Kisah Hidup Florence Foster Jenkins, Penyanyi Soprano yang Dianggap Punya Suara Terburuk di Dunia

Dengarkan dulu suaranya... penilaian diserahkan ke kamu

Sebenarnya nggak ada sesuatu yang sangat spesial dari penyanyi soprano era 1940-an ini, selain fakta kalau dia punya predikat sebagai penyanyi terburuk sepanjang masa. Di Amerika Serikat, Florence jadi sosok yang dihujat sekaligus dicintai oleh para musisi di zamannya. Dihujat karena suaranya yang jelek, dicintai karena dedikasinya terhadap musik dan kepribadiannya yang dermawan.

Perjalanan karier Florence dalam dunia musik (opera) sebagian besar dipengaruhi oleh uang dan status sosialnya yang tinggi. Meski punya teknik vokal yang kurang bagus, Florence selalu tampil percaya diri di atas panggung. Yaa… setidaknya sampai para kritikus musik mulai menonton penampilan Florence di puncak kariernya.

via hudba.zoznam.sk

Florence lahir dari kalangan keluarga kaya raya di Pennsylvania, Amerika Serikat, pada tahun 1868. Sebenarnya semenjak kecil Florence punya bakat di bidang musik, tapi bukan dalam hal bernyanyi, melainkan bermain piano. Ya, Florence adalah pianis muda yang brilian. Di usia 8 tahun dia sudah tampil di atas panggung. Bahkan Florence muda pernah tampil di Gedung Putih, disaksikan tokoh-tokoh penting Amerika Serikat termasuk Presiden Rutherford B. Hayes.

Tapi sayangnya, dedikasi Florence terhadap musik tak mendapat dukungan dari kedua orangtuanya. Ayahnya enggan membiayai pendidikan yang berguna untuk mengasah kemampuan bermusik Florence. Karena alasan tersebut, akhirnya Florence berpisah dengan orangtuanya, lalu tinggal bersama pria yang usianya jauh lebih tua, Frank Thornton Jenkins.

Di usia 18 Florence menikah dengan Frank, pernikahan yang akhirnya berujung bencana. Tanpa diduga Florence tertular penyakit sifilis dari suaminya. Sayangnya, proses pengobatan sifilis yang melibatkan zat merkuri membuat kepala Florence mengalami kebotakan di kemudian hari.

via lafemme.hu

Setelah berpisah dengan Frank, Florence mencoba menafkahi dirinya dengan bekerja sebagai guru piano. Tapi suatu ketika, Florence tak sengaja melukai lengannya sendiri. Nahasnya lagi, cidera lengan itu membuat Florence tak bisa lagi bermain piano.

Mengetahui anaknya sudah tak bersuami, sang Ibu mulai mengajak Florence berbaur dengan komunitas sosialita (masyarakat elite) New York. Di tahun 1909, Florence bertemu dengan aktor St Clair Bayfield yang kala itu berusia 34 tahun. Di tahun yang sama, Florence pun mendapat warisan melimpah dari ayahnya yang baru saja meninggal dunia.

Pertemuan dengan St Clair (yang kemudian jadi suami dan manajer pribadi Florence) dan harta warisan sang ayah jadi awal mula perjalanan Florence sebagai tokoh penting di dunia pertunjukan musik New York. Dengan uang pribadinya, setiap tahun Florence mengadakan pertunjukan musik di hotel-hotel mewah. Dia bahkan mendirikan Verdi Club, organisasi pengumpul dana bagi para musisi di kota New York. Dari sanalah Florence mulai menjajal kemampuannya sebagai penyanyi opera.

Sebagai orang terhormat di komunitasnya, Florence selalu kebagian jatah tampil di setiap pertunjukan. Tapi suara dan teknik vokal Florence begitu buruk. Nadanya pun sering meleset dari alunan musik pengiring. Beruntungnya Florence, kelemahannya itu selalu ditutupi oleh tepukan tangan dan pujian para anggota Verdi Club yang menikmati penampilan Florence sampai selesai. Bahkan jika ada penonton yang tertawa mendengar suara sumbang Florence, anggota Verdi Club yang ikut menonton bakal menutupi penghinaan itu dengan tepuk tangan serta sorakan.

Alasan di balik “kesetiaan” itu tak lain hanyalah uang. Musisi Verdi Club tak mau menyinggung hati Florence yang selama ini membantu biaya hidup mereka.

via alperiodico.cat

Karena sering mendapat pujian dan respons positif dari pendengar setianya, Florence terjebak dalam keyakinan palsu bahwa dirinya adalah penyanyi opera yang bagus. Dia pun jadi tak mampu menyadari segala kekurangan yang dimilikinya sebagai penyanyi.

Di penampilan panggungnya, Florence biasa memakai kostum yang dia sesuaikan dengan tema lagu. Salah satu yang paling populer saat Florence memakai sayap malaikat untuk cover albumnya. Ironisnya, album itu diberi judul The Glory of Human Voice yang artinya kira-kira Keagungan Suara Manusia.

Penasaran sama suara Florence Foster Jenkins, coba cek video berikut ini.

Selain kostum, Florence juga sering menyertakan bermacam properti di atas panggung. Di salah satu penampilannya, Florence tercatat pernah melempar bunga-bunga dari dalam keranjang ke arah penonton. Setelah bunga-bunganya habis, keranjangnya pun dia lempar. Perpaduan unik antara teknik vokal yang buruk dan aksi panggung yang ikonik membuat penampilan Florence melekat di benak para penontonnya. Belum lagi mengingat karier bernyanyi Florence yang dimulai saat usianya sudah senja.

Suatu ketika seseorang menyarankan Florence untuk menggelar konser solo di panggung megah Carnegie Hall, New York (entah dengan maksud meledek atau serius). Florence langsung merasa terobsesi dengan ide tersebut dan segera mewujudkannya. Tanpa diduga, 3000 tiket konser yang digelar tanggal 25 Oktober 1944 itu terjual habis dalam waktu dua jam saja. Pada saat itu Florence yakin ribuan menikmat musik akan datang dan memuji penampilannya. Tapi sayang, di antara penonton yang hadir, ada beberapa kritikus musik yang sebelumnya dilarang menonton konser Florence secara langsung.

Setelah konser berakhir, kritikus mulai menghujani Florence dengan komentar-komentar negatif. Beberapa kritikus bahkan menyampaikan pendapatnya dengan nada menghina.

“Dia berkeok dan berkokok (seperti ayam), (suaranya) memekik dan bergetar.”

“Dia tak bisa menyesuaikan nada dan tak bisa membaca ritme. Di nada tinggi suaranya sering menghilang begitu saja.”

Dua hari setelah konser tersebut, Florence mengalami serangan jantung yang diduga disebabkan oleh rasa sakit hatinya setelah membaca komentar pedas kritikus. Sebulan kemudian Florence meninggal dunia di usianya yang ke-76.

Suara dan teknik vokal Florence memang tak bisa dibilang bagus. Tapi tak bisa dipungkiri selama masa hidupnya, dia merupakan tokoh penting dalam perkembangan seni musik di New York sekitar tahun 1940-an. Di samping suaranya yang sumbang, dia punya dedikasi kuat terhadap dunia musik yang dicintainya.

via rogerebert.com

Tahun 2016 sebuah film biografi berjudul Florence Foster Jenkins dirilis. Film bergenre drama komedi tersebut diperankan oleh aktris kawakan Maryl Streep (sebagai Florene) dan Hugh Grant (sebagai St Clair). Buat kamu yang ingin tahu lebih jelas mengenai kehidupan Florence Foster Jenkins, boleh tuh ditonton filmnya.

52 Shares

Komentar:

Komentar