?

Dari laporannya yang dimuat di Wired, Bryan Gardiner menyebut beberapa alasan kenapa orang masih suka membuka konten berjudul clickbait, yang salah satunya adalah karena pengaruh emosi dalam penilaian intuitif.

Ya Tuhan, apa itu penilaian intuitif? Jujur saja, itu kata-kata yang sulit. Jadi mari kita bahas lebih jauh lagi. Beberapa faktor kenapa kita bisa terjebak oleh clickbait di antaranya…

Faktor pertama: emosi

via aurora.dawn.com

Pertama-tama, saya mau mengingatkan kamu yang masih suka mencampuradukkan pengertian emosi dengan amarah. Emosi itu nggak sama dengan marah. Marah termasuk ke dalam emosi, tapi emosi nggak sama dengan marah. Emosi itu adalah perasaan. Rasa marah, senang, bahagia… semuanya termasuk ke dalam emosi.

Kita sebagai pembaca sering terjebak oleh clickbait, bahkan ketika kita sadar bahwa judul konten yang kita klik itu bersifat clickbait. Hal itu bisa terjadi karena emosi yang kita miliki dan pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat kita harus memilih sesuatu, kata Jonah Berger, peneliti dari Universitas Pennsylvania, AS.

Kalau kamu membuka judul artikel clickbait yang memicu rasa amarah, kata Gardiner, ketika itulah clickbait berhasil memancing emosi kamu untuk membuka artikel. Misalnya suatu ketika kamu melihat judul artikel yang berbunyi, “Selebriti ini melecehkan agama tertentu, kamu pasti nggak percaya apa yang dikatakannya.” Saat membaca judul tersebut, kemungkinan besar kamu bakal marah. Dan ketika amarah kamu terpancing, ibaratnya tinggal menunggu waktu hingga kamu membuka artikel tersebut.

Atau kalau kamu termasuk orang yang sering membuka artikel/video dengan tujuan untuk mengejek di kolom komentar (atau di dalam hati), kamu bakal mudah terjebak oleh clickbait.

Pengaruh dopamine dan kenikmatan yang kita rasakan

via medium.com

Jika kita pernah merasa kecewa ketika membuka konten berbau clickbait, kenapa setelahnya kita masih saja terus terjebak oleh clickbait? Well, itu karena pengaruh dopamin.

Dopamin sendiri adalah neurotransmitter yang membantu kita mengontrol suatu bagian dalam otak; bagian yang mengatur penghargaan dan kenikmatan. Dalam kaitannya dengan clickbait, kita pinjam penjelasan dari Robert Sopolsky, ilmuwan neurosains dari Universitas Stanford:

“Dopamin bukanlah tentang kenikmatan; dopamin itu berhubungan dengan antisipasi saat menunggu kenikmatan. Dopamin adalah tentang mengejar kebahagiaan daripada kebahagiaan itu sendiri.”

Sekarang bayangkan saja kamu menemukan konten yang berjudul: “Merinding! Awalnya Kuntilanak Ini Diam Gak Bergerak, tapi Kamu Pasti Gak Nyangka Apa yang Terjadi Selanjutnya.”

Sebagian orang di dunia ini suka sama hal-hal yang menyeramkan. Dan dengan melihat kata-kata “Merinding”, “Kuntilanak”, dan “Apa yang terjadi selanjutnya”, saat itulah dopamin bekerja dalam otak kita. Intinya, kamu nggak mendapatkan kenikmatan saat melihat isi dari konten, tapi saat kamu membaca judul dari konten tersebut, kata Gardiner.

Prosesnya kira-kira seperti ini: membaca judul – memperoleh kenikmatan – membuka konten – merasa kecewa.

Hmm… ternyata ada alasan psikologis di balik jebakan clickbait. Wow, kamu pasti GAK NYANGKA, ‘kan?!

Sekarang ini memang sudah ada gerakan anti-clickbait. Contohnya ada akun Stop Clickbait di Facebook yang rajin menyindir judul-judul artikel clickbait. Tapi sepertinya clickbait belum bisa musnah seutuhnya dari dunia maya. Masih ada beberapa pihak yang membutuhkan clickbait, misalnya karena alasan page views. Sebaliknya juga, masih ada juga pembaca yang memang menyukai judul clickbait.

Malahan, karena semakin luasnya definisi clickbait, judul suatu konten yang bagus dan berkualitas pun terkadang disebut punya karakteristik clickbait

12 Shares

Komentar:

Komentar